OUR NETWORK

Ada Pemain yang Lebih Sial Dibandingkan Freddy Adu

Membandingkan seorang pemain dengan sosok senior mereka yang bersinar bukanlah hal baru di dunia sepakbola. Sudah terlalu banyak pemain yang dijuluki penerus Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, atau pemain-pemain lainnya. Meskipun pada akhirnya kebanyakan dari mereka cepat redup, hal itu tidak dapat menghentikan perbandingan talenta baru dengan para profesional yang sudah mendunia.

Kasus paling fenomenal dari perbandingan ini adalah Freddy Adu. Sudah mencuri perhatian di Amerika Serikat sejak masih anak-anak, Adu mendapatkan tawaran untuk menjalani tes masuk ke Manchester United pada 2006. Ketika itu, dirinya masih berusia 17 tahun. Namun ia sudah dikenal sebagai Pele dari Amerika Serikat. Bahkan menjadi sampul Majalah Times.

Pada kenyataannya Adu gagal mencapai potensi yang diharapkan. Dirinya sempat mencoba peruntungan di klub sekelas Benfica dan AS Monaco. Sayangnya, setelah hanya mencatat 20 penampilan dan mencetak dua gol untuk kedua kesebelasan itu, Adu jadi seperti ayam kehilangan induk. Liga Yunani, Turki, Serbia, Brasil, hingga Finlandia pernah ia coba. Adu akhirnya kembali ke Amerika Serikat, terakhir membela Las Vegas Lights di 2018.

Adu mengakui bahwa segala pemberitaan tentang dirinya membuat ia tenggelam dalam euforia. Gagal fokus dan tidak bisa memaksimalkan talenta. Setahun tanpa klub, Adu membantu membangun generasi muda dalam program Next Level Soccer. Ia pun belum mau menyerah dan masih berusaha mencari klub. “Saya masih tergolong muda (30). Saya belum ingin menyerah,” kata Adu.

Pemain kelahiran 2 Juni 1989 itu sudah dikenal menjadi poster kegagalan talenta muda akibat media. Tapi, Adu masih beruntung. Ia beruntung karena besar di Amerika Serikat, negara yang tak menjadikan sepakbola sebagai olahraga utama mereka. Ia beruntung karena masih dapat menginspirasi pemain lain seperti Tyler Adams. Beruntung Pele adalah satu-satunya pemain bintang yang disandingkan dengan dia. Ada pemain yang lebih sial dibanding Adu, namanya Marvin Martin.

Lebih Sial dari Adu

Pertama menjadi buah bibir pada 2011, Martin yang ketika itu menginjak usia matang (23) disandingkan dengan maestro Prancis, Zinedine Zidane. Menurut Get Football News France, Martin bahkan lebih cocok disebut sebagai penerus Zidane dibanding gelandang lain seperti Yoan Gourcuff.

Saat itu, Martin memang tampil impresif dengan seragam Sochaux. Dirinya membantu kesebelasan yang telah membesarkan namanya duduk di peringkat lima klasemen akhir Ligue 1 2010/2011 dengan catatan 17 assist sepanjang musim.

“Martin adalah pemain dengan kepintaran dan kepekaan yang tinggi. Dia dikenal cekatan, cepat, dan mematikan. Ia adalah pemain nomor 10 yang natural,” tulis Jamie Sanderson di Telegraph.

Dengan performa apik dan reputasi tinggi dari media, Tottenham dan Arsenal pun saling sikut untuk dapat mendaratkan jasa Martin. Gelandang kelahiran 10 Januari 1988 itupun membuka peluang untuk pindah dari Sochaux. “Rasanya saya siap. Saya tidak menutup peluang untuk pindah, tapi fokus saat ini masih tetap di Prancis dan berupaya masuk skuad Piala Eropa 2012,” kata Martin.

Mantan Pelatih Kepala Sochaux  Francis Gillot berusaha membantu Martin keluar dari perbandingan dengan Zidane. “Martin dan Zizou punya kualitas yang berbeda. Lagipula sudah berapa banyak nama yang disebut penerus Zidane dan akhirnya gagal? Bagi saya membandingkan Martin dengan Zidane adalah hal yang sia-sia,” kata Gillot.

Sialnya, upaya Gillot sia-sia. Bahkan bukan hanya nama Zidane yang membayangi karier Martin. French Football Weekly menjulukinya sebagai ‘Little Xavi’. Mengacu ke gelandang asal Spanyol, Xavi Hernandez. Martin berhasil berangkat ke Piala Eropa 2012 meski hanya sebagai pemain cadangan. Tampil 23 menit di dua pertandingan grup, Martin pun diberikan kontrak oleh Lille OSC.

***

Foto: France 3 Region

Lille menebus Martin dengan dana 10 juta Euro dan berkat performa yang ia perlihatkan di 2010/2011, optimisme tinggi tumbuh dalam diri suporter Les Dogues. Mereka berharap Martin bisa mengisi sepatu Eden Hazard yang baru saja pergi ke Chelsea. Martin juga sadar akan tuntutan tersebut.

“Eden [Hazard] sudah melakukan banyak hal luar biasa untuk klub ini. Saya akan berusaha dan tanggung jawab untuk menjawab kritik yang datang. Ini adalah pertama kalinya saya pindah ke klub lain. Jadi akan butuh waktu untuk adaptasi. Saya akan bekerja keras agar bisa memperlihatkan kualitas yang ada,” kata Martin.

Langsung menjadi pilihan utama, performa Martin tidaklah buruk. Ia berhasil mengarsiteki delapan gol di musim pertamanya bersama Lille. Akan tetapi, raihan itu juga masih kalah dibanding Hazard. Pemain asal Belgia tersebut memberikan kontribusi 10 gol pada musim pertamanya sebagai pemain inti Lille (2008/2009).

Hazard terlibat dalam 45 gol pada musim terakhirnya (2011/2012). Sementara Martin yang membela Lille empat musim tak sekali pun mencetak gol. Dirinya merumput 90 kali dengan catatan 12 assist.

***

FOTO: Courrier Picard

Martin pun terbuang dari Stade Pierre-Mauroy. Sementara Hazard, hingga 2019 masih diakui sebagai pemain terbaik yang pernah dimiliki Lille. Meskipun mereka juga pernah merasakan kemampuan Gervinho, Sofiane Bouffal, dan Nicolas Pepe. Hazard masih yang terbaik Lille.

Martin? Martin dilupakan! Dirinya dilepas ke Dijon secara cuma-cuma pada 2017. Lalu, kontraknya tidak diperpanjang oleh Dijon di akhir musim 2018/2019. Padahal ia adalah sosok yang digadang-gadang akan mengikuti jejak Hazard di Lille.

Jasanya akhirnya ditampung oleh peserta divisi dua Prancis, FC Chambly. Dalam konfrensi pers bersama mantan kesebelasan Pierre Wome itu, Martin dengan tegas melepas semua bayang-bayang yang pernah menghantuinya. Terutama Zidane. “Tak akan ada lagi penerus Zidane!,” tegas Martin.

Freddy Adu masih beruntung jika melihat kondisi Martin. Mayoritas penikmat sepakbola familiar dengan nama Adu. Dirinya tidak terlupakan, bahkan menginsipirasi talenta muda Amerika Serikat. Martin? Siapa yang ingat bahwa Marvin Martin pernah dinilai begitu tinggi di Prancis. Siapa yang familiar dengan namanya?

 

Loading...