Fabio Coentrao yang Terlupakan

Foto: Foot the Ball

Dia masih berusia 31 tahun. Dari segi angka, ia sebenarnya masih bisa untuk bermain sepakbola setidaknya dua sampai tiga tahun lagi. Namun saat ini, pemain yang bernama lengkap Fabio Alexandre da Silva Coentrao belum diizinkan kembali untuk bisa memperkuat sebuah kesebelasan alias masih berstatus pengangguran.

***

Sedekade lalu nama Coentrao begitu tersohor. Ia digadang-gadang sebagai calon kuat bek kiri terbaik di dunia. Apalagi saat itu ia bermain untuk klub besar Portugal, Benfica. Kesebelasan yang sukses mengorbitkan beberapa pemain tidak terkenal menjadi pemain besar yang bisa dijual dengan harga tinggi. Coentrao adalah salah satu pemain tersebut.

Pada musim panas 2011, ia direkrut oleh raksasa dunia, Real Madrid dengan banderol 30 juta Euro. Saat itu, Coentrao masuk dalam daftar pemain belakang termahal di dunia (nomor tiga setelah Rio Ferdinand dan Dani Alves). Ia dikontrak selama enam musim. Melihat durasi kontraknya, terlihat jelas kalau Madrid menaruh harapan besar kepadanya meski di posisi yang sama mereka masih memiliki Marcelo.

“Ini adalah impian bisa bermain untuk salah satu klub terbesar di dunia. Sekarang saya ingin menunjukkan kepada semua orang apa yang bisa saya lakukan dan saya siap untuk bermain bersama klub ini. Bekerja di bawah Jose Mourinho adalah sesuatu yang bisa dibanggakan karena dia adalah salah satu pelatih terbaik di dunia,” tutur Coentrao.

Dua musim pertama Coentrao berjalan lumayan bagus. Meski sulit menggeser Marcelo, namun Mourinho kerap memiliki ide lain yaitu memindahkan posisinya sebagai bek kanan. Hal ini dilakukan karena Sergio Ramos saat itu sudah mulai paten sebagai bek tengah. 63 penampilan berhasil ia lalui meski di kompetisi domestik ia paling banyak bermain dalam 20 pertandingan saja.

Pada masa puncaknya, Coentrao adalah salah satu pemain belakang yang cukup ditakuti lawannya. Cristiano Ronaldo saja memujinya sebagai salah satu pemain belakang yang sulit dikalahkan. Timnas Portugal pun selalu memakai jasanya dalam turnamen-turnamen internasional yang diikuti. Persaingannya dengan Marcelo membuat Man United menginginkan jasanya sebagai pengganti Patrice Evra yang mulai menua. Namun Madrid masih menginginkannya dengan memberikan kesempatan enam kali bermain pada fase gugur Liga Champions 2013/14 dan mempersembahkan La Decima dan Copa del Rey.

Namun seiring berjalannya waktu, perlahan karir Coentrao mulai meredup. Pada musim 2014/2015, ia mulai kehilangan kesempatan bermain. Cedera menjadi faktor utama yang membuatnya benar-benar kalah dari Marcelo untuk menjadi bek kiri utama Real Madrid. Ia kemudian dikirim ke AS Monaco untuk menjalani pinjaman sepanjang musim 2015/16.

Mulai tersingkirnya Coentrao juga disebabkan hubungannya yang mulai tidak akur dengan beberapa penggemar Real Madrid. Banyak yang tidak suka dengan attitude Coentrao terlebih ketika foto-fotonya saat sedang merokor tersebar luas.

Munculnya Zinedine Zidane saat itu seolah menjadi akhir dari petualangan Coentrao di Santiago Bernabeu. Zizou menyebut kalau Marcelo tetap menjadi bek kiri utama mereka. Selain itu, ia juga sudah tergusur oleh Dani Carvajal di posisi bek kanan. Untuk posisi pelapis Marcelo, Zidane juga lebih percaya kepada Nacho Fernandez.

Yang menarik, Coentrao seolah tidak mau pindah dari Madrid saat itu. Ia masih ingin bertahan dan memperebutkan tempat melawan Marcelo dan Nacho. Namun pada akhirnya, Coentrao tidak bisa meyakinkan Zidane dan hanya dimainkan dalam enam pertandingan saja. Ia beralasan kalau saat itu memang dirinya tidak fit untuk bermain bersama Los Blancos dan level permainan mereka tidak bisa diimbangi oleh dirinya.

“Saya tidak dalam kondisi bermain untuk Real Madrid. Saya ingin kembali ke performa terbaik saya musim depan. Saya masih punya kontrak hingga 2019. Segalanya akan sempurna jika mereka mengandalkan saya. Namun jika tidak, saya akan memilih jalan saya sendiri. Ada keterbatasan dalam beberapa titik di kehidupan dan saya merasa kalau Real Madrid menuntut level permainan yang tidak bisa saya tandingi.

Misi Mencari Kebahagiaan

Coentrao kembali menjadi pesakitan. Real Madrid memilih untuk meminjamkannya kembali. Sporting menjadi kesebelasan berikutnya yang ia perkuat. Meski mendapat kesempatan main yang jauh lebih banyak dari sebelumnya, namun klub yang bermarkas di stadion Jose Alvalade tersebut tidak mengontraknya secara permanen.

“Saya menunggu hingga hari terakhir untuk menerima kontrak permanen dari klub yang di mana saya sudah memberikan segalanya. Namun tidak ada satu telepon yang masuk. Benar-benar menyedihkan,” ujarnya.

Ada kesan frustrasi yang menaungi diri Coentrao. Berharap bisa mendapatkan karir yang jauh lebih baik setelah meninggalkan Madrid, ia justru mendapati kala karirnya nampak tidak jelas. Saking frustrasinya diri Coentrao, ia sempat menghubungi Fernando Santos untuk tidak memanggilnya ke timnas Portugal pada Piala Dunia 2018 lalu. “Setelah banyak pertimbangan, saya berkata kepada tim nasional kalau saya tidak dalam kondisi yang ideal untuk mewakili Portugal di Piala Dunia.”

Coentrao akhirnya bisa lepas dari belenggu Real Madrid setelah ia mengakhiri kontraknya pada musim panas 2018. Ia kemudian bermain untuk Rio Ave yang merupakan kesebelasan pro pertama Coentrao. Namun lagi-lagi kebersamaannya dengan klub tersebut berlangsung singkat. Ia kerap absen karena mengalami cedera. Selain itu, pihak klub juga tidak menyukai kedisiplinannya di atas lapangan. Rio Ave memilih tidak mau menambah durasi kontraknya yang membuatnya berstatus pengangguran.

Ia nampaknya sedang dijauhi keberuntungan. Sempat nyaris hengkang ke klub Yunani, Paok, namun peresmian kedatangan Coentrao urung dilakukan. Alih-alih bermain sepakbola, kini Coentrao bahkan belum bisa menemukan kesebelasan yang tepat untuk memberikannya kesempatan bermain. Hanya klub baru saja yang membuat dirinya bisa kembali bahagian menikmati permainan global ini.

“Yang saya butuhkan saat ini adalah bahagia. Saya telah kehilangan banyak uang untuk bergabung dengan klub yang bisa membuat saya bahagia. Kenyataannya adalah uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Saya terlahir sebagai orang yang miskin, jadi mengapa saya harus peduli jika saya mati dalam keadaan miskin,” tuturnya.

Semoga kariermu lekas membaik Fabio.