2 Faktor yang Bikin Rivalitas North West Derby Begitu Panas

Liverpool baru saja mengalahkan Manchester United (MU) pada pertandingan pekan ke-22 Liga Primer Inggris 2019/2020. Para pemain Liverpool dan pendukungnya merayakan kemenangan dengan semangat luar biasa di Stadion Anfield, Minggu (19/01).

Perayaan kemenangan Liverpool dan suporternya bukan sekadar untuk memantapkan posisi di klasemen. Melainkan ada nilai-nilai sejarah pesaingan sengit antara Liverpool dan MU. Itulah mengapa laga ini akan selalu terasa emosional bagi kedua kubu.

Persaingan Kanal di North West

Ada persaingan ekonomi di Inggris sejak Revolusi Industri 1790 sampai di antara 1820 dan 1840. Persaingan itu tercipta antara Kota Liverpool dengan Manchester. Awalnya, tidak ada persaingan kentara karena antara kota di Barat Laut Inggris itu saling membutuhkan satu sama lain.

Manchester adalah kota yang jauh lebih padat penduduknya hingga abad ke-18. Pabrik kapas adalah keberhasilan yang penting di Manchester di Inggris. Sementara Liverpool tumbuh sebagai pelabuhan laut utama.

Sejak itu juga Liverpool menggantikan Manchester sebagai kota kedua Kerjaan Inggris. Kanal-kanal seperti Bridgewater, Mersey dan Irwell Navigation dibangun. Ditambah dengan Liverpool dan Manchester Railway sebagai kereta api antar kota pertama di dunia.

Kereta itu mengangkut bahan mentah dari pelabuhan Liverpool dan kemudian dikirim ke kota-kota. Warga Kota Liverpool memang menggantungkan hidup pada pelabuhan-pelabuhan waktu itu. Termasuk menerima bahan mentah kapas dan tekstil untuk dikirim ke Manchester yang merupakan kota fashion.

Kedua kota metropolitan di region North West Inggris itu pun berjarak sekitar 56 km, sehingga proses distribusi bahan mentah cukup cepat untuk diolah. Maka dari itu kedua kota ini penting bagi perekonomian Inggris.

Tapi ketegangan antara buruh pelabuhan dan pabrik di Manchester mulau muncul sejak 1894. Yaitu ketika Manchester membangun kanal pada 1894 bernama Manachester Ship Canal. Kanal itu dibuat di sungai buatan Mersey yang melintasi Manchester.

Akibatnya, kapal-kapal bisa langsung ke wilayah Manchester tanpa perlu singgah dulu ke Liverpool. Penduduk Liverpool yang banyak menggantungkan hidup di pelabuhan pun berkurang penghasilannya. Para politisi Liverpool juga tidak kalah menentang pembangunan kanal tersebut.

Apalagi pada saat itu kebutuhan batubara semakin meningkat. Ditambah dengan pola perdagangan yang disebabkan oleh pertumbuhan pasar tenaga kerja sehingga menurunkan manufaktur di Inggris. Sementara Manchester ingin mempertahankan warisan-warisan manufaktur sehingga terjadi persaingan antara kanal.

Lalu persaingan antara buruh pelabuhan dan pabrik itu dilampiaskan ke dalam sepakbola. Salah satu yang paling kentara adalah ketika Liverpool membuat Newton Heath (nama awal MU) degradasike divisi dua dalam pertandingan play-off 1894.

Persaingan Prestasi Sejarah dan Era Milenial

Selain faktor distribusi manufaktur, rivalitas antara Liverpool dengan MU tidak lepas dari sejarah prestasi di kompetisi sepakbola. Sejak 1900/1901, kedua kesebelasan itu saling berbagi kesuksesan di Liga Inggris.

Kesuksesan Liverpool di Liga Inggris berakhir pada 1990-an. Selanjutnya, kesuksesan meraih prestasi di Inggris menjadi dominasi MU. Total, MU meraih 20 gelar Liga Inggris yang unggul dua gelar dari Liverpool.

Soal prestasi juga sering dijadikan peperangan komentar kedua kubu. Seperti yang diutarakan Ole Gunnar Solksjaer, Manajer MU. “Saya yakin kami tak perlu menanti hingga 30 tahun untuk merebut trofi Liga Primer Inggris,” cetus Ole ketika sebelum pertemuan 19 Januari lalu, seperti dikutip The Telegraph.

Faktor ekonomi industri dan sejarah prestasi itulah yang membuat pertandingan berjuluk North West Derby ini selalu panas. Kartu kuning dan merah wajar jika dikeluarkan wasit ketika pertandingan ini.

Rata-rata, kedua pemain kesebelasan saling membenci. Pemain-pemain seperti Gary Neville, Steven Gerrard, Wayne Rooney dan lain-lain, pernah terang-terangan ketidaksukaannya terhadap masing-masing klub ini.

Meskipun ada beberapa pemain yang pernah membela kedua kesebelasan ini, yaitu Michael Owen, Paul Ince, Peter Beardsley, Phil Chisnall dan Tom Chorlton. Pertemuan Derby North West semakin panas sejak Liga Primer Inggris 2011/2012.

Situasi itu didasari oleh aksi rasisme Luis Suarez kepada Patrice Evra. Pada putaran pertama, Suarez memanggil Evra dengan kata negrito. Tapi Suarez menyangkal bahwa itu adalah panggilan rasis. Perbuatan mantan penyerang Liverpool itu membuatnya mendapat hukuman larangan bertanding delapan kali di Liga Primer Inggris dan Piala FA.

Kemudian Suarez dan Evra saling berhadapan lagi pada putaran kedua. Sebelum sepak mula, Suarez mengabaikan jabatan tangan Evra karena masih dendam atas hukuman yang didapatkanya. Tindakan Suarez juga menyulut amarah Danny Wellbeck dan Rio Ferdinand dan pertandingan pun berjalan panas.

“Pertandingan ini adalah yang pertama saya cari ketika jawdal keluar di awal musim,” kata Rio Ferdinand, mantan Bek MU, ketika berbicara kepada MUTV.

Sampai akhirnya MU menang dengan skor 2-1 dan Evra melakukan perayaan kemenangan di dekat Suarez dan para pendukung Liverpool. Tragedi ini yang membuat pendukung zaman sekarang semakin menyadari betapa penting dan panasnya North West Derby.