OUR NETWORK

SD Eibar, Tentang Kepedulian Warga, dan Kebangkitan Sebuah Kota

SD Eibar adalah klub kecil dengan rataan penonton paling kecil di La Liga, klub ini juga merupakan klub dengan budget terkecil di La Liga, namun kecintaan kota atas klub ini tidak perlu diragukan.

Sepakbola selalu menawarkan hal-hal yang tidak hanya terbatas pertandingan dalam 90 menit, setelahnya, ada rivalitas, gairah dan ragam bentuk lainnya. Sepakbola juga bisa menggambarkan kondisi atau keadaan dimana tim berasal, apakah sedang dalam kedaan terpuruk, berjaya, atau dalam fase transisi untuk bangkit kembali.

SD Eibar adalah kesebelasan dari Kota Eibar. Ia terletak di bagian timur Bilbao yang sempat menjadi kawasan industri yang cukup besar di Basque bahkan di Spanyol pada masa perang sipil pada era 1936-1939.

Industri yang dihasilkan Eibar adalah metal dan beberapa senjata tangan laras panjang dan mencapai puncaknya pada 1970-an. Kemudian kota ini seolah lenyap seiring dengan menurunnya produksi ,etal di daerah mereka. SD Eibar yang berdiri sejak 1940, merasakan getahnya. Mereka sulit naik ke La Liga karena kurangnya sokongan dana.

SD Eibar lebih banyak berkompetisi di tingkat keempat atau Tercera Division selama kurang lebih 28 musim. Meskipun demikian, SD Eibar sangat dicintai warganya yang berpenduduk 27 ribuan jiwa dengan luas wilayah 1100 (ralat: 24,7 kilometer persegi). Semua penduduk Eibar dipastikan adalah suporter SD Eibar. Setiap anak kecil di Kota Eibar, pasti memiliki Jersey SD Eibar baik laki-laki maupun perempuan. Tiap depan jendela rumah-rumah warga pasti dikibarkan jendela SD Eibar, dukungan penduduk terhadap klub, tidak perlu diragukan.

Pada 1980 ketika Kota Eibar mengalami krisis akibat industri mereka yang lesu dan mulai ditinggalkan, sepakbola dijadikan pelarian bagi para penduduk dari tekanan yang mereka alami. Dukungan terhadap SD Eibar mengalir sangat deras.

Ketika SD Eibar berhasil promosi ke Segunda Division pada musim 1988/1989, kas keuangan SD Eibar dianggap tidak cukup berkompetisi di tingkat kedua tersebut. Warga langsung membantu dan melakukan kampanye menggalang dana, guna memastikan SD Eibar tetap berkompetisi di Segunda Division. Hebatnya, penggalangan dana itu sukses dan SD Eibar tetap mampu bertahan di Segunda Division hingga musim 2008/2009.

Menurut Sid Lowe, jurnalis yang fokus di persepakbolaan Spanyol, SD Eibar merupakan contoh “tim rakyat”. Semua dukungan Kota Eibar tidak akan terbatas bagi klub SD Eibar. “Mereka promosi pada musim 1988/1989, ketika kondisi ekonomi dan sosial kota sedang buruk. Dalam sekejap kota menjadi gegap gempita dan hidup, mirip seperti Real Madrid menjuarai La Liga atau sedang menang El Classico. Turunnya SD Eibar ke tingkat kedua tidak membuat kota menjadi murung, mereka tetap mendukung SD Eibar sebagai klub kebanggaan mereka,” ujar Sid di The Guardian, 2015 lalu.

Butuh lima musim bagi SD Eibar untuk kembali ke Segunda. Sempat dianggap sebelah mata, mereka mampu menjuarai Segunda Division sekaligus meraih tiket promosi ke La Liga.

Kota Eibar gegap gempita diiringi Alpha Alarm sepanjang malam. Alpha Alarm sendiri merupakan alarm resmi bagi kota untuk memulai aktivitas industri pada pukul 7.35 pagi. Kota berpesta semalaman, seakan mendapatkan gairah yang mereka peroleh pada 1989 ketika mereka sukses promosi ke Segunda Division. Kehadiran SD Eibar merupakan bagian sejarah baru bagi klub dan kota Eibar sendiri. Ini merupakan bagian dari kebanggan akan identitas sebagai kota industri yang sempat mati.

Masalah kemudian muncul. Dana menjadi pengganjal mereka untuk promosi. Namun, dukungan penduduk yang sangat besar dalam kampanye “Defend Eibar”. Sebanyak 1800 penduduk Eibar kemudian turut serta dalam kampanye ini, kemudian meluas hingga 10.000 pendukung dari 60 negara berbeda. Sistem kampanye ini adalah pembelian saham klub, untuk membuat SD Eibar mampu mengarungi La Liga. Sebanyak 16 juta Euro berhasil dikumpulkan untuk kelangsungan klub.

Musim pertama di La Liga diarungi SD Eibar dengan tidak mudah. Stadion mereka, Ipurua Muncipal Stadium, hanya berkapasitas 7.084 penonton, yang bahkan lebih kecil dari stadion kesebelasan Liga 2 di Indonesia.

Pada akhir musim 2014/2015, mereka menempati posisi 18 klasemen akhir yang mestinya membuat mereka degradasi kembali ke Segunda Division. Namun, keuangan Elche yang menempati peringkat ke-17 dianggap kurang sehat. Keterlambatan gaji dan utang yang membengkak membuat Elche-lah yang degradasi Ke Segunda.

Agar tak seperti Elche, SD Eibar terus berbenah menjadi sebuah klub yang matang dan aman secara finansial. Mereka menyesuaikan budget ketat mereka untuk terus bisa bertahan di La Liga.

Presiden klub, Amaia Gorostiza, menjelaskan pentingnya penyesuaian budget dan membuat klub sebisa mungkin tanpa utang dan taat pajak. “Kami belajar dari Elche. Mereka finis di posisi ke-17 di atas kami. Namun mereka tidak membayar pajak dan terkena masalah finansial karena mengontrak pemain-pemain yang mahal. Di sini tidak begitu. Kami menghitung secara rinci dan tidak akan membeli pemain yang melebihi anggaran. Kami ingin klub ini sehat secara finansial dan tetap menjadi tim kebanggan masyarakat Kota Eibar,” kata Gorostiza.

Musim 2015/2016 SD Eibar mampu menempati posisi ke-14 klasemen akhir. Musim lalu, mereka bahkan menembus 10 besar klasemen akhir. Musim ini, hingga pekan ke-23, Eibar sukses menempati peringkat kedelapan. Ini membuat gairah kota kembali bangkit. Eibar bukan sekadar klub, tapi juga menjadi media promosi buat kota tersebut. Investor mulai melirik Kota Eibar sebagai pasar dan mulai membuat industri di kota ini.

Terkahir, Wiko, sebuah perusahaan handphone dari Prancis, membuat Eibar sebagai media mereka untuk promosi dan membuka pasar di Spanyol. Beberapa investor juga mulai kembali melirik kota Eibar sebagai kota wisata sejarah, dan membuat kota kembali hidup.

Kini Kota Eibar bangkit dari keterpurukan yang mereka alami pada 1980-an, dan SD Eibar adalah contoh bagaimana simbiosis antara sepakbola dengan kebangkitan sebuah kota. Roberto Albizu, salah satu pemilik bar di kota Eibar sekaligus suporter fanatik, menjelaskan bagaimana SD Eibar dibangun atas gairah dan keyakinan terhadap klub.

“Kami tidak dimiliki pengusaha kaya. Di kota ini tidak ada pengusaha yang besar, atau Syeikh dari Arab, pemilik Rusia atau Tiongkok yang kaya raya. Klub hanya memiliki kami, dan kami hanya memliki klub ini, kami mencintai klub ini dan akan terus mendukung klub ini. Kami tidak pernah meninggalkan klub ini dalam kondisi apapun,” kata Albizu.

Untuk Anda yang pernah menyaksikan Eibar di layar kaca, Anda akan mendengar Alpha Alarm kencang yang terdengar di seluruh kota. Kini alarm ini akan berkumandang 3 kali: 1 jam sebelum kick-off untuk mengingatkan warga datang ke stadion dan mendukung SD Eibar bermain, tengah babak dan ketika pertandingan berakhir. Alarm ini adalah penanda sekaligus gambaran bagaimana kota ini sangat mencintai dan mendukung SD Eibar.

Editor: Frasetya Vady Aditya

Loading...