Pesepakbola punya karier yang tidak panjang. Saat sudah mencapai 30 tahun, mereka harus bersiap untuk berhenti kapan saja. Bisa jadi karena cedera yang menghinggapi atau sudah tidak diminati.

Ketidakpastian adalah sahabat karib pesepakbola. Selain soal karier, juga soal di mana mereka tinggal. Hal ini berlaku bagi para pesepakbola yang mengadu nasib di Eropa. Pun dengan Diego Forlan.

Ia awalnya cuma anak muda pada umumnya sampai akhirnya Manchester United merekrutnya pada 2002. Penampilannya juga tak mengecewakan, termasuk membantu United juara Premier League 2002/2003 dan Piala FA 2003/2004. Sejak saat itu, ia kian akrab dengan yang namanya ketidakpastian.

Keputusan Besar Soal Menikah

Usai dari United, Forlan mengelana ke Villarreal, Atletico Madrid, Inter Milan, lalu Internacional hingga 2013. Di tahun tersebut, Forlan membuat keputusan besar dengan menikahi kekasihnya, Paz Cardoso.

Mengapa menjadi keputusan penting? Karena tiga tahun sebelumnya, ia sudah bertunangan dengan model Argentina, Zaira Nara, tapi akhirnya putus juga.

Di usianya yang ke-34 saat itu, Forlan sadar kalau transfer di sepakbola memaksa pesepakbola untuk tinggal bersama dengan kekasihnya. Terkadang berhasil dengan tinggal bersama sepanjang hidupnya, tapi tak sedikit yang gagal.

Ia akhirnya memilih menikahi Paz dan membawanya turut serta kemanapun ia berlaga. Ada sejumlah kekhawatiran termasuk bagaimana cara Paz untuk mengatasi ketidakpastian. Setelah menikah, yang paling utama tentu adalah rumah. Karena itu adalah tempat yang akan mereka tinggali untuk waktu yang lama.

Pindah dari Internacional

Forlan dan Paz menikah pada 2 Juli 2013. Keduanya bulan madu di Maladewa dan bersiap untuk menghadapi 2014 bersama-sama.

Forlan memang senang jalan-jalan. Momen bulan madunya ini jadi penting karena ia bisa menghabiskan sepekan di tempat yang tidak ramai, tidak ada kendaraan, tidak ada rapat jelang pertandingan, dan tidak ada latihan.

Keruwetan itu mulai terjadi saat ia kembali ke Montevideo, lalu ke Porto Alegre untuk kembali berlatih bersama Internacional. Ia mulai dihubungi saudaranya, yang juga merupakan agennya, bahwa ada tawaran untuknya dari sejumlah negara seperti Amerika Utara, Meksiko, Brasil, dan Jepang.

Internacional masih membutuhkan jasanya. Akan tetapi, karena gajinya yang tinggi, mereka terpaksa menjual Forlan. Internacional mengandalkan para pemain muda. Rekannya di lini depan, Leandro Damiao, sudah dijual terlebih dahulu. Forlan pun tak mengapa dijual karena uangnya akan membantu Internacional secara finansial.

Rumor penjualan pun menyebut kalau Forlan akan main di Botafogo. Ia sendiri tak mempermasalahkan itu bahkan merasa senang karena mereka main di Copa Libertadores. Sayangnya, Internacional tak mau menjualnya ke sesama tim Brasil.

Forlan pun memahami bahwa keputusan transfer tidak cuma diputuskan olehnya. Apalagi, Internacional tak ada niat menjualnya. Namun, Internacional butuh sokongan finansial. Mereka sudah tak bermain di stadionnya karena direnovasi untuk Piala Dunia 2014. Gajinya lancar, hubungannya dengan pemain, manajemen, dan fans, bagus, dan ia bahagia ada di sana.

Keputusan Panjang untuk Pindah

Keputusan tetap harus dibuat. Forlan tertarik dengan tawaran dari Jepang, dalam hal ini Cerezo Osaka. Sebagai tukang jalan-jalan, Forlan menikmati betul empat kali kunjungannya ke Markas Wibu. Ia pun menonton J-League dan menganggap sepakbolanya bagus secara teknis.

Kini, permasalahan utamanya adalah bagaimana ia memberitahu Paz. Forlan sendiri sudah mem-briefing bahwa segala rumor tentang kepindahannya adalah salah, kecuali itu terucap dari mulutnya sendiri.

Paz tak mempermasalahkan kalau mereka tak lagi tinggal di Brasil. Ini penting bagi Forlan karena pernah ada istri rekannya yang kesal harus pindah rumah. Soalnya, mereka baru memasang kitchen set di dapur!

Untungnya Forlan menikahi perempuan yang tepat. Paz setuju untuk pindah meski harus pindah ke Jepang.

Forlan sendiri tipikal orang yang bisa berteman dengan siapapun. Di setiap kota yang ia tinggali, ia punya sahabat dekat. Mereka bahkan turut diundang ke pernikahannya tersebut!

Menurut Forlan, bukan hal yang mudah untuk pindah ke negara yang ada di belahan dunia lain. Akan lebih sulit kalau pindah sekeluarga. Untungnya, mereka belum dikaruniai anak sehingga masih fleksibel.

Meski kepindahannya hampir pasti terjadi, tapi Forlan tetap profesional. Ia tetap mengikuti latihan pramusim Internacional dan menjaga ucapannya. Para pemain kerap menanyakan rumor soal kepindahannya. Namun, ia tahu kalau tak bisa informasi disebarkan ke semua orang, karena bukan tak mungkin nantinya akan sampai ke media.

Forlan tak bicara apapun pada media. Ia tetap berlatih dengan keras. Forlan bahkan akan tetap bertahan di Internacional untuk menghormati kontraknya.

Dan begitulah Forlan, seorang pesepakbola profesional yang ditunjukkan dengan perilakunya. Sehingga jangan aneh kalau Forlan akan lebih mudah menghadapi ketidakpastian karena ia selalu berkomitmen terhadap apa yang ia lakukan.