Indonesia dan Kenangan Indah di Rizal Memorial Stadium

Foto: PSSI.org

Skuad Indonesia U-23 asuhan Indra Sjafri sudah tiba di Manila, Filipina, pada Kamis (21/11) malam. Kurang dari 24 jam setelah kedatangan, mereka langsung mengadakan sesi latihan pada Jumat (22/11) sore. Persiapan matang harus dilakukan mengingat pada penyisihan grup cabang sepakbola Sea Games 2019, mereka akan langsung bertemu Thailand.

Mengalahkan negeri Gajah Putih jelas menjadi kewajiban jika mereka ingin memenuhi target yaitu mendapatkan medali emas. Sudah 28 tahun Indonesia menunggu prestasi pada ajang ini. Sebuah puasa gelar yang terasa begitu panjang. Namun tiga kali melangkah ke final, mereka harus puas hanya menjadi runner-up. Dua dari tiga final tersebut, Indonesia kalah dari Thailand.

“Target tim dalam sebuah turnamen itu biasanya dibuat bertahap. Lolos grup dulu, lalu semifinal, jangan dipenggal sampai situ. Setelah itu final, dan baru juara. Meski begitu, karena saya menerima kontrak menjadi pelatih timnya, maka tujuannya adalah medali emas,” kata Indra Sjafri seperti dikutip dari Bolalob.

Tidak ada waktu yang lebih tepat bagi Indra Sjafri untuk mendapatkan medali emas Sea Games kecuali tahun ini. Pengalamannya yang bagus dalam turnamen asia tenggara menjadi modal mantan pelatih Bali United tersebut. Setelah menjuarai Piala AFF U-19 pada 2013, Indra menjadi juara pada ajang yang sama untuk kelompok U-22. Dalam tiga uji coba terakhir menghadapi Arab Saudi dan Iran, Indonesia juga tidak terkalahkan. Inilah yang membuat Indra begitu optimis menyambut laga pertama.

“Semua pemain tidak ada masalah. Persiapan sudah maksimal. Sudah beres semua, kami tinggal menghadapi pertandingan saja,”tuturnya.

Rasa percaya diri Indra Sjafri juga tidak lepas dari venue turnamen yang akan memakai Rizal Memorial Stadium. Tercatat, tiga kali Nadeo Arga Winata dan kawan-kawan akan bertanding di stadion berkapasitas 12 ribu penonton tersebut. Jika mereka bisa melangkah ke final, maka akan ada lima laga yang akan dijalani di sana. Timnas jelas berharap apa yang dilakukan para seniornya terdahulu di tempat yang sama bisa menular kepada mereka.

Tanah Terjanji Timnas Indonesia

Rizal Memorial Stadium adalah tempat kenangan bagi timnas Indonesia. Pasalnya, disinilah mereka terakhir kali mendapat medali emas Sea Games yang terjadi pada 4 Desember 1991. Saat itu, mereka mengalahkan Thailand dengan skor 4-3 melalui drama adu penalti. Medali emas tersebut menjadi torehan kedua timnas sejak 1987 ketika gol almarhum Ribut Waidi membawa Indonesia menang melawan Malaysia.

Sejak penyisihan grup, timnas selalu memainkan pertandingannya di Rizal Memorial Stadium dan memenangi tiga pertandingan melawan Malaysia (2-0), Vietnam (1-0), dan Filipina (2-1). Pada babak semifinal, mereka ditantang Singapura. Berbeda dengan fase grup, ketika memasuki babak gugur, Indonesia tidak bisa mencetak gol.

Mereka sukses mengalahkan Singapura melalui adu penalti 4-2 setelah bermain imbang tanpa gol. Skor serupa kembali terjadi ketika menghadapi Thailand. Sama seperti sekarang ini, Thailand saat itu juga diunggulkan. Menurut Widodo Cahyono Putro, negeri Gajah Putih tersebut mempunyai bekal berupa pencapaian masuk empat besar Asian Games setahun sebelumnya. Namun Indonesia mampu mempertahankan skor imbang hingga memaksa pemenang ditentukan melalui adu penalti. Disinilah ketegangan demi ketegangan muncul.

“Pelatih kami (Anatoliy Polosin) juga tegang. Dia memutuskan untuk tidak menonton kami melakukan tendangan penalti. Dia merasa tegang dan memilih untuk masuk ke dalam ruang ganti tim,” tutur Sudirman.

Ketegangan memang terasa jika melihat catatan penendang penalti kedua kesebelasan. Tiga penendang pertama Thailand semuanya sukses menjebol gawang Edy Harto. Di sisi lain, penendang kedua timnas, Maman Suryaman justru gagal mencetak gol. Ketegangan semakin menjadi ketika Widodo Cahyono Putro, yang menjadi penendang terakhir juga gagal.

Beruntung, sepakan Ronnachail Sayomcai, penendang kelima gagal dan membuat Indonesia diuntungkan. Danurwindo kemudian menunjuk Robby Darwis sebagai penendang keenam sebelum Sudirman menggantikannya.

“Setelah penendang keenam Thailand gagal, Danurwindon meminta Robby Darwis menjadi penendang keenam namun ia menolak. Saat itu, saya refleks menggantikannya. Danurwindo sempat bertanya “Benar kamu berani? Saya jawab kalau saya, berani,” tuturnya.

Sudirman sukses menendang penalti tersebut. Edy Harto kemudian menjadi pahlawan berikutnya setelah menahan sepakan eksekutor keenam, Pairote Pongjan.

Ketahanan Fisik dan Kekuatan Mental

Medali emas yang diraih timnas Indonesia saat itu memang tidak mudah. Mereka diragukan untuk bisa berhasil. Salah satunya karena skuad saat itu mayoritas diisi pemain muda seperti Rochy Putiray, Widodo Cahyono Putro, Heriansyah, dan Yusuf Ekodono. Namun mereka tetap memasang target medali emas.

“Bukankah mimpi itu bunga tidur? Kami tidak tidur, tapi berusaha. Kami ingin memetik bunga usaha itu berupa medali emas Sea Games nanti,” kata IGK Manila selaku manajer tim.

Usaha mereka pun tidak main-main. Latihan yang diberikan trio Anatoliy Polosin, Vladimir Yurin, dan Danurwindo, sangat berat. Latihan yang disebut sebagai Shadow Football menjadi menu utama yang harus dilahap pemain sehari-hari.

Sesuai namanya, Shadow Football, para pemain jarang menikmati latihan dengan menggunakan bla. Saat itu, mereka lebih banyak berlatih fisik yang saat itu menjadi kendala para pemain tim nasional. Para pemain timnas dipaksa mengikuti latihan yang terbilang sadis. Mereka harus lari naik-turun gunung, berlari di pantai, dan menjalani latihan yang menguras tenaga. Itu semua digunakan untuk mengejar standar kalau para pemain kita harus bisa berlari 4 kilometer dalam waktu 15 menit.

“Latihan waktu itu gila-gilaan. Bukan strategi yang dibahas melainkan fisik dan kekuatan. Satu bulan sebelum ke Filipina, kami latihan di Bandung. Pagi latihan di lapangan, siang di GOR, sorenya naik gunung,” kata kiper kedua, Erick Ibrahim.

Tidak semua tahan dengan cara seperti ini. Kas Hartadi sampa menangis karena tidak menyangka kalau naik gunung menjadi bagian dari latihan sepakbola yang mau tidak mau harus ia jalani. Yang paling parah sekaligus menggelitk adalah ketika Sudirman tidak kuasa untuk menahan mencret karena genjotan fisik yang begitu intensif.

Fachry Husaini, Ansyari Lubis, Jaya Hartono, dan Eryono Kasiba merupakan mereka-mereka yang saat itu tidak kuasa mengatasi kerasnya metode latihan Eropa Timur ala Polosin. Sedangkan Micky Tata dan Singgih Pitono menjadi pemain yang paling sering finis terakhir dalam latihan lari karena tidak mau kentutnya terdengar. Tidak jarang juga pemain memilih kabur dan muntah di tengah pelatnas.

Tidak hanya itu, mereka juga harus menghadapi metode lainnya yaitu touch bal. Sesuai namanya, mereka dipaksa untnuk menyentuh bola hingga 150 kali. Vladimir Yurin yang saat itu menjelaskan betapa pentingnya banyak-banyak menyentuh bola. Ia mengambil contoh Marco van Basten yang selama 90 menit minimal menyentuh bola 150 kali. Para pemain kita diharapkan bisa mendekati apa yang dilakukan Van Basten tersebut.

Namun itu semua yang akhirnya membuahkan hasil berupa medali emas kedua dalam sepanjang sejarah timnas sepakbola di Sea Games. VO2 max para pemain menjadi begitu tinggi sehingga mereka kuat bermain selama 120 menit. Berkat Polosin pula tim memiliki semangat kekeluargaan yang begitu tinggi.

“Kami menjadi tidak ada jarak. Sampai anak saya lahir, saya tidak tahu karena fokus memang sudah di Sea Gaes. Waktu saya menerima medali emas, saya menangis karena kerja keras yang saya lakukan tidak sia-sia,” kata Peri Sandria.

Daftar Skuad Timnas Indonesia Pada Sea Games 1991

Edy Harto, Erick Ibrahim, Robby Darwis, Ferryl Raymond Hattu, Sudirman, Aji Santoso, Salahuddin Abdul Rachman, Herrie Setyawan, Toyo Haryono, Maman Suryaman, Heriansyah, Bambang Nurdiansyah, Yusuf Ekodono, Widodo C Putro, Peri Sandria, Hanafing, Kas Hartadi, Rochy Putiray