Emma Hayes, Manajer Perempuan Sukses yang Takut Dipecat

Foto: Telegraph

Manajer tim perempuan Chelsea, Emma Hayes, merupakan satu sosok yang fenomenal bagi para suporter The Blues. Ia adalah seorang “pemegang kendali” di balik kesuksesan yang konsisten dalam meraih tujuh trofi selama delapan musim terakhir. Hayes bisa dikatakan sebagai figur ajaib yang mampu membuat permainan tim perempuan Chelsea tampak tumbuh menawan di atas lapangan.

Namun, di belakang itu semua, ada satu hal yang lumayan terlihat aneh pada diri Emma Hayes. Ternyata selama ini, ia merasakan ketakutan akan kehilangan pekerjaannya sebagai manajer. Baginya, meskipun telah meraih tujuh trofi dalam delapan tahunnya sebagai manajer tim perempuan Chelsea, ia benar-benar masih takut dipecat.

“Saya suka menjadi manajer sepakbola, tapi di balik itu, bagi saya semua manajer hidup dalam ketakutan akan kehilangan pekerjaan. Saya pun begitu. Walaupun di satu sisi saya tidak mengeluh. Saya merasa sangat beruntung memiliki pemilik yang tertarik pada sepakbola perempuan, dan memahami apa yang saya butuhkan,” tutur Emma Hayes dikutip dari The Guardian.

Kendati begitu, Emma Hayes sebetulnya masih berada di posisi yang aman. Apalagi pemilik Chelsea Roman Abramovich sangat senang dengan kinerjanya selama ini. Bahkan, pengusaha kaya asal Rusia itu dengan cepat sebuah ucapan selamat begitu Chelsea dianugerahi gelar berdasarkan poin per pertandingan kepada Hayes di musim ini.

Tindakan Abrahamovic inilah yang di satu sisi masih membuat manajer perempuan asal Inggris itu tetap optimis untuk terus semangat “mengarungi badai” bersama anak asuhnya. Hayes sendiri juga sempat mengatakan bahwa pemilik klub memang telah berperan besar dalam kesuksesan kariernya selama delapan tahun di London.

“Ketika saya datang ke Chelsea pada 2012, Chelsea Women adalah tim amatir. Tetapi berkat antusiasme pemilik klub, kami telah membangun banyak hal dalam waktu yang singkat. Kesuksesan yang kami harapkan, kami raih secara bersama. Dan jujur, saya ​​merasa tim ini lebih banyak berkembang. Saya senang tinggal di Chelsea, dan saya siap menghadapi masa depan,” ungkap Hayes.

“Pemilik klub ini adalah penggemar berat sepakbola perempuan, dan dia selalu bertanya kepada saya apa yang bisa dia lakukan untuk membantu tim ini berkembang. Saya lebih dari sadar akan tantangan yang dihadapi permainan seoarang perempuan, tetapi saya pikir ada cukup pemilik, penyiar, dan suporter yang menginginkan yang terbaik. Menyelesaikan musim lebih awal adalah kekecewaan. Tetapi sepakbola perempuan itu solid. Saya pikir kami bisa kembali lebih baik dan lebih kuat lagi.”

Selain itu, ternyata Emma Hayes juga menganggap jika piala ketujuh yang diraih anak asuhnya di musim ini adalah salah satu pencapaian yang paling memuaskan. Meskipun memang ada keputusan yang kurang maksimal ketika memberikan gelar dengan sistem formula poin-per-game.

Manchester City berada di puncak klasemen ketika liga ditunda akibat pandemi. Namun mereka telah memainkan permainan lebih dari Chelsea yang berada di posisi kedua. Kondisi ini yang akhirnya membuat pasukan perempuan The Blues lebih berhak mendapatkan gelar liga di musim ini.

Oleh sebab itu, bagi Hayes, keputusan ini agak sulit diterima oleh siapa pun. Walau pada akhirnya semua pihak harus menyikapinya dengan bijak lantaran keputusan ini adalah keputusan bersama yang telah disepakati.

“Keputusan untuk mengakhiri liga di musim ini tidak mudah. Tetapi kebanyakan dari kita merasa itu adalah keputusan yang tepat. Saya tahu sepakbola telah dimulai kembali di Jerman, tetapi kami berada pada tahap pandemi yang berbeda. Keputusan tidak boleh diambil sembarangan. Segala upaya dilakukan untuk melanjutkan musim, namun sebagian besar pemain membutuhkan keputusan yang tepat,” tandas Hayes.

“Kita semua bisa menantikan musim depan dari sekarang. Dan mungkin kita semua masih bisa melibatkan pikiran kita untuk melangkah ke hal yang tidak diketahui. Seperti misalnya melihat ke bulan September nanti. Di mana kita harus memiliki lebih banyak informasi tentang latihan terbaik dari klub Premier League yang sudah memulai permainan kembali.”

“Ya walaupun sekali lagi, saya akui bahwa enyelesaikan musim dengan cara seperti ini jelas tidak ideal untuk siapa pun. Tapi itu adalah keputusan kolektif berdasarkan kesejahteraan pemain. Dan saya pikir sebagian besar mereka setuju dengan itu.”