Filosofi Pep Guardiola dan Kebebasan Bermain Sepakbola

Semua orang bebas bermain sepakbola. Laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, anak kecil maupun dewasa, tak ada yang melarang, dan tak ada aturan khusus yang menentukan siapa dan seperti apa perawakan dari seseorang agar bisa bermain sepakbola. Sepakbola adalah tentang kebebasan.

Menyoal kebebasan bermain sepakbola ini, ada satu kutipan menarik yang pernah dilontarkan oleh Leroy Sane, pemain Manchester City. Jelang laga melawan Liverpool sekira awal Januari 2018 silam, Sane menyebut bahwa manajernya di City, Pep Guardiola, menyebut bahwa dia harus bermain dengan kebebasan, layaknya Lionel Messi.

“Pep bilang saya harus bermain dengan penuh kebebasan seperti halnya (Lionel) Messi. Bukan bermain seperti Messi, karena itu tidak mungkin. Jadilah bebas seperti Messi, bersenang-senang, dan melakukan hal yang ingin dilakukan di atas lapangan, seperti mencetak gol atau membantu lawan mencetak gol. Menembak atau memberi umpan,” ujar Sane.

Seperti yang diujarkan Sane, memang mustahil bermain seperti Messi. Lionel Messi adalah sebuah talenta yang mungkin tidak akan turun lagi dalam waktu yang cukup lama. Meminjam istilah dari manga “Area no Kishi”, Messi adalah talenta yang mungkin hanya akan terbit dalam jangka waktu 10 tahun sekali. Tak mungkin ada Messi yang lain, dan tidak bijak rasanya menyamakan Messi dengan pemain lain karena semua belum tentu seperti Messi.

Lalu, soal bermain sepak bola secara bebas dan menyenangkan ini, apa memang hak dari seorang Messi saja? Atau kita selaku orang awam yang tak berkemampuan layaknya Messi atau Sane bisa melakukannya?

***

Tentang bermain sepak bola dengan bebas, dalam sebuah acara di Sky TV beberapa waktu lalu, Thierry Henry menjabarkan bahwa Pep Guardiola memang ahlinya. Semasa Henry membela Barcelona, di bawah arahan dari Pep, Barcelona dibikin menjadi sebuah tim yang benar-benar terstruktur dan sistematis. Istilah orang ketiga dan juga mencari ruang lewat pergerakan tanpa henti mengiringi “trademark” sepak bola Pep yang juga mengandalkan “umpan dan gerak”.

Namun lebih dari itu, sebenarnya ada sebuah keunikan tersendiri dalam sistem dari Pep ini. Keunikan itu terjadi di area sepertiga akhir lawan. Henry dengan mantap menjabarkan bahwa dari area sepertiga awal sampai sepertiga tengah, Pep memang mengatur sedemikian rupa cara agar bola tidak jatuh ke tangan lawan. Ketika masuk area sepertiga akhir, Henry menyebut satu kata: kebebasan.

 

“Xavi mengoper bola ke sini, lalu Iniesta menerimanya di sini, dan dia mengalirkan bola ke Messi di depan. Setelah itu, tidak ada skema apa-apa lagi. Kebebasan. Siapapun yang mencetak gol, baik itu saya, (Samuel) Eto’o, maupun Messi, tidak masalah, karena Pep sudah memberikan kebebasan untuk itu,” ujar Henry.

Sebuah pernyataan yang menarik. Henry yang memang pernah merasakan ditangani oleh Pep di Barcelona, sebelum akhirnya dia hijrah ke New York Red Bulls, tentu tahu indahnya bermain sepak bola dengan bebas di area sepertiga akhir bersama Pep. Memang kadang Pep begitu kukuh dengan filosofi bermain bola yang dia miliki, tapi siapa sangka dia bisa memberikan kebebasan yang begitu kentara kepada para pemainnya.

Tapi sebenarnya, bukankah bermain sepakbola seharusnya seperti itu?

Dalam sepakbola, ada taktik dan juga strategi yang digunakan oleh pelatih/manajer agar bisa membungkam dan mengalahkan lawan. Taktik dan strategi itu didesain sedemikian rupa, diterapkan dengan seksama, dan dianalisa dengan teliti oleh para analis sepakbola di luaran sana. Tingkat keberhasilan dari strategi ini, sebagian besar, tergantung dari bagaimana pelatih menyampaikan strategi ini, beriringan dengan bagaimana para pemain dapat melaksanakan strategi itu.

Namun tetap, akan ada satu atau dua pemain yang setidaknya tidak akan terlalu terpatok dengan strategi dan taktik tersebut. Lazimnya, dia adalah pemain dengan kemampuan spesial dan dapat menjadi seorang pemain–meminjam istilah di manga “Giant Killing”– yang dapat membuat tim menang. Ambil contoh Diego Armando Maradona, Pele, atau sekarang ada nama Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi yang dianggap sebagai pemain yang dapat membuat tim menang. Malah, terkadang strategi sebuah tim diciptakan dengan mengakomodir kemampuan luar biasa pemain-pemain tersebut.

Maka, pada dasarnya memang bermain sepakbola tidak melulu terpatok pada sebuah strategi. Dia bicara kebebasan, selayak bebasnya anak-anak kecil yang berlarian menendang bola di tanah lapang sebuah desa kala senja menyapa. Dia bicara kebebasan, selayak bebasnya anak-anak kecil yang berlarian menendang bola di gang-gang sempit di tengah padatnya sebuah kota. Dia tak melulu bicara tentang sebuah filosofi dan sebuah paham, karena pada dasarnya taktik itu fana.

Pep tampaknya paham ini, sehingga dia membiarkan para pemainnya menjadi bebas di area sepertiga akhir. Jika diibaratkan, lapangan di mata Pep seperti halnya pertumbuhan tubuh Benjamin Button: kukuh dan sistematis layaknya orang dewasa di area sepertiga awal dan tengah, lalu tumbuh menjadi seorang anak kecil yang penuh kebahagiaan di area sepertiga akhir.

Inilah yang sekarang coba diterapkan Leroy Sane di Manchester City. Meski terkadang, entah karena intelejensia yang masih kurang atau ketidakmampuan menangkap pesan sederhana dari Pep tersebut, Sane dan pemain depan City lain belum bisa melaksanakannya secara paripurna.

***

Jean-Paul Sartre, filsuf dari Prancis pernah berujar bahwa kebebasan itu adalah kutukan. Ketika seorang bebas, dia dikutuk untuk bisa melakukan apapun, tanpa terhalang oleh dinding atau sekat berupa peraturan yang mengekang. Ketika seseorang bebas, dia dikutuk untuk bisa melakukan apapun yang dia mau. Terdengar sedikit menyeramkan, sih.

Tapi sebenarnya, jika kita mau memikirkan masak-masal pendapat Sartre ini, kebebasan memang sebuah kutukan. Namun, kutukan ini adalah kutukan yang menyenangkan. Kebebasan melakukan apapun, meski tampak menyeramkan karena tidak adanya aturan yang mengikat, adalah hal yang langka dan sulit didapat. Apalagi di dunia sepakbola, sebuah dunia di mana taktik terkadang begitu didewakan.

Maka, bermainlah sepakbola dengan bebas, sebelum taktik mengekangmu. Tidak hanya untuk Sane dan Messi yang sekarang sedang menjalankannya, tapi juga untuk kita yang mungkin hanya bisa bermain sepakbola dengan alakadarnya.