Anders Frisk, Teror Mati yang Membuatnya Berhenti

Foto: Mirror.com

15 September 2004 menjadi hari yang kurang menyenangkan bagi seorang Anders Frisk. Mantan wasit terkenal milik Eropa tersebut mengalami insiden yang kurang menyenangkan saat memimpin pertandingan di Liga Champions Eropa. Sebuah insiden yang tampak menjadi sinyal kalau kariernya sebagai pengadil akan berakhir.

Ketika itu, Anders memimpin pertandingan antara AS Roma melawan Dynamo Kyiv pada matchday pertama Liga Champions musim 2004/2005. Pertandingan di Olimpico saat itu berlangsung menarik dengan tim tamu unggul terlebih dahulu melalui tendangan bebas Goran Gavrancic.

Serigala Roma yang tertinggal terus menekan untuk mencari gol penyeimbang. Akan tetapi, jalannya pertandingan saat itu berlangsung cukup keras. Beberapa tekel serta aksi saling terjang antar pemain beberapa kali terlihat. Inilah yang membuat laga beberapa kali harus berhenti. Di tengah upaya untuk mengejar kedudukan, Roma justru harus bermain 10 orang. Jelang akhir pertandingan, Philippe Mexes mendapat kartu merah setelah sengaja menendang Maris Verpakovskis.

Keputusan ini ternyata mengundang amarah dari para tifosi Roma. Ketika Frisk sedang berjalan menuju ruang ganti setelah menyelesaikan babak pertama, ia menerima lemparan sebuah benda yang datang dari tribun penonton. Sontak, Frisk menghentikan langkahnya dan mengusap dahinya. Betapa terkejutnya ketika ia melihat darah sudah mengucur di dahinya.

Cederanya Frisk membuat pengadil asal Swedia tersebut memutuskan untuk menghentikan pertandingan. Ulah nakal suporter di Olimpico saat itu membuahkan hukuman berupa kekalahan 0-3 Roma dari wakil Ukraina tersebut. Tidak hanya itu, hukuman dua laga kandang tanpa penonton juga harus didapat Giallorossi. Situasi semakin sulit ketika Mexes menerima larangan bertanding dua kali karena perilaku yang tidak sportif..

“Dalam mengambil keputusan, badan kontrol dan disiplin memperhitungkan keseriusan dari sifat insiden itu, di mana wasit Anders Frisk mengalami cedera dan membuatnya meninggalkan pertandingan,” begitu kata rilis resmi UEFA.

Pihak Roma sendiri menerima keputusan tersebut dan memilih untuk tidak melakukan banding. Hal ini mereka lakukan sebagai wujud dari sikap profesional mereka mengingat apa yang dilakukan Mexes tidak dibenarkan. Sebuah keputusan yang disambut baik oleh pihak Dynamo Kyiv.

“Jujur, kami mengharapkannya (hukuman kalah WO untuk Roma). Sebuah keputusan yang tepat,” kata juru bicara Dynamo saat itu, Serhiy Polkhovsky.

Kompetisi Liga Champions 2004/2005 berjalan kurang baik bagi utusan Italia tersebut. Dari enam pertandingan, mereka hanya mengantungi satu poin hasil dari satu kali imbang. Satu-satunya poin didapat setelah mereka bermain imbang 1-1 dengan Bayer Leverkusen di stadion yang kosong. Satu laga lain yang dimainkan tanpa penonton yaitu ketika mereka kalah 3-0 dari Real Madrid. Dynamo Kyiv sendiri berada pada urutan ketiga dan berhak untuk mendapatkan satu tiket ke Piala UEFA.

Pensiun Beberapa Bulan Kemudian

Frisk dikenal sebagai sosok yang tegas ketika memimpin pertandingan. Ia tidak segan-segan untuk memberikan kartu kepada siapa saja yang melakukan sesuatu di luar batas. Inilah yang membuatnya kerap memimpin pertandingan-pertandingan penting di level Eropa maupun dunia.

Sayangnya, ketegasan ini pula yang membawanya ke pintu keluar sebagai seorang wasit. Lebih dari lima bulan setelah mengusir Mexes, Frisk secara mengejutkan memutuskan untuk pensiun sebagai pengadil. Sebuah ancaman pembunuhan datang dari pendukung Chelsea setelah ia memimpin pertandingan antara The Blues melawan Barcelona.

Pada pertandingan yang dimenangkan oleh Barcelona dengan skor 2-1 tersebut, Frisk memberi kartu merah kepada Didier Drogba setelah ia menerjang Victor Valdes. Keputusan itu kemudian membuat Jose Mourinho berang dan menyebut kalau Frisk mengundang pelatih Barca, Frank Rijkaard ke ruangannya pada jeda babak pertama. Tuduhan Mourinho tersebut jelas tidak beralasan dan justru membuatnya dihukum tidak boleh memimpin laga Chelsea pada babak perempat final karena melakukan tindakan yang tidak pantas.

Beberapa hari setelah memimpin pertandingan tersebut, Frisk mendapat serangkaian ancaman pembunuhan yang datang melalui telepon, surat, hingga e-mail. Ancaman tersebut juga menyerang keluarganya yang membuat Frisk takut dan memutuskan untuk tidak lagi menjadi wasit. Keputusan yang mengejutkan karena usia Frisk saat itu baru 42 tahun.

“Saya mengalami hal yang tidak bisa saya bayangkan. Saya suka menjadi wasit, tapi 16 hari terakhir adalah momen terburuk saya sebagai seorang wasit. Saya tidak akan pernah lagi ke lapangan bola karena saya terlalu takut. Saya mulai muak karena ancaman untuk keluarga saya sungguh mengerikan,” ujar Frisk.

Menurut kepala Asosiasi Sepakbola Swedia, Bo Karlsson, pensiunnya Frisk menjadi hari yang paling menyedihkan bagi sepakbola Swedia. Namun, Frisk harus membuat pilihan dan kehilangan keluarga jelas bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh Frisk. Meski begitu, jasa Frisk pada dunia sepakbola Eropa jelas tidak bisa dilupakan. Pada 19 Desember 2005, ia mendapatkan penghargaan FIFA Presidential Award atas keberaniannya mengorbankan kariernya sebagai wasit demi melindungi keluarganya.