Apa Kabar Andy Carroll?

Foto: Express.co.uk

Siapa yang masih memperhatikan Andy Carroll? Penyerang asal Inggris ini sepertinya tidak terlalu terlihat, dan bahkan bisa dikatakan kurang menonjol ketika bermain besama West Ham pada musim lalu. Padahal, ia sempat diminati banyak klub sejak era kemunculannya sebagai striker tajam sembilan tahun lalu saat ia masih bermain untuk Newcastle United.

Sebenarnya, dalam beberapa tahun kebelakang, tidak sedikit juga klub yang menginginkan servis Andy Carroll. Pada Januari tahun lalu saja, Chelsea, yang sedang gencar mencari striker bertubuh jangkung, sempat memiliki minat untuk merekrut Carroll dari West Ham. Meskipun pada akhirnya usaha itu gagal karena The Blues terlanjur mendapatkan Giroud dari Arsenal.

Tapi terlepas dari hal itu, Andy Carroll adalah pemain sepakbola berbakat yang memiliki talenta luar biasa sejak awal kariernya. Namun, tepat ketika sepakbola memasuki era digital (modern), ia selalu dikutuk oleh cedera serius yang panjang, yang membuatnya tampak berkarat seperti bekas senjata perang dunia II.

Sejak bermain di Liverpool, sebenarnya Carroll juga sudah tidak berkembang. Padahal, ia sempat dielu-elukan sebagai pengganti Torres di Anfield. Itulah alasan mengapa ia dipinjamkan ke West Ham setelah satu musim setengah berseragam The Reds. Namun, bermain bersama West Ham tidak juga membuatnya berjaya. Bentuknya selalu fluktuatif, dan tepat tahun ini, kariernya pun harus terputus setelah The Hammers tidak memperpanjang kontraknya.

Kariernya memang kian memburuk. Aapalgi setelah sekarang kita semua bisa melihat bahwa Carroll masuk ke dalam daftar pemain yang kehabisan kontrak di musim panas ini. Selain Carroll, sebenarnya ada beberapa penyerang asal Inggris lain seperti Daniel Sturridge dan Danny Welbeck, yang juga bernasib sama dengan mantan pemain Newcastle tersebut.

Awal dari nasib buruk Andy Carroll

Tidak terasa, sudah 13 tahun Andy Carroll berkarier sebagai pesepakbola profesional di Inggris. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Carroll mengawali kariernya dengan apik ketika ia bermain di Newcastle United. Penampilan apiknya itulah yang kemudian menarik minat Liverpool untuk merekrutnya pada 2011, dan kepindahannya ke Anfield ini langsung membuatnya menjadi pemain sepakbola Inggris paling mahal.

Tapi, Carroll tidak sesuai dengan ekspektasi banyak orang. Kala itu, ia hanya mampu mencetak enam gol dari 44 penampilannya bersama Liverpool. Catatan inilah yang akhirnya membawa dirinya pergi dengan status pinjaman ke West Ham pada musim 2012/2013, sebelum akhirnya dipermanenkan klub berjuluk The Hammers tersebut di akhir musim.

Kendati sudah dipermanenkan, nasibnya tak kunjung membaik. Carroll selalu dihantui oleh cedera yang membuatnya harus absen panjang. Oleh karenanya, selama tujuh tahun terakhir, ia hanya mampu mencetak 33 gol dari 102 penampilannya bersama West ham di Premier League. Namun, dengan torehan minimnya itu, justru ada segelintir orang yang menganggap bahwa sebenarnya Carroll sangat berpengaruh bagi permainan West Ham.

Padahal, bentuk Carroll selama ini adalah sebuah gambaran dari karier seorang pesepakbola yang tidak memiliki kesan. Tidak ada satu momen pun yang lahir dan berkembang secara alami selama perjalanan karier seorang Carroll. Bahkan yang ada justru sebaliknya, mantan anak asuh Roy Hodgson di timnas Inggris itu hanya mampu menampilkan permainan yang terkesan melahirkan momentum.

Satu golnya saat pertandingan Inggris melawan Swedia di Euro 2012 misalnya. Ketika itu Andy Carroll menyambar umpan silang Steven Gerrard dengan penuh gairah dan power, lalu melompat seperti seekor paus besar yang melakukan akrobat di laut. Ia berhasil mencetak gol dengan aksinya itu, meski sebenarnya ia tidak terlalu banyak menyundul bola melainkan hanya menyeruduknya dengan amarah.

Maka, di waktu yang sama, penampilannya tersebut terasa seperti awal dari sesuatu karena saat itu Carroll masih berusia 23 tahun. Tapi tetap saja, itu hanya sekedar momentum sesaat, dan gol yang ia cetak, bahkan menjadi golnya yang terakhir untuk timnas Inggris. Yang jelas, Carroll memang bernasib buruk dengan perjalanan kariernya. Bayangkan saya, ia memainkan pertandingan terakhirnya bersama pasukan Three Lion hanya tiga bulan setelah golnya ke gawang Swedia tersebut.

Menilik akhir karier dari Andy Carroll

Andy Carroll sudah tidak muda lagi. Ia juga sudah bukan lagi seorang pemain yang penuh talenta, dan ia lebih pantas disebut sebagai pemain yang kehilangan talenta. Di samping cedera panjang yang selalu menyelimutinya, era sepakbola juga sudah berubah menjadi semakin modern. Ini membuat kualitas bermain seorang pesepakbola harus benar-benar bisa mengikuti pola permainan yang memang ada dalam era sepakbola modern.

Maka, agak sulit rasanya untuk seorang Andy Carroll, yang pernah bermain apik bersama Newcastle ketika sepakbola Inggris masih bingung dengan gagasan permainannya, untuk menerapkan era sepakbola modern ke dalam bentuknya. Kalaupun ingin memaksa, Carroll bias saja mengaitkan era masa lalu dan sekarang, dengan belajar teknik penguasaan bola atau menekan keluar bentuk masa mudanya. Baru kemudian, ketika ia sudah mahir dengan kombinasi tersebut, permainan era sepakbola modern bisa ia kuasai.

Namun, itu adalah solusi yang sulit. Karena sekali lagi, Carroll sudah tidak muda lagi, dan ia juga telah masuk ke dalam usia senja seorang pesepakbola. Di satu sisi, terdapat beberapa perubahan aturan di era sepakbola modern, yang memaksa setiap pemain harus patuh terhadap teknologi penyokong keputusan wasit (VAR), yang kerap menghasilkan kontroversi di akhir pertandingan.

Maka tak ayal rasanya jika menyebut semua kondisi itu adalah situasi yang akan mengakhiri karier seorang Andy Carroll. Perjalanan selama tujuh tahun terakhir juga telah membuat Carroll diperlakukan seperti semacam eksperimen. Pada intinya, sepakbola sudah tidak lagi bersahabat dengannya, dan bahkan sekarang, ia telah didorong untuk keluar dari ranah yang membesarkan namanya ini.

Epilog

Bagaimanapun, mari kita lihat cara aneh apa yang akan dilakukan Andy Carroll guna bisa mematahkan kondisi peliknya sekarang. Sejatinya, di usianya yang sudah 30 tahun ini, ia masih punya sepercik harapan untuk membuat sesuatu yang lebih baik untuk mengakhiri kariernya. Langkah paling tepat, tentu saja, ia harus kembali ke Newcastle, tempat di mana ia menjadi pemain yang dikenal seantero Inggris.