Transfernya ke Chelsea menjadi tonggak karier bagi Victor Moses. Orang-orang melihatnya sebagai pria kekar yang pemalu, yang tak takut dengan apapun. Di balik penampilannya, di dalam hatinya yang terdalam, ia menyimpan tragedi pilu yang membentuknya menjadi pesepakbola seperti sekarang ini.

Moses begitu gembir ketika ia berkostum Chelsea. Itu seperti menjadi puncak karier baginya. Beberapa tahun sebelumnya, ia adalah pencari suaka dari Nigeria. Kedua orang tuanya dibunuh. Dan kini, Moses merasa mereka tengah memandangnya dengan bangga dari surga.

Hidup di Chelsea

Jelang final Piala Super UEFA di Monaco, Moses disuruh berdiri di kursi dan memperkenalkan diri. Setelah itu, ia diminta untuk bernyanyi dan menari sebagai bagian dari ospek pemain baru. Moses bingung karena ia tak tahu harus bernyanyi lagu apa. Ia pun menyanyikan lagu rapper Nigeria, Skepta. Orang-orang cuma bengong, tak apa yang penting mereka terhibur, begitu dalam benak Moses.

From Korea With Love Concert

Setelah diospek, Moses mulai menjalani sesi latihan. Ia terpukau ketika bertemu rekan setimnya seperti John Terry, Ashley Cole, sampai Fernando Torres. Ia tak percaya benar-benar bisa bermain untuk tim sebesar Chelsea.

Ia juga melihat trofi Liga Champions di tempat latihan. Rekan setimnya berfoto dengan trofi tersebut. Namun, ia tak melakukannya, dan cuma menyentuhnya sambil lewat. ia berharap bisa berfoto dengan trofi tersebut dengan keringatnya sendiri.

Kerja Keras yang Berbuah Hasil

Keteguhan hati dan kekuatan karakter Moses terlihat dengan jelas. Mudah untuk menghubungkannya dengan cara ia mengatasi trauma masa kecilnya. Ayahnya, Austin, adalah seorang pendeta Kristan di Kaduna. Sementara itu, ibunya, Josephine, membantu pekerjaan sang suami.

Kisah Moses amat tragis. Ketika itu, terdapat konflik antaragama di Nigeria. Pada 2002, kerusuhan pecah. Orang tua Moses jelas jadi target penyerangan. Keduanya diserang dan dibunuh di rumah mereka sendiri.

Moses sedang main bola di jalanan ketika mendengar kabar kedua orang tuanya dibunuh. Ia pun menjadi sasaran selanjutnya. Rekan-rekannya menyembunyikannya selama seminggu, kemudian ia dikirim ke Inggris untuk mencari suaka.

Moses tiba di Inggris dengan selamat. Akan tetapi di sana ia benar-benar sendiri dan tak mengenal siapapun. Ia pun ditampung di rumah orang tua angkatnya di London bagian selatan.

“Jelas, dimanapun mereka sekarang, mereka akan bangga padaku melihat dengan sangat bangga,” kata Moses soal orang tuanya.

Moses sendiri enggan menceritakan bagaimana ia berjuang dengan trauma masa kecil tersebut. Akan tetapi, ia menyebut kalau kerja keras-lah yang membimbingnya dan itu sudah ada sejak awal.

“Aku harus berterima kasih pada Tuhan karena aku ada di sini sekrang, ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan dan jika aku terus bekerja keras, siapa tahu, aku mungkin akan berakhir di Barcelona suatu hari nanti,” kata Moses saat itu.

Soal Masa Lalu 

Moses ingat betul masa lalunya bermain bola di jalanan Nigeria. Ia dan rekan-rekannya tak pernah pakai sepatu. Dengan bertelanjang kaki dan bola seadanya, mereka mulai bermain.

Moses sangat ingin menjadi pesepakbola profesional. Ia dibawa oleh Crystal Palace ke akademi mereka. Moses juga disekolahkan ke Whitgift, sekolah swasta yang terkenal dengan fasilitas nomor satu.

Palace sadar betul kalau Moses adalah anak ajaib yang sangat produktif di depan gawang. Bersama Whitgift, ia berhasil menjuarai FA Youth Cup pada 2005. Mereka mengalahkan Grimsby dengan skor 5-0 yang kesemuanya dicetak Moses.

Debutnya di Palace terjadi pada usia 16 tahun. Ia pun dipanggil oleh timnas Inggris di seluruh kelompok usia muda. Ia meraih Golden Boot di Piala Eropa U-17 pada 2007. Semuanya berjalan mulus sampai tingkat U-21. Moyes saat itu cuma memainkannya sekali melawan Uzbekistan pada 2010. Ia pun diganti saat turun minum. Setelahnya, ia tak pernah dipanggil lagi. Setelah itu, Moses mantap membela timnas Nigeria.

Moses sadar Inggris selalu memproduksi pemain bagus setiap tahunnya. Itu ia sadari ketika sulit baginya kembali menembus timnas. Keputusannya memilih Nigeria disambut gembira suporter di Afrika. Di saat yang sama, Pearce menelepon dan mempertanyakan keputusannya tersebut.

Memilih Nigeria adalah keputusan tepat bagi Moses. Ia membantu Nigeria menjuarai Piala Afrika 2013 serta ada di tim Nigeria di Piala Dunia 2014 dan Piala Dunia 2018.

Memilih Nigeria juga jadi keputusan penting karena bertahun-tahun sebelumnya, ia diselundupkan ke Inggris untuk bisa tetap hidup. Di Nigeria pula orang tuanya terburuh oleh bangsanya sendiri. Memilih Nigeria berarti berdamai dengan luka dan trauma masa kecilnya.

Sumber: The Guardian