Nama Martin Edwards mungkin tidak terlalu sering terdengar saat ini. Padahal ia adalah chairman Manchester United sejak 1980 hingga 2002. Perannya sebagai chairman tidak bisa dianggap remeh mengingat ia merupakan sosok di balik bangkitnya United menjadi klub kuat di sepakbola Inggris.

Baru-baru ini sosok berusia 72 tahun tersebut meluncurkan otobiografi yang menceritakan masa-masa dia memimpin Manchester United. Buku yang berjudul Red Glory: Manchester United and Me rencananya akan dirilis pada 7 September mendatang.

Dalam buku tersebut tersempil cerita-cerita menarik yang akan kami bahas pada tulisan ini ditambah dengan beberapa kutipan ketika diwawancarai oleh Daily Mail.

From Korea With Love Concert

Melewatkan Gol Ryan Giggs

Salah satu kejadian yang paling fenomenal sepanjang sejarah United adalah ketika Ryan Giggs  mencetak gol melalui solo run ke lini pertahanan Arsenal dalam semifinal Piala FA 1999. Akan tetapi gol bersejarah tersebut dilewatkan oleh Martin yang merasa stres sepanjang babak tambahan waktu tersebut.

“Tekanannya sangat luar biasa selama perpanjangan waktu. Jadi saya memutuskan untuk sembunyi di parkiran mobil. Saya melewatkan gol terindah sepanjang masa.”

“Saya mendengar teriakan namun tidak tahu untuk siapa mereka berteriak. Syukurlah karena teriakkan itu berasal dari Ryan (Giggs). Momen besar kami untuk meraih treble pertama sepanjang sejarah, jadi sangat baik sebenarnya jika melihat gol tersebut.”

Fergie Pernah Mengundurkan Diri

Pada 1998, United dikalahkan Arsenal dalam perebutan gelar liga. Hal ini yang membuat Martin dan beberapa petinggi United lain merasa tidak puas. Martin kemudian mempertanyakan komitmen dan loyalitas Sir Alex yang langsung dibalas dengan amarah dari pria Skotlandia tersebut.

“Kami gagal memenangkan apapun dan saya tidak puas. Saya tidak tahu apakah dia sudah kehilangan minat dalam sepakbola dan beralih ke kuda. Jadi kami menceritakan kepada Roland Smith (salah satu Chairman lain) dan mengirimkan Fergie sepucuk surat. Dia menerimanya lalu masuk ke ruangan saya dan marah. Dia berkata ‘Jika itu yang Anda pikirkan tentang saya maka saya mengundurkan diri,’ kemudian dia pergi.”

Fergie kemudian meralat ucapannya beberapa hari kemudian. Dan pada musim selanjutnya United mencetak sejarah dengan menjadi kesebelasan Inggris pertama yang mampu memenangi tiga gelar dalam satu musim.

Perekrutan Cantona Secara Mendadak

United sebenarnya telah merekrut Dion Dublin untuk mengisi lini depan United pada Premier League 1992/1993. Namun cederanya Dublin membuat United kembali harus merekrut pemain. Fergie sebenarnya lebih menginginkan Alan Shearer atau Paul Gascoigne. Namun berkat panggilan telepon dari Leeds United, Iblis Merah berhasil merekrut Eric Cantona yang sebenarnya tidak diminati Fergie.

“Saya berada di kantor dan Bill Fotherby (pemilik Leeds) menelepon dan bertanya tentang Denis Irwin. Saya mengatakan tidak, tapi tiba-tiba saya terpikir tentang Cantona. Saya belum pernah membicarakan soal Cantona dengan Alex (Ferguson), tapi yang saya tahu Cantona ingin pindah. Saya menceritakan apa yang baru saya alami. Saya menelepon Alex dan dia berkata: ‘Baiklah aku akan memilih Cantona.”

“Keesokan harinya saya menelepon Bill dan berkata kami ingin merekrutnya. Kami mencooba merekrutnya dengan 1 juta pounds tapi Bill meminta 1,6. Mendengar angka itu saya berkata ‘Anda bisa mengatakan apa yang Anda suka.”

Kesepakatan di Dapur dan Kesabaran yang Membuahkan Hasil

Dalam buku ini, Martin mengungkapkan bahwa kesepakatan kerja sama antara United dan Fergie dilakukan di dapur rumah adik ipar Fergie di Glasgow. Ketika itu Martin ditemani Sir Bobby Charlton pergi ke Skotlandia dan bertemu dengan mantan manajer Aberdeen tersebut di tempat parkir sebelum kontrak Fergie disepakati di dapur adik iparnya.

Edwards juga menceritakan bagaimana para penggemar United mengirimkan surat kepadanya untuk menyingkirkan Fergie pada 1990. Meski pada akhir musim, mereka memenangi Piala FA namun banyak suporter yang belum puas.

“Saya mendapat banyak surat yang meminta saya menyingkirkannya. Saya hanya berharap bisa sukses karena saya tahu betapa beratnya Alex bekerja untuk pemain muda namun jika di akhir musim tidak ada peningkatan maka kami harus melakukan sesuatu. Tapi itu (pemecatan) tidak ada dalam benak saya. Saya hanya berpikir ‘Ayo Alex balikkan situasi ini.”

Beruntung kesabarannya membuahkan hasil dua musim berselang. United menjuarai kompetisi tingkat tertinggi setelah 26 tahun absen. Selama Martin Edwards dan Sir Alex berkolaborasi, mereka mendapatkan 17 trofi termasuk Liga Champions pada musim 1998/1999.