OUR NETWORK

Andrey Arshavin dan Empat Golnya ke Gawang Liverpool

Pertandingan Liverpool melawan Arsenal pada 21 April 2009 memasuki menit terakhir. Skor saat itu 3-3. Dalam situasi serangan balik, Theo Walcott berlari untuk berduel satu lawan satu dengan Xabi Alonso di sisi kiri pertahanan Liverpool.

Dari sisi yang lain, pemain bernomor punggung 23 berlari tidak kalah cepatnya memanfaatkan lini belakang Liverpool yang masih berantakan. Walcott kemudian memberikan bola kepada pemain tersebut yang tinggal berhadapan satu lawan satu dengan Pepe Reina. Hanya dengan satu sentuhan, dia langsung menendang bola tersebut sekencang mungkin untuk mengoyak jalan Liverpool.

Four…….,” kata Jon Champion yang saat itu menjadi komentator pertandingan tersebut.

Pemain yang mencetak gol tersebut adalah Andrey Arshavin. Skor akhir pertandingan tersebut sebenarnya adalah 4-4 karena beberapa menit setelah Arshavin membuat gol tersebut, Yossi Benayoun menyamakan kedudukan sekaligus menggagalkan tiga poin yang sudah di depan mata mereka.

Akan tetapi, sorotan pertandingan tetap mengarah ke pemain asal Rusia tersebut. Seperti yang diucapkan oleh Jon Champion, Arshavin mencetak semua gol Arsenal. Torehan ini membuat nama Arshavin sebagai pemain pertama yang bisa mencetak empat gol di stadion Anfield setelah Denniss Westcott, penggawa Wolverhampton Wanderers pada tahun 1946.

Selain itu, torehan tersebut membuat pemain yang pada 29 Mei lalu merayakan ulang tahun ke-39 ini menjadi pemain Arsenal pertama yang bisa mencetak empat gol setelah Julio Baptista pada 2007. Ia juga menjadi pemain keenam sepanjang sejarah Premier League yang bisa mencetak empat gol pada laga tandang.

Arshavin sendiri tampak tidak percaya dirinya bisa mencetak empat gol dalam satu pertandingan. Hal ini terlihat dari perayaan golnya yang cukup menarik. Ia membuat gestur angka empat dengan tangan kanan, lalu memonyongkan mulutnya di depan pendukung Arsenal. Setelah itu, ia menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya untuk membuat isyarat “Ssttt”.

Isyarat tersebut diberikan Arshavin kepada suporternya sendiri. Sebelum ia mencetak empat gol pada laga tersebut, dirinya terus mendapat kritik karena performanya dianggap kurang memuaskan sejak didatangkan dari Zenit st Petersburg pada deadline day transfer musim dingin 2009. Beruntung, ia bisa membungkam kritik tersebut dengan mencetak empat gol di Anfield sekaligus membuat koleksi golnya menjadi enam buah.

“Saya ingat betapa lelahnya saya setelah pertandingan. Pikiran saya tiba-tiba kosong. Saya senang dan ketika Anda mencetak empat gol maka itu hal yang normal. Saya bangga bahwa tidak ada yang bisa mencetak empat gol di Anfield hingga saya yang melakukannya. Itulah yang membuat empat gol tersebut rasanya begitu istimewa,” kata Arshavin.

Sebelum ia mencetak empat gol di Anfield, penampilan Arshavin sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Ia membuat dua gol serta lima asis dari tujuh pertandingan pertamanya. Setengah musim pertama Arshavin di London berlangsung sangat baik. Bermain 12 kali pada Premier League, ia membuat enam gol dan delapan asis. Total, ada 14 gol yang berasal dari kontribusi Arshavin yang menandakan kalau dalam satu laga, ia bisa berkontribusi untuk timnya entah itu melalui gol atau asis. Namun sejak empat golnya ke gawang Liverpool, nama Arshavin terus melambung dan sosoknya mulai dicintai publik Emirates Stadium.

Meski bangga bisa mencetak empat gol, namun Arshavin saat itu menganggap kalau permainannya belum bisa maksimal. Menurut dia, masih ada banyak pertandingan ketika ia tampil jauh lebih baik dari sekadar membuat empat gol.

“Bagi saya, pertandingan itu hanya pertandingan reguler biasa. Tidak ada yang istimewa. Jika melihat statistik, maka itu adalah permainan terbaik saya. Tetapi dalam hal gaya bermain, saya memiliki beberapa permainan yang jauh lebih baik,” ujarnya.

Sejak momen empat gol tersebut, Arshavin menjadi pemain utama untuk sektor gelandang serang dan lini depan kubu Meriam London. Ia bermain 144 kali dan menyumbang 77 gol (31 gol dan 46 asis). Ia bermain empat musim sebelum kembali ke Zenit St Petersburg pada 2013. Serangkaian cedera dan penampilannya yang perlahan mulai menurun karena usia, menjadi alasan ia pergi dari Arsenal. Kepergiannya saat itu membawa sebuah penyesalan dalam dirinya.

“Satu-satunya penyesalan saya adalah saya tidak meraih trofi bersama Arsenal. Terutama kekalahan pada final Piala Liga pada 2011 melawan Birmingham City yang kemudian terdegradasi pada akhir musim. Dalam final seperti itu, kami kalah,” ujarnya.

“Masalah lainnya adalah kami terus kehilangan pemain setiap musimnya. Dari Samir Nasri, Cesc Fabregas, lalu Robin van Persie. Jika kita bisa mempertahankan skuad itu selama dua sampai tiga musim, maka segalanya akan berbeda menurut saya.”

Setelah memperkuat Zenit hingga 2015, Arshavin kemudian hijrah ke Kuban Krasnodar dan bermain semusim di sana. Ia kemudian pindah ke Liga Kazakhstan pada 2016 untuk berain bersama Kairat sebelum ia pensiun pada 2018.

***

Selain dikenal sebagai pemain sepakbola, Arshavin juga dikenal karena memiliki kisah perjalanan hidup yang tidak biasa untuk ukuran seorang pemain sepakbola. Ia adalah seorang sarjana di bidang desain busana dari Universitas Saint-Petersburg. Ia juga bahkan merancang beberapa pakaian olahraga untuk wanita. Namun sebelum terjun ke dunia tersebut, Arshavin justru terdaftar sebagai mahasiswa teknologi kimia.

“Ketika saya mulai berlatih bersama Zenit, saya harus melewatkan beberapa kelas. Atas dasar itu, saya dipindahkan ke bagian fashion design. Sejak saat itu, saya telah merancang beberapa pakaian dengan tangan saya sendiri,” ujarnya.

Loading...