Makelele yang Menghentikan Rivalitas Keane dan Vieira

Foto: Skysports.com

15 tahun yang lalu, kita beruntung melihat rivalitas antara dua gelandang yang bertipikal keras juga cerdas. Patrick Vieira di Arsenal dan Roy Keane di Manchester United yang juga merupakan kapten di klubnya masing-masing. Gaya mainnya mirip: keras tanpa kompromi, berani berduel, dan tidak segan melakukan konfrontasi. Namun keduanya tetap cerdas dalam membaca permainan dan mendistribusikan bola. Keduanya pun punya pengaruh kuat di ruang ganti.

Apabila Manchester United bertemu menghadapi Arsenal medio awal 2000-an, semua langsung tertuju kepada duel Vieira dan Keane. Gesekan-gesekan sering kali terjadi seperti adu mulut, kontak fisik, hingga benturan keras antarkeduanya. Selain duel, permainan keduanya juga sangat menyenangkan dinikmati, penguasaan bola yang tenang, distribusi bola, hingga pembacaan permainan yang apik. Bahkan keduanya punya rekan duet yang tak kalah identik, Vieira-Gilberto Silva di Arsenal dan Keane-Paul Scholes di United.

Yang paling diingat dari perseteruan keduanya adalah ketika pertandingan antara Arsenal menghadapi United di Highbury musim 2004/2005. Sebelum sepakmula diadakan, Gary Neville terlibat adu mulut kecil dengan Vieira di lorong ganti. Keane kemudian nimbrung dan memberikan pembelaan kepada rekan setimnya.

Ia pun mengejek Vieira yang memilih Prancis daripada Senegal yang merupakan asalnya, sekaligus membahas kekalahan Prancis atas Senegal di Piala Dunia 2002. Tak terima, Vieira kemudian membalas dengan membahas diusirnya Keane di camp latihan Irlandia karena dianggap membuat perpecahan di tim, sebelum Piala Dunia bergulir. Kemudian perseteruan keduanya diredam oleh wasit tepat beberapa saat sebelum keduanya memasuki lapangan.

Baca juga: Pemain-Pemain yang Pernah Dipulangkan dari Piala Dunia

Perseteruan Patrick Vieira dan Roy Keane berakhir setelah Vieira pindah ke Juventus pada musim 2005/2006 dan Roy Keane yang hengkang ke Celtic pada musim yang sama. Tentu saja hilangnya rivalitas keduanya membuat ada yang hilang di Premier League ketika Arsenal bertemu Manchester United. Hengkangnya dua kapten ini ditengarai karena faktor usia. Namun faktor lain yang tidak kalah berpengaruh adalah kedatangan Claude Makelele ke Chelsea pada musim 2003/2004.

Makelele hadir ke Stamford Bridge sebagai bagian dari investasi besar yang dicanangkan Roman Abramovich. Kehadirannya saat itu cukup menggemparkan, apalagi setelah Zidane secara terbuka menyatakan hengkangnya Makelele merupakan kerugian bagi Madrid.

“Untuk apa mengecat Bentley dengan emas apabila Anda sudah kehilangan mesinnya?” sebuah kutipan terkenal dari Zidane mengenai hengkanya Makelele.

Posisi Makelele di Chelsea sendiri sangat berbeda dengan posisinya ketika masih bermain di Real Madrid. Dari 95 penampilan bersama Real Madrid di La Liga, hanya 16 kali Makalele diberikan posisi sebagai gelandang bertahan. Sisanya Makelele selalu diberikan rekan duet di tengah sebagai pendamping. Ini menjadikan Makelele seorang gelandang sentral ditemani 1 gelandang bertahan.

Di sudut pandang inilah Florentino Perez melihat Makelele tidak terlalu berperan. Toh posisinya di sentral tidak terlalu berperan penting, karena untuk menyerang sudah ada Zinedine Zidane atau Guti Hernandez sedangkan di posisi bertahan ada Ivan Helguera atau Flávio Conceição.

Peran Makelele di Chelsea dan Makelele Role

Di Chelsea posisi Makelele berubah nyaris 180 derajat. Pasalnya seiring kedatangan Makelele, Chelsea sudah penuh sesak dengan gelandang bertipikal menyerang: Juan Sebastian Veron, Damien Duff, dan Joe Cole. Meskipun ada nama Glen Johnson, Geremi, dan Wayne Bridge, yang bisa berfungsi sebagai gelandang bertahan. Tidak ada satupun gelandang bertahan yang benar-benar murni.

Inilah yang mendasari perubahan posisi dari Makelele untuk lebih bertahan. Claudio Ranieri yang menerapkan pola 4-4-2 saat itu terbantu dengan adanya Makelele. Kuartet gelandang Chelsea yang diisi Jesper Grønkjær, Frank Lampard, Makalele dan Damien Duff, secara fleksibel berubah menjadi 4-1-1-2-2 atau 4-4-2 diamond.

Dalam formasi ini, Makalele lebih berperan sebagai gelandang bertahan di depan 4 bek, mendorong Lampard maju membantu penyerangan di belakang 2 sayap dan 2 striker. Posisi Lampard di Chelsea saat itu, mirip dengan yang dijalani Makelele di Real Madrid. Ranieri sendiri saat itu menyebut Makelele sebagai “baterai bagi tim”.

Perubahan posisi manajer dari Claudio Ranieri ke Jose Mourinho, mengubah semuanya. Di era inilah “Makelele Role” terbentuk, sekaligus mendiskreditkan peran Vieira dan Keane. Pada musim 2004/2005, Chelsea sukses meraih gelar Premier League, mengalahkan Manchester United dan Arsenal dalam perburuan gelar. Mourinho membawa taktik yang terbukti sukses bersama Porto: 4-4-2 diamond dan 4-3-3. Sesuatu yang menjadi antitesis dari permainan Keane dan Vieira.

Pasalnya Makelele berada di posisi holding dalam dua formasi tersebut. Tugasnya lebih kompleks, membangun serangan, mengalirkan bola dan menjaga penguasaan bola. Bisa dibilang dalam fase ini Chelsea bermain tanpa gelandang bertahan namun gelandang penghubung antara bertahan dan menyerang.

Posisi Makelele juga sulit diatasi oleh tim yang menggunakan 2 gelandang sentral seperti Arsenal dan Manchester United. Karena Makelele juga terlibat aktif membangun serangan, membuat kondisi yang sulit bagi lawan. Pasalnya ketika lawan menyerang mereka kalah jumlah karena Makelele ikut bertahan. Sedangkan ketika lawan bertahan Makelele selalu dalam kondisi bebas tanpa penjagaan. Ini dikarenakan gelandang sentral di tengah sudah sibuk mengawal gelandang serang Chelsea.

Vieira dan Keane yang Menghilang

Di era inilah Makelele role tercipta, sekaligus meredupkan peran Keane dan Vieira. Klub tidak lagi menggunakan 2 gelandang sentral, namun berinovasi dengan formasi 4-3-3. Kesulitan bagi Keane dan Vieira dikarenakan mereka harus dibantu satu gelandang yang lebih mengalirkan bola dan membantu pertahanan.

Benar saja pada musim 2005/2006, Vieira dijual ke Juventus. Alasannya? Mengakomodasi gelandang berbakat asal akademi Barcelona yang kelak dikenang pendukung Arsenal sebagai Judas, Cesc Fabregas.

“Saya memainkan Fabregas-Gilberto Silva dan semua berjalan baik. Vieira dan Gilberto juga bekerja sama dengan baik. Namun duet Vieira dan Fabregas sayangnya tidak bekerja,” ucap Wenger di konfrensi pers awal musim 2005/2006.

Pun dengan Roy Keane yang menurut Ferguson kesulitan mengimbangi kecepatan lawan karena usia dan cedera. Ferguson sebenarnya enggan menjual Keane dan lebih mengubah posisinya. Sayangnya Keane enggan, “saya ingin mengubahnya lebih sentral dan bermain dalam distribusi bola. Namun ide itu sayangnya tidak berjalan baik baginya”, ucap Ferguson di Autobiografinya.

Pun rekrutmen kedua klub yakni Arsenal dan United tergolong mirip dengan Makelele. Fabregas yang merupakan gelandang serang diposisikan lebih sentral dan bisa bertahan, sedangkan United menebus Michael Carrick dari Tottenham yang berposisi pengatur serangan diposisikan lebih dalam ketika formasi 4-4-2.

Makelele tidak hanya memberikan inovasi secara posisi dan taktik, tapi juga menghentikan 2 rivalitas gelandang “banteng” dari Arsenal dan Manchetser United. Keane dan Vieira mungkin tidak akan bertemu di lapangan lagi. Namun keduanya memuji satu sama lain dan mengakui bahwa Keane musuh tersulit yang pernah dihadapi Vieira pun sebaliknya. Dan uniknya pada musim 2004/2005, Real Madrid pernah mencoba mendatangkan baik Keane maupun Vieira namun urung terjadi, alasannya? Real Madrid yang kehilangan sosok Makelele dan mencoba menggantinya dengan salah satu dari Keane atau Vieira.