Canadian Premier League Bukan MLS!

Foto: Toronto Star.

Kanada akhirnya meresmikan kompetisi sepakbola profesional pertama mereka sejak 2006. Bertajuk Canadian Premier League (CPL), liga ini diisi tujuh kesebelasan di musim pertama.

Alberta mengirim dua kesebelasan: Cavalry FC dan Edmonton. Ontario juga kirim dua kesebelasan: Forge dan York 9 FC. Sementara daerah Nova Scotia, British Columbia, dan Manitoba masing-masing mengirim satu: Valour (Manitoba), Pacific (British Columbia), dan HFX Wanderers (Nova Scotia).

Kanada sejatinya sudah memiliki liga sepakbola sejak era 60-an. Dimulai dari Eastern Canada Profesional Soccer League (1961-1967) hingga Canada Soccer League. Canada Soccer League sejatinya sudah berdiri sejak 1926. Namun mereka tidak ada di bawah naungan FIFA dan menggunakan konsep turnamen dibandingkan liga.

CPL adalah bentuk kebangkitan sepakbola Kanada. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau juga ikut menyambut kedatangan liga baru ini. “Hari yang menyenangkan untuk semua penggemar sepakbola. Canada Premier League dimulai hari ini,” tulis Trudeau di Twitter miliknya.

Sama seperti Amerika Serikat sebelum kehadiran MLS, Kanada sering dipandang sebelah mata di dunia sepakbola. Warga negara di sana juga lebih fokus dan menggemari hockey ketimbang olahraga lainnya. Mereka bahkan sering disebut sebagai satu-satunya negara yang peduli hockey. Sama seperti Negeri Paman Sam sebagai satu-satunya yang peduli American Football.

Bukan MLS!

Foto: Total Soccer Project

CPL menggunakan sistem seperti MLS, franchise. Artinya, jumlah peserta liga bisa terus bertambah tanpa batasan yang jelas setiap musimnya. Namun beda dengan MLS, CPL bukan liga yang glamor.

Jika bicara soal liga dengan sistem franchise, biasanya akan muncul nama-nama terkenal yang mendarat di sana. Bukan hanya MLS, India Super League (ISL) dan A-League, Austria juga sama. Setidaknya Alessandro Del Piero bisa didaratkan ke sana.

Tapi hal itu tak dilakukan oleh CPL. Pemain paling terkenal mereka saat ini mungkin adalah Dominique Malonga. Penyerang tim nasional Kongo tersebut dikotrak Cavalry dengan latar belakang jebolan Prancis U19 dan mantan pemain akademi AS Monaco.

Dia juga pernah membela Torino, Cesena, Vicenza, Pro Vercelli, Hibernian, dan Elche sebelum ‘tersesat’ di Kanada. Selain Malonga, level pemain CPL hanya seperti Elimane Oumar Cisse (pemain tim nasional Senegal) dan Jordan Brown, mantan pemain akademi West Ham yang pernah membela Hannover 96.

Tentu kalah jauh dari MLS yang diisi oleh Zlatan Ibrahimovic, Wayne Rooney, dan Carlos Vela. Dibandingkan ISL dan A-League juga kalah. Setidaknya ISL memiliki Matt Mills. A-League ada  Ritchie De Laet, Jem Karacan, dan Ola Toivonen. Semua diakui oleh dunia. Bukan pemain yang gagal bersinar seperti Jordan Brown.

Demi Masa Depan

Foto: Sporting News

Akan tetapi, CPL juga sebenarnya tidak dibentuk untuk mencari lampu sorot seperti MLS. “CPL adalah bentuk realisasi dari para penggemar sepakbola di Kanada. Terutama anak-anak muda, generasi penerus bangsa,” kata Ketua Pengembangan CPL Jason deVos.

“Dengan keberadaan CPL mereka akan memiliki kesebelasan yang dekat secara emosional, menjadi representasi kebanggan daerah,” lanjutnya.

“Berkat CPL, tim nasional Kanada akan memiliki kolam talenta yang lebih luas. Pasalnya, selama ini opsi kami sangat terbatas,” buka Ryan Telfer, pemain Toronto FC yang bermain untuk York 9 di musim 2019.

“Tapi dengan bermain di negeri sendiri, mendapatkan pertandingan kompetitif secara stabil, para pemain muda semakin bisa mengasah talenta mereka. Ini sangat penting bagi tim nasional,” lanjut Telfer.

Kanada sebenarnya juga memiliki banyak talenta di Eropa. Scott Arfield di Rangers, David Edgar main untuk Hartlepool, hingga Jonathan David membela KAA Gent.

Demi Tim Nasional

Foto: AS

Kanada pernah lolos ke Piala Dunia pada 1986. Setahun sebelumnya, mereka juga menjadi juara Gold Cup atau Piala CONCACAF. Akan tetapi, sejak saat itu prestasi Kanada menurun. Gold Cup 2000 adalah piala terakhir yang diangkat oleh Kanada. Pada 2017, mereka hanya lolos sampai perempat-final di turnamen tersebut.

Biasanya, talenta Kanada akan membela Toronto FC, Vancouver Whitecaps, atau Montreal Impact di MLS. Namun karena MLS lebih fokus mendatangkan bintang-bintang yang telah memiliki pamor tinggi, talenta mereka sering tertutup. Cyle Larin yang membela Besiktas adalah sebuah gerhana. Jarang terjadi.

Padahal sejak dulu, Kanada memiliki banyak talenta. Julian de Guzman,  Atiba Hutchinson, dan Paul Stalteri adalah beberapa talenta asal Kanada yang sempat mewarnai kompetisi-kompetisi terbaik di Eropa. Masalahnya mereka tidak memiliki tempat untuk regenerasi. Oleh karena itulah dibentuk CPL.

“Membentuk liga profesional adalah kepingan yang selama ini hilang di Kanada. Kami punya banyak talenta. Tapi mereka tidak memiliki tempat berkembang untuk memenuhi potensi tersebut,” jelas deVos yang juga merupakan mantan pemain tim nasional Kanada.

CPL memiliki potensi untuk menjadi pesaing MLS. Menurut laporan Mediapro, siaran CPL di pekan pertama sukses menarik minat. Tapi bukan itu tujuan utama mereka. Tujuannya ada di tim nasional. Melihat Alphonso Davies yang kini bermain di Bayern Munchen. Atau Ballou Tabla yang membela Barcelona, ini adalah momentum yang tepat untuk Kanada.