Menunggu Pembuktian Sylvinho Kepada Lyon

Foto: Eurosport.com

Setelah gagal mempertahankan status mereka sebagai pesaing terdekat Paris Saint-Germain (PSG) dalam tiga musim beruntun, Olympique Lyon akhirnya mendepak Bruno Genesio. Menghabiskan 12 tahun kariernya di Lyon sebagai pemandu bakat, asisten, dan kepala pelatih, Genesio akan memulai lembaran baru di 2019.

“Saya tidak akan meninggalkan sepakbola. Ini bukan akhir dari karier manajerial saya. Tapi saya merasa sudah tidak layak menangani Lyon. Saya tidak akan memberi detil lebih lanjut lagi terkait apa pembicaraan dengan presiden klub [Jean-Michel Aulas],” kata Genesio.

“Kami mengalami penurunan performa dengan hanya mengakhiri musim di peringkat tiga klasemen. Suporter dan media sama-sama mengungkapkan ketidakpuasan mereka. Kami ingin transparan dan ini adalah momen yang tepat untuk memulai lembaran baru,” jelas Aulas setelah mendepak Genesio.

Arsene Wenger, Laurent Blanc, hingga Jose Mourinho, awalnya disebut akan jadi nakhoda baru Lyon. Namun, Aulas ingin mempertahankan DNA Lyon. Seperti Genesio yang sudah 12 tahun terlibat di dalam Les Gones. Dirinya pun menunjuk Juninho Pernambucano sebagai direktur olahraga klub.

Tampil lebih dari 340 kali dan mencetak 100 gol selama kariernya sebagai pemain, Juninho jelas memiliki status legendaris di Lyon. Ia merupakan bagian dari tim yang mendominasi Ligue 1 bersama Sidney Govou dan Gregory Coupet.

Hingga 28 Mei 2019, nama Juninho bahkan masih tercatat sebagai salah satu pemain dengan jumlah penampilan terbanyak untuk Les Gones. Hanya Coupet (516), Govou (408) dan Anthony Reveillere (399) yang tampil lebih banyak dibandingkan Juninho.

Foto: Olympique et Lyonnais

Coupet jadi pelatih penjaga gawang Lyon sejak 2016. Sementara Govou dan Reveillere tidak melanjutkan karier mereka dibidang kepelatihan ataupun manajerial. Jadi Juninho pilihan paling masuk akal untuk mempertahankan DNA klub.

Didukung Bernard Lacombe dan Gerrard Houllier di balik layar, Juninho dipercaya bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Tugas pertamanya adalah menunjuk nakhoda baru untuk Lyon.

Tapi bukannya mendatangkan nama yang familiar dengan Lyon, Juninho justru menunjuk kompatriotnya di tim nasional Brasil, Sylvinho. Selama 16 tahun menjadi pesepakbola profesional, Sylvinho tak pernah mengenakan seragam Lyon. Kemampuan Juninho pun langsung diragukan.

“Kami ingin Lyon memiliki 50-70% lulusan akademi di tim utama. Kami juga ingin punya pelatih yang paham akan Lyon,” kata Aulas. Tapi Juninho menunjuk Sylvinho yang tidak pernah bermain untuk Les Gones. Aulas sadar bahwa ini adalah sebuah risiko. Tapi risiko yang berani ia ambil untuk menunjukan warna baru kepada Lyon.

“Kami adalah tim besar. Mustahil kami menjadi tim besar jika tidak berani mengambil risiko. Kami sudah berbicara dengan Juninho dan ia percaya kepada Sylvinho. Melihat dirinya, kami juga percaya bahwa Sylvinho punya ambisi dan talenta untuk memenuhi keinginan klub,” jelas Aulas.

Banjir Dukungan

Foto: L'Equipe

Pernah menjadi asisten Roberto Mancini di Inter Milan dan terlibat sebagai pelatih teknik tim nasional Brasil, Sylvinho bukanlah anak baru di dunia manajerial sepakbola. Beberapa pendahulunya pun memberi dukungan kepada mantan pemain Barcelona itu.

“Dia sudah siap untuk membuktikan diri. Dirinya adalah pelatih hebat. Hal yang paling saya suka dari dirinya adalah bagaimana ia mempersiapkan tim secara taktik. Sylvinho memiliki pemahaman sepakbola menyerang dan indah,” puji Mancini.

“Sylvinho adalah sosok yang pintar. Ia mungkin memecahkan tradisi Lyon. Tapi dia tetap pilihan yang tepat. Lagipula ada Juninho dan Claudio Cacapa juga yang akan membantu dirinya,” kata Emmanuel Petit yang pernah bermain bersama Sylvinho.

“Pemain-pemain Brasil memiliki stereotipe sebagai sekumpulan talenta yang gemar untuk bersenang-senang, berpesta. Tapi Sylvinho tidak seperti itu. Ia adalah sosok yang pintar dan sangat serius. Dirinya selalu menemukan cara untuk menjalankan tugasnya,” tambah Miguel Angel Lotina yang mendaratkan Sylvinho ke Celta Vigo dari Arsenal.

Sejak masih bermain, Sylvinho sudah digadang akan menjadi manajer setelah pensiun. Jadi tidak ada yang terkejut dengan pilihan Lyon. Masalah DNA, sebenarnya juga tidak sebesar yang disoroti oleh media. Sylvinho sudah memiliki pengalaman yang cukup.

Waktu Akan Menurunkan DNA Lyon

Seperti kata Petit, dia juga akan dibantu Cacapa dan Juninho yang lama membela Lyon. Salah satu pemandu bakat andalan Les Gones, Marcelo Dijan, juga berasal dari Brasil.

Sebelum hengkang ke Lyon (1993), Dijan merupakan pemain Corinthians. Salah satu pemain akademi yang berhasil diorbitkan klub berjuluk Time do Povo itu bersama Edu Gaspar dan Sylvinho. Jadi sebenarnya tidak ada masalah jika dirinya tidak pernah main untuk Lyon.

Lagipula keputusan utama Lyon akan selalu diambil oleh Aulas dan para direksi. Mereka yang ada di balik layar dan memiliki DNA Lyon merupakan pihak penentu dalam setiap pembelian dan penjualan pemain. Jadi Sylvinho hanya akan fokus dengan kondisi di ruang ganti dan performa tim.

Semoga saja dirinya bisa mendapatkan waktu dan kesempatan yang cukup di Lyon. Tidak seperti Thierry Henry yang terlalu dini untuk mengatasi ekspektasi AS Monaco sekalipun mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti Youri Tielemans dan Arsene Wenger.