Ribut-Ribut Elit Sepakbola Eropa soal Kebijakan Baru

Foto: Goal.com

Sebuah proposal sedang diajukan untuk membuat sebuah kebijakan baru soal jatah klub keempat di Liga Champions. Kebijakan ini akan menentukan apakah klub keempat liga-liga besar di Eropa bisa lolos kualifikasi atau tidak. La Liga, Serie A dan Bundesliga termasuk yang akan terpengaruh dengan kebijakan ini. Begitu juga dengan Premier League, mereka malah akan kehilangan jatah satu tempat otomatisnya di Liga Champions.

Rencana kebijakan ini nantinya hanya akan menjaminkan tiga tempat bagi beberapa liga besar di Eropa, dan klub keempat harus masuk terlebih dahulu melalui kualifikasi. Di satu sisi, semua rencana ini akan dibahas pada pertemuan European Leagues di London pekan depan.

Menanggapi hal itu, presiden organisasi European Leagues Lars-Christer Olsson menjeaskan bahwa liga-liga besar tidak perlu khawatir karena mereka semua akan tetap baik-baik saja dengan kebijakan baru yang nantinya dibuat. Menurutnya, empat jatah tempat di Liga Champions terlalu banyak, dan peraturan semacam ini sudah tidak relevan dan dianggap memiliki masalah.

“Saya pikir beberapa liga besar akan baik-baik saja dengan kebijakan baru ini jika mereka semua tetap diperlakukan dengan cara yang sama. Jika Anda memberikan empat jatah tempat kepada liga sekelas Premier League dan melakukan hal yang sama kepada Bundesliga, maka Anda memiliki masalah. Peraturan ini sudah tidak relevan. Jadi, liga-liga besar Eropa lain harus siap untuk berpartisipasi dalam diskusi ini. Semuanya untuk tujuan yang baik,” tutur Olsson dikutip dari The Guardian.

Selain itu, European Leagues juga ingin menghapus pembayaran koefisien historis, sebuah sistem di mana klub-klub di Liga Champions mendapatkan uang ekstra berdasarkan keberhasilan musim sebelumnya. Musim ini, Chelsea akan mendapatkan 27,9 juta paun dan Spurs akan mendapatkan 17 juta paun dari jenis pembayaran seperti itu. Namun, Olsson percaya kalau pendapatan ini seharusnya didistribusikan kembali kepada klub yang berpartisipasi untuk meningkatkan keseimbangan yang lebih kompetitif.

“Semua kebijakan dan peraturan benar-benar harus diganti. Kami mengatakan tentang hal ini ke semua liga, dan kami harus melihat ke dalam distribusi keuangan secara keseluruhan untuk mulai menerapkan kebijakan baru tersebut. Pesan kami adalah bahwa semua tim harus punya solidaritas yang meningkat dari sebelumnya,” pungkas penggagas proposal yang kebijakannya akan dimulai pada 2021 nanti tersebut.

Olsson juga mengkonfirmasi bahwa European Leagues sampai sekarang masih menentang rencana European Club Association (ECA) untuk Liga Champions, yang isinya adalah perluasan peraturan yang lebih menguntungkan klub-klub tertentu. Namun, dengan sedikit penentangan terkait hal itu, anggota dewan eksekutif ECA yang sekaligus presiden Juventus, Andrea Agnelli, menjawabnya dengan mengatakan bahwa kebijakan yang dibuat oleh European Leagues bukanlah suatu pilihan yang harus diterapkan.

“Kami hanya mendengar jawaban ‘tidak, tidak, tidak’ dari mereka (European Leagues) ketika kami mengajukan sesuatu. Padahal sebelumnya kami telah mendengar dari liga-liga dalam beberapa bulan terakhir kalau kebijakan yang mereka buat tidak benar-benar sehat,” tutur Andrea Agnelli.

“Perubahan apa pun yang dibuat tidak akan membawa banyak perubahan bagi klub-klub kaya seperti Real Madrid, Paris St-Germain. Bagaimana pun jika Anda bermain dengan mereka, maka mereka selalu bisa lolos dari peraturan. Yang terpenting sekarang adalah menciptakan sistem di mana klub dapat tumbuh dan berkembang di dalam suatu sistem tersebut.”

Andrea Agnelli kemudian membantah bahwa liga-liga di Eropa yang saat ini kebijakannya diperluas akan menjadi kompetisi tertutup atau bahkan membunuh sepakbola domestik. Di satu sisi, Agnelli juga memperingatkan bahwa peraturan tradisional sepakbola tidak sepenuhnya memahami ancaman yang akan dihadapi olahraga seperti sepakbola dari pertumbuhan olahraga digital atau yang biasa disebut esports.

“Kami hanya ingin melihat lebih banyak pertandingan Eropa dengan kualitas olahraga yang lebih tinggi. Banyak tuduhan tentang keinginan untuk membunuh liga domestik, padahal jelas ini adalah tuduhan yang tidak relevan. Penting untuk mengatakan bahwa peraturan saat ini tidak akan pernah membuat liga menjadi tertutup. Para ketua-ketua asosiasi di Eropa sudah mengakui jika peraturannya justru menjaga sistem liga tetap terbuka terbuka,” pungkas Agnelli.

“Kami harus melihat perilaku generasi Z. Mereka punya segmen khusus yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Kami harus dengan serius mulai berpikir bahwa para pesaing permainan hari ini bukanlah olahraga lain, kompetisi di sebelah benua, atau di kompetisi di negara belahan dunia lainnya, melainkan League of Legends, esports atau Fortnite. Mereka adalah segmen yang akan menjadi pesaing kami di masa depan.”

 

Sumber: The Guardian