Gavin Hoyte memang cuma membuat satu penampilan Premier League bersama Arsenal. Akan tetapi, dia masih berpikir kalau pertandingan itu adalah salah satu momen penting dalam kariernya.

“Aku ingat bermain di sana, melihat Robinho dan berpikir tentang apa yang telah ia lakukan pada bek lain, berharap dia tak akan melakukannya padaku. Namun, Aku dalam kepercayaan diri penuh dan aku siap,” terang Hoyte.

Pelatih biasanya memilih laga tertentu untuk mempromosikan pemain muda. Biasanya di pertandingan yang sudah tak berarti atau melawan tim yang mudah di atas kertas. Akan tetapi lawan Hoyte dalam debutnya adalah Manchester City. Mereka baru saja merekrut superstar dari Real Madrid dalam diri Robinho.

From Korea With Love Concert

Debut yang Tak Terduga

Ini terjadi pada 2008 silam. Hoyte dimasukkan ke dalam pasukan lini pertahanan The Gunners. Momen ini hadir sehari setelah William Gallas dicopot sebagai kapten usai mengkritik rekan setimnya di tengah hasil buruk.

“Aku ingat sesi latihan sebelum pertandingan, salah seorang pelatih bilang ke Armand Traore, Jack Wilshere, dan aku, ‘Salah satu dari kalian akan membuat debut, siapa menurut kalian?”

Semua saat itu berpikir Wilshere atau Traore yang akan diberikan debut. Namun, sang pelatih justru bilang kalau Hoyte yang akan debut. Ia pun diberi latihan ekstra agar bugar ketika diturunkan.

Ini adalah titik paling bersinar sepanjang hampir satu dekade Hoyte bersama Arsenal. Seperti alumnus akademi lainnya, Hoyte percaya kalau promosi ke tim utama adalah langkah alami. Apalagi, kakaknya, Justin, mencatatkan 68 penampilan bersama The Gunners sebelum dijual ke Middlesbrough di musim itu.

“Saat Anda di sana, Anda selalu berpikir untuk berhasil melakukannya. Aku cukup percaya diri. Kakakku juga di sana, jadi itu banyak membantu melihat bagaimana ia berproses. Itu adalah hal besar buatku, melihatnya bermain setiap pekan, menontonnya membuatku berpikir, ‘Aku ingin mencoba dan mencapai posisinya,” kata Hoyte.

Jalan Panjang ke Tim Utama

Dalam jalannya ke tim utama, Gavin Hoyte adalah kapten tim Arsenal U-18. Ia beberapa kali duduk di bangku cadangan tim utama sebelum debutnya. Momen itu terjadi dalam kemenangan 6-0 atas Sheffield United di Piala Liga.

Ia juga kembali diturunkan dalam dua laga Piala Liga lainnya, yakni melawan Wigan Athletic dan Burnley. Dari situ, kariernya mulai terlihat cerah.

Satu yang membuat Hoyte merasa percaya diri adalah karena banyaknya pemain muda di Arsenal. Meski demikian, Arsenal punya banyak pemain bagus yang membuatnya tak langsung terpikir untuk main di tim utama, di Premier League.

Nyatanya, momen itu terjadi 11 hari setelah debutnya di Piala Liga. Debutnya di Premier League hadir di laga melawan Manchester City pada 22 November 2008. Akan tetapi, baru satu jam Arsenal sudah kalah 0-3. Ia pun digantikan oleh Aaron Ramsey. Setelah laga itu, ia tak tahu apakah itu menjadi awal atau justru akhir kariernya di Arsenal.

Wenger dan staf kepelatihannya tak memberi terlalu banyak masukan soal permainan Hoyte. Akan tetapi, ia diberikan kontrak jangka panjang sebelum dipinjamkan ke Watford di bursa transfer musim dingin.

Kontrak baru membuat Hoyte yakin kalau kariernya di Arsenal belum selesai. Keyakinan itu tak salah karena ia kembali diturunkan di perempatfinal Piala Liga. Sialnya, di laga melawan Burnley tersebut, Arsenal kalah. Setelah itu, Hoyte tak pernah lagi main buat mereka.

Dipinjamkan dan Akhir Karier Arsenal

Pada 31 Desember 2008, Hoyte dipinjamkan ke Watford. Itu menjadi salah satu fragmen penting dalam hidupnya. Karena ini untuk pertama kalinya ia tinggal sendirian dan harus beradaptasi dengan segalanya, termasuk soal kualitas yang berbeda dengan Arsenal.

“Di Arsenal Anda mendapatkan segalanya: makanan; gymnya kualitas wahid, perlengkapan latihan, bahkan lapangannya juga. Divisi Championship cukup berbeda dengan kualtiasnya sekarang yang lebih tinggi ketimbang dulu,” kenang Hoyte.

Dari Watford, Hoyte kembali dipinjamkan ke tim League One, Brighton, untuk musim 2009/2010. Musim selanjutnya, ia kembali dipinjamkan ke divisi yang lebih rendah bersama Lincoln City dan AFC Wimbledon.

Empat kali dipinjamkan ke tim divisi bawah membuat Hoyte sadar kalau kecil kemungkinannya ia kembali ke tim utama Arsenal. Ditambah lagi, pada 1 Juli 2012, ia mendapatkan status bebas transfer.

“Sejak aku kembali dari masa peminjaman (dari Watford), aku tak berlatih bersama tim utama, jadi dari situ aku sadar peluangku kecil. Sebelumnya aku berlatih bersama tim utama hampir setiap hari.”

Dari situ, Hoyte membela Dagenham & Redbridge, Gillingham, Barnet, Eastleigh, kembali ke Dagenham, lalu ke Maidstone United.

Membela Timnas Trinidad dan Tobago

Karier sepakbola Gavin Hoyte mungkin tak akan pernah kembali seperti ketika ia membela Arsenal. Akan tetapi, ada satu hal yang mungkin tak akan ia sesali: membela timnas Trinidad dan Tobago.

Hoyte sendiri membela timnas Inggris di kelompok usia U17, U18, U19, dan U20. Hoyte bahkan masuk dalam skuad timnas Inggris di Piala Dunia U-17 2007. Ia main di semua pertandingan yang dilakoni Inggris di kompetisi tersebut.

Akan tetapi semua berubah ketika memilih timnas senior. Pada Mei 2014, timnas Trinidad dan Tobago memanggilnya. Ia sendiri punya darah Trinidad dan Tobago dari ayahnya, Les Hoyte. Kakaknya, Justin juga memilih timnas Trinidad dan Tobago pada 2013, meski ia sudah dipanggil sejak 2006.

“Kakakku juga main untuk mereka saat itu dan manajer menanyakan apakah aku tertarik untuk ikut, jadi aku bilang, ya.”

“Manajer meneleponku, aku bicara padanya, dia bilang mereka punya sejumlah pertandingan bagus yang akan datang dan ia akan memilihku untuk laga melawan Argentina dan Iran.”

Debut Hoyte di Premier League adalah menghadapi Manchester City. Sementara debut Hoyte di timnas Trinidad dan Tobago adalah melawan Argentina yang dihuni para pemain bintang seperti Lionel Messi, Maxi Rodriguez, dan Marcos Rojo. Ia cuma main 20 menit, tapi itu adalah pengalaman yang luar biasa untuknya.

Meski punya pengalaman di timnas, tapi Hoyte tak kunjung kembali ke Premier League. Meski demikian, satu jamnya melawan City tetap menawan buat Hoyte. Ia menyebutnya sebagai hasil dari kerja keras dan pengorbanan selama bertahun-tahun, dan tak semua orang bisa melakukannya.

“Itu adalah salah satu kenangan terbaik, aku tak merasa banyak orang bisa bilang mereka telah melakukannya meskipun cuma satu pertandingan. Anda tak dapat merebutnya.”

“Dimulai dari umur sembilan tahun, ketika tujuan semua orang adalah bermain di Premier League atau cuma main di tim utama, aku berhasil melakukannya.”

Sumber: Planetfootball.