OUR NETWORK

Bhayangkara FC yang Sukses Manfaatkan Ego Bruno Matos

Bruno Matos menjadi motor serangan Bhayangkara FC yang baru.

Bruno Matos adalah pemain yang egois. Julukan ini disematkan oleh para pendukung Persija Jakarta kepadanya.

Bukan tanpa alasan para pendukung Persija menyematkan julukan tersebut. Matos sebenarnya direkrut sebagai penyokong Marko Simic, penyerang utama Persija, di lini depan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Dalam 7 laga yang ia jalani bersama Persija di ajang Liga 1, Matos hanya menyumbangkan 2 asis saja. Ia gagal mendukung Simic di depan. Malah, ia kerap bersitegang dengan Simic. Penyerang asal Kroasia itu tidak menyukai keegoisan Matos.

Beda cerita dengan di ajang AFC Cup 2019. Tampil sebanyak 6 kali, Matos berhasil menyumbangkan 7 gol. Kenapa bisa ia mencetak gol sebanyak itu? Ia diberikan keleluasaan di lini depan untuk mengobrak-abrik pertahanan lawan.

Alhasil, Matos pun disebut pemain egois karena perilakunya ini. Secara halus, ia didepak dari Persija di pertengahan musim. Torehan 0 golnya jadi alasan kenapa akhirnya Persija mengakhiri kontrak dengan Matos.

Beruntung, di tengah ketidakpastian yang melanda karier Matos usai dipecat Persija, ada satu klub yang mampu memanfaatkan egoisme Matos ini. Mereka adalah Bhayangkara FC.

***

Bhayangkara merekrut Matos pada awal September 2019. Ia direkrut untuk menambah ketajaman lini depan Bhayangkara. Selama putaran pertama Liga 1 2019, lini depan tim berjuluk The Guardian itu memang tidak bisa diharapkan.

Sosok-sosok seperti Herman Dzumafo, Dendy Sulistyawan, maupun Muhammad Nur Iskandar gagal menjawab ekspektasi sebagai goal getter. Mereka tidak mampu menghadirkan gol-gol bagi Bhayangkara. Alhasil, Matos didatangkan.

Kehadiran Matos pun sempat mengundang tanya, apalagi dengan embel-embelnya sebagai pemain egois. Akankah ia bisa bekerja sama dengan para pemain Bhayangkara yang lain dalam mencetak gol?

Paul Munster, pelatih baru Bhayangkara FC, menyadari hal tersebut. Namun, alih-alih mengesampingkan Matos, ia justru memanfaatkan keegoisan dari Matos ini. Dalam formasi dasar 4-3-3 andalannya, ia menempatkan sosok asal Brasil itu sebagai penyerang tengah.

Hasilnya ternyata berjalan baik bagi Bhayangkara. Matos sukses menyumbangk 5 gol dan 1 asis dari 10 laga yang sudah ia jalani bersama The Guardian. Penampilannya menanjak seiring dengan kepercayaan yang Munster berikan.

Jika ditanya apakah Matos masih egois, itu sudah pasti. Liukan yang kerap ia perlihatkan di Persija masih ia tunjukkan di Bhayangkara. Aksi dribel individunya juga sudah jadi pemandangan yang biasa kala Bhayangkara bermain.

Matos kerap mencari bola sendiri, lalu menyelesaikannya sendiri pula. Ia acap turun ke tengah, menjemput bola, lalu membawanya sendiri ke depan. Jika kesulitan, ia baru membagi bola dengan pemain lain, walau akhirnya ia kelak meminta bola lagi.

Sifat egoisnya ini masih terlihat dari permainan itu. Namun, yang membedakan adalah aksi-aksi individunya ini termaksimalkan di Bhayangkara. Jika di Persija ia harus berbenturan dengan Simic, di Bhayangkara, Munster memberikannya kebebasan untuk mengacak-acak lini pertahanan lawan.

Tidak hanya bagi Matos, berkah pun hadir bagi Bhayangkara berkat penampilan impresif Matos ini. Sekarang, mereka sukses membukukan tiga kemenangan dan dua hasil imbang dari lima laga terakhir yang dijalani di Liga 1.

Berkat hasil positif itu pula, kali ini Bhayangkara duduk di posisi 10 klasemen sementara Liga 1 2019 dengan raihan 35 poin. Jika konsisten sampai akhir musim, bukan tidak mungkin Matos akan sukses membawa Bhayangkara bertengger di papan atas klasemen.

***

Menjadi individualis adalah hal yang wajar, termasuk di sepak bola. Ada beberapa momen bahwa kemampuan individu mesti ditunjukkan oleh para pemain bola, untuk mengubah situasi di dalam lapangan.

Egoisme Matos pun jadi wajar di Bhayangkara. Justru, dengan egoismenya ini, Matos membawa sesuatu yang positif bagi Bhayangkara. Sumbangsih golnya membuat lini serang Bhayangkara semakin hidup. Ia juga bisa bermain dengan bebas tanpa kekangan dari pemain atau pihak lain.

Pada akhirnya, sepak bola dimainkan oleh 11 orang. Ke-11 orang yang ada di atas lapangan-lah yang menentukan kemenangan, bukan hanya satu orang semata. Apa yang ditunjukkan Matos ini, kelak akan menemui jalan buntu jika menghadapi tim yang kolektif.

Oleh karena itu, Matos tampaknya harus lebih percaya lagi dengan rekan-rekannya dalam beberapa laga ke depan. Karena, toh rekan-rekannya juga siap untuk membantunya mencetak gol, ketika hadir momen dalam sebuah pertandingan ketika Matos kesulitan mencetak gol.

Loading...