Musim 2007/2008 merupakan musim terbaik Benjani Mwaruwari. Dari 23 penampilan di Premier League, ia berhasil mencetak 12 gol. Karena alasan ini pula, Sven-Goran Eriksson tertarik untuk mendatangkannya ke Manchester City.

Momen itu hadir pada musim dingin 2008. Pada 31 Januari 2008, City secara resmi menawar Mwaruwari senilai 7,6 juta paun yang diterima oleh Portsmouth. Pemain berkebangsaan Zimbabwe tersebut harus tiba di tempat latihan City sebelum tengah malam. Untuk itu, ia memilih naik pesawat agar cepat sampai ke Manchester.

Akan tetapi, Mwaruwari justru ketinggalan pesawat; empat kali secara beruntun! Ini membuatnya gagal untuk menyelesaikan kepindahannya ke Manchester City. Soalnya, ada sejumlah hal yang mesti dilakukan seperti tes medis dan penandatanganan dokumen. Di sisi lain, Portsmouth sudah mengumumkan pengganti Mwaruwari yakni Jermain Defoe dari Tottenham Hotspur.

Kepindahan Mwaruwari yang Tertunda

Gagalnya kepindahan Mwaruwari disesali oleh Eriksson. Ia pun berharap proses tersebut bisa diselesaikan sepekan kemudian. Hubungan City dengan Portsmouth pun merenggang dan bikin Mwaruwari bagai orang terbuang.

Premier League sendiri akhirnya membolehkan transfer tersebut untuk disahkan setelah meneliti dokumen dan menilai penundaan transfer tersebut beralasan. Apalagi, sebelumnya, kasus serupa juga pernah terjadi ketika William Gallas pindah dari Chelsea ke Arsenal pada 2006.

Jadi, ceritanya City dan Southampton sepakat dengan biaya transfer Mwaruwari pada Kamis, 31 Januari 2008. City pun menunggu kedatangan Mwaruwari yang terbang dari Bandara Southampton. Akan tetapi, Mwaruwari tak kunjung tiba.

Eriksson pun kesal dibuatnya. Di hari itu, ia harus ke London untuk mengurus izin kerja. Eriksson sudah kembali ke Manchester pada 17:30 dan dijadwalkan untuk bertemu Mwaruwari.

“Dia tidak datang, jadi aku bertanya, ‘OK, kapan dia akan datang?’ dan aku diberitahu (dia akan datang pada pukul) 9 malam,” cerita Eriksson.

Akan tetapi, Mwaruwari tak kunjung datang juga. Eriksson menunggu sampai pukul 23:15 tapi batang hidung Mwaruwari tak jua terlihat. Ia tak tahu apa yang terjadi pada pemain kelahiran 13 Agustus 1978 tersebut. Namun, Eriksson diberitahu kalau pesawatnya dibatalkan.

Mwaruwari tiba di detik-detik terakhir. Ia melakukan tes medis sederhana. City kemudian mengirimkan dokumen pembeliannya sekitar pukul 23:55. Di saat yang sama, CEO Portsmouth, Peter Storrie, juga mengirimkan dokumen pembelian Defoe untuk disahkan. Akan tetapi, Premier League menelepon pada pukul 00:15 yang menyatakan kalau prosedur admininstratif kepindahan Mwaruwari tak selesai tepat waktu. Ini yang membuat City meminta keringanan agar transfer bisa disahkan.

Ada cerita unik dari Storrie soal kenapa Mwaruwari tak kunjung tiba di City. Mwaruwari sebenarnya sudah tiba di bandara dan siap untuk terbang ke Manchester. Sembari membunuh waktu, ia memilih tidur siang. Sial baginya karena tidurnya kelamaan. Pesawat pukul 15:15 dan 17:00 pun ia lewatkan.

Jadwal selanjutnya adalah pukul 7 malam. Sial baginya karena jadwal penerbangan tersebut dibatalkan. Ia pun membeli penerbangan selanjutnya, yakni pada 20:30. Nasib buruk kembali menaunginya karena pesawatnya delay.

Namun, cerita Storrie tersebut dibantah oleh Mwaruwari sendiri. Ia menyangkal kalau dirinya ketiduran dan membuatnya ketinggalan pesawat.

“Tidak, aku tak ketiduran, masalahnya adalah aku tinggal di Bournemouth dan tak ada penerbangan, jadi aku harus jalan ke London. Penerbangan pertama dari sana ditunda, jadi aku telat,” ucap Mwaruwari.

Selain kedatangannya yang telat, satu hal yang membuat transfer tertunda adalah ketika City mengetahui kalau Mwaruwari pernah menjalani operasi lutut 18 bulan sebelumnya. The Citizens pun berusaha bernegosiasi kembali. Akhirnya, diputuskan bahwa City membayar Mwaruwari senilai tiga juta dan sisanya dibayar beberapa kali.

Cerita ini tampakna menjadi cerita terseru dari Mwaruwari. Karena setelah pindah ke Manchester City, kariernya bak terombang-ambing di Air Terjun Niagara, alias turun bebas. Sejak saat itu, penampilannya tak pernah lebih 21 pertandingan di setiap musimnya. Dari Premier League, ia pindah ke Divisi Championship, lalu kembali ke Premier League, tapi bukan di Inggris melainkan di Afrika Selatan.