Glauber Leandro Honorato Berti adalah pesepakbola berkebangsaan Brasil yang berposisi sebagai bek tengah. Dia bukan pemain yang luar biasa hebat. Namun, ia menjadi salah satu pemain favorit suporter Manchester City. Padahal, dia cuma main sekali buat The Citizens, itu pun tak lebih dari 10 menit. Apa alasannya?

Glauber lahir di Sao Paulo, Brasil. Kariernya diawali di Atletico Mineiro pada 2000. Ia kemudian pindah ke Palmeiras pada 2003.

Ia hijrah ke Eropa pada Desember 2005 saat direkrut FC Nurnberg dengan status pinjaman dan opsi beli. Penampilan bagus Glauber membuat Nurnberg mempermanenkannya pada musim panas 2006. Karena punya keturunan Italia, ia pun mendapatkan paspor Italia yang memudahkannya untuk main di Eropa.

Pada 31 Agustus 2008, Glauber direkrut Manchester City. Ia didatangkan berbarengan dengan Pablo Zabaleta dari Espanyol.

Kondisinya begitu kontras. Pelatih City, Mark Hughes, rela memenuhi klausul pelepasannya senilai 6,5 juta paun. Zabaleta pun dikontrak selama lima tahun.

“Kehadiran Pablo adalah perekrutan hebat lainnya. Dia masih muda dan seorang pemenang, tapi lebih dari itu dia akan memberikan kami keseimbangan hebat di sisi,” terang Hughes.

Di sisi lain, Glauber cuma dikontrak selama setahun.

Sepanjang musim itu, Glauber belum diturunkan. Ia cuma duduk di bangku cadangan sebanyak 20 kali, tapi tak pernah diturunkan. Suporter City bahkan menyebut bangku cadangan sebagai “The Berti” sebagai penghormatan pada Glauber.

Momen itu hadir pada 29 Mei 2009 pada hari terakhir Premier League musim 2008/2009. Ia mencatatkan debutnya buat City di City of Manchester Stadium di laga melawan Bolton Wanderers. Ia masuk pada menit ke-84 saat menggantikan Wayne Bridge.

Di laga itu, suporter City begitu antusias menyambut Glauber. Saat ia menyentuh bola, para suporter berteriak mendukungnya. Ia bahkan mendapatkan “standing ovation” saat mengambil lemparan ke dalam. Di akhir laga, ia dipilih sebagai “Man of the Match” di situs BBC Sport dengan rating 8,67.

“Dia benar-benar mendapatkan sambutan yang hebat! Aku belum bisa memberinya kesempatan yang aku inginkan, tapi aku pikir bahwa hari ini adalah kesempatan untuk melakukannya,” terang Hughes.

“Penting untuk melakukannya bukan cuma buat para penggemar tapi juga buat skuad, karena mereka semua ingin mendapatkan kesempatan untuk tampil dengan kostum biru langit. Aku harus agak lunak di usia senja ini.”

Ironisnya, itu adalah pertandingan satu-satunya sekaligus yang terakhir buat Glauber. Glauber dilepas Manchester City di akhir musim. Pada 2011, Bleacher Report memasukkannya ke dalam daftar “Top 10 Cult Heroes of All Time”.

Pada 2015 lalu, dalam sebuah wawancara, Glauber bicara soal masanya di Manchester City. Ia mengingat momen itu dengan sangat jelas.

“10 menit itu sangatlah indah karena setiap aku menyentuh bola, para penggemar menerikakkan namaku. Itu adalah hal yang indah. Menjadi lucu karena semakin aku ingin main, semakin banyak para penggemar yang ingin melihatku bermain. Aku memberikan yang terbaik saat di sana,” kata Glauber.

“Semua yang berbagi kamar ganti denganku tahu dedikasiku di tempat latihan dan mereka tahu berapa banyak aku bertarung untuk kesempatan itu. Sayangnya, itu datang pada hari terakhir, meski demikian, itu masih menjadi waktu yang luar biasa dalam karierku di City, karena itu membantuku tumbuh sebagai manusia juga,” terang Glauber.

Soal kesempatan itu yang disayangkan oleh Glauber. Soalnya, ia berjuang mendapatkan kesempatan yang tak pernah datang. Ia tak bermasalah kalau tak lagi dimainkan saat main buruk ketika diberi kesempatan.

“Menurutku, ketika Anda mendapatkan kesempatan, dan untuk alasan tertentu itu tak berjalan baik, itu tak apa (tak dimainkan), tapi aku tak pernah mendapatkan kesempatan itu,” ucap Glauber.

Setelah gagal di City, Glauber kembali ke kampung halamannya dengan membela Sao Caetano. Ia sempat kembali ke Eropa dengan membela kesebelasan Rumania, Rapid Bucuresti. Ia pun mengakhiri karier dengan membela Columbus Crew.