Selain Keluarga Markkanen, Berikut 4 Keakraban Sepakbola dengan NBA

PSM Makassar memboyong penyerang Finlandia, Eero Markannen, untuk mengarungi Liga Indonesia musim depan. Kisahnya merumput bersama Real Madrid B dan bermain untuk tim besar Swedia, AIK menjadi rekam jejak tertulis dalam CV. Dia juga 18 kali bermain untuk timnas Finlandia. Sepekan sebelum bergabung dengan PSM, Markkanen cetak gol pertama yang mengantarkan negaranya menang 1-0 atas Swedia.

Tentu PSM pantas berharap banyak dengan pemain Finlandia pertama di Liga Indonesia ini. Tinggi 197 cm dan punya capaian sepak bola lumayan dalam usianya yang baru 27 tahun. Sekalipun belum berhasil menembus liga top Eropa, tentu Markkanen sangat menjanjikan untuk Liga Indonesia yang belakangan didatangi marquee player selevel Michael Essien, Momo Sissoko, dan Danny Guthrie.

Kisah sampingan lainnya, Eero Markkanen ternyata kakak kandung dari bintang muda tim NBA Chicago Bulls, Lauri Markkannen. Lauri tengah menjalani musim keduanya di NBA. Sejak dipilih di urutan ketujuh di NBA Draft 2017 oleh Minnesota Timberwolves, Lauri lantas pindah tim dan seketika menjadi harapan Bulls bisa mengembalikan kejayaan pada 1990-an atau setidaknya seperti era Derrick Rose. Meski sangat sulit dalam waktu dekat.

Pada musim pertama di kompetisi, Lauri terpilih masuk ke Tim Rookie Utama 2017-18 dan final NBA Skill Challenge di Pekan All-Star. Berposisi power forward, atribut lesatan tripoinnya sangat mengagumkan sekalipun punya tinggi tujuh kaki. Memang tidak terlalu banyak pemain Finlandia di NBA, tapi Lauri telah tercatat sebagai Suomi pencetak poin terbanyak hanya dalam satu setengah musimnya.

Ayah Eero dan Lauri, Pekka Markkanen juga pebasket elite. Dia malang melintang di liga teras negaranya, Spanyol, Hungaria, Jerman, dan Prancis. Pekka tercatat sebagai Pebasket Finlandia terbaik tahun 1989, 1993, dan 1996. Eero dan Lauri pun punya ibu seorang pebasket profesional. Dibanding ayah dan Lauri, Eero punya tinggi yang lebih pendek daripada keduanya. Tentu sangat menarik untuk mengetahui alasan di balik keputusan Eero memilih sepak bola sebagai jalan hidupnya di tengah keluarga basket.

Relasi sepak bola dan bola basket, khususnya NBA memang tidak terpisahkan sebagai olahraga populer. Keduanya bukan lagi cuma olahraga berkelompok demi kesehatan jasmani ataupun sebatas menang-kalah. Melainkan produk budaya pop beserta nilai-nilai hidup yang menyertai berkat sokongan ekosistem industri.

Selain kisah keluarga Markkanen, berikut hubungan akrab sepak bola dan basket profesional yang saling berkelindan (silakan klik tautan untuk pengalaman membaca yang tambah menarik):

  1. Pebasket NBA penggemar bola

Mari mulai dengan yang termudah. Betapa banyak pebasket NBA sering menunjukkan ketertarikan besar kepada sepak bola. Sang Raja, LeBron James sepenuhnya mendukung Christian Pulisic untuk membawa supremasi sepak bola Amerika ke tempat terhormat. Ketika Piala Dunia 2018, forward Houston Rockets asal Swiss, Clint Capela menunjukkan dukungan kepada tim nasionalnya, meskipun pemain Prancis untuk New York Knicks, Frank Ntilikina yang berhak tertawa di akhir.

Soal urusan bola, kedua pebasket yang tumbuh di negara pecinta sepak bola ini bukan main-main lagi. Ntilikina rajin mengunjungi banyak pertandingan, sementara Capela yang memang sedari kecil bermain sepak bola memimpikan jadi komentator suatu saat nanti.

Pemain nomor satu Philadelphia 76ers, Joel Embiid juga tidak ketinggalan. Embiid gemar menyerukan “Hala Madrid!“, tapi tanpa canggung bergaul dengan para pemain Chelsea. Pemain dari rival tim, Boston Celtics, Terry Rozier III menghabiskan musim panas dengan tur ke pusat latihan Chelsea dan menjalin persahabatan dengan David Luiz. Rekannya di Celtics, Jaylen Brown kadung hipster berlatih dengan seragam tim gurem Spanyol, Cordoba. Sayang, Jaylen tidak mengunjungi stadion Persitara saat pergi ke Jakarta Utara tahun lalu.

Mungkin paling menarik datang dari aksi legenda Phoenix Suns, Steve Nash. Nash punya kemampuan olah bola mumpuni sampai-sampai berkesempatan latihan dengan Inter Milan.

2. Pesepakbola penggemar NBA

Tentu saja, ada banyak juga pesepak bola penggemar NBA. Paulo Dybala awal tahun ini semacam lakukan perjalanan spiritual ke markas Miami Heat. Penyerang Juventus jumpa Dwyane Wade yang lakoni musim terakhir berjudul #OneLastDance, serta diberi kesempatan menyentuh tiga trofi Larry O’Brien.

Antoine Griezmann juga bukan kepalang menggandrungi NBA. Bukan lagi sekadar bergaul bersama pemain NBA seperti CJ McCollum atau mengunjungi arena yang rutin dia lakukan, tapi Griezmann memang lebih memilih menonton basket daripada pertandingan sepak bola! Tentu juga tidak bisa dilupakan bagaimana dia buat masalah besar setelah menghitamkan wajah berlagak anggota tim basket akrobatik Harlem Gobletrotters.

Sama gilanya dengan Griezmann, pemain Prancis lain, Etienne Capoue juga punya kegemaran utama bernama NBA, lebih sering menontonnya, dan lebih senang diajak bicara soal LeBron James daripada hal sepak bola.

Duo Jerman, Toni Kroos dan Per Mertesacker juga gemar NBA. Kroos punya alasan mendukung Dallas Mavericks mengingat Dirk Nowitzki selamanya legenda di sana. Sedangkan Mertesacker mendukung Cavaliers untuk juara musim lalu sebelum J.R. Smith bikin salah satu tragedi konyol di dunia olahraga.

Beberapa pemain yang merumput di MLS barang tentu menyempatkan menonton pertandingan NBA. Zlatan Ibrahimovic sowan ke beberapa punggawa LA Lakers setelah resmi berseragam LA Galaxy. Ibrahimovic yang dominan di lapangan hijau, tampak seperti adik kelas menatap senior di hadapan center muda Lakers Ivica Zubac.

Tentu juga tidak bisa dilupakan mata jahil David Beckham yang melirik lenggak-lenggok gadis pemandu sorak LA Lakers yang buat istrinya selalu was-was.

3. NBA London

Telah sembilan musim NBA menggelar pertandingan internasional di London. Pada Jumat (18/1/2019) dini hari WIB, Washington Wizards menang 101-100 atas Knicks. Para pesohor, termasuk sepak bola menonton di tepi lapangan laga ketat yang bahkan ditentukan poin meski bola tidak masuk keranjang.

Pemain Arsenal, Hector ‘sosialita’ Bellerin bersebelahan dengan Pierre-Emerick Aubameyang dan Alexander Lacazette. Rival sekota, Chelsea diwakilkan Olivier Giroud, Ruben Loftus-Cheek, dan Ethan Ampadu. Tertangkap kamera juga Alex Iwobi, Joe Gomez, dan Lukasz Fabianski tersenyum melihat duel tim Wilayah Timur.

Sebelum laga, promosi dengan klub-klub ibu kota gencar dilakukan. West Ham United kedatangan legenda Washington, Gheorghe Muresan. Sebagai pemain tertinggi yang pernah berkarier di NBA (sekitar 2,35 meter), Muresan membuat Felipe Anderson, dkk. tampak seperti kurcaci. Sedangkan bek Arsenal, Ainsley Maitland-Niles kebagian menyaksikan latihan Wizards dengan misi rahasia membaptis Bradley Beal menjadi Gooner.

4. Malam Juventus di Brooklyn, Ronaldo-Real Valladolid di New York, dan Jordan di Paris

Dari segi pemasaran, sepak bola elite Eropa dan NBA memang saling menjalin simbiosis mutualisme. Sambil membangun persahabatan, kerja sama keduanya bertujuan menjangkau pasar yang belum terceruk.

Sepak bola memang paling populer di dunia, tapi bukan nomor satu di Amerika Serikat. Sedangkan bola basket yang juga masih berada di urutan selanjutnya setelah American Football dan Baseball, bisa menjangkau popularitas ke belahan dunia lain seperti Eropa. Apalagi, perbedaan penggunaan tangan dan kaki sebagai fondasi permain menyajikan diferensiasi signifikan tapi tetap punya benang seru keseruan sebagai permainan berkelompok.

Contohnya, kerja sama Juventus dan Brooklyn Nets. Nets menggelar Juventus Night di Barclays Center pada 7 Desember 2018. Ketika menghadapi Toronto Raptors, Nets mengusung tema Juventus lewat kru penghibur jeda laga, pameran trofi, hadirnya David Trezeguet, tampilnya maskot I Bianconeri, dan acara nonton bareng Juve vs Inter Milan. Nets tentu juga diuntungkan, karena brand mereka sebagai tim olahraga ditengok penggemar sepak bola Italia, khususnya Juventini.

Upaya promosi sedikit sama juga dilakukan Ronaldo selaku pemilik Real Valladolid. Ditemani Alan Shearer, Ronaldo mengunjungi Madison Square Garden, New York, mempromosikan klubnya dengan berpose bersama Ntilikina dan menjumpai andalan Knicks, Kristaps Porzingis.

Melampaui itu semua, Paris Saint-Germain musim ini secara spesial mengenakan brand Air Jordan yang terkenal di dunia basket untuk seragam Liga Champions. Padahal, tim NBA yang memakai merek tersebut pun hanya Charlotte Hornets, tim milik Michael Jordan. Neymar, dkk. tampil lit af dengan jersey ikonik buruan para kolektor.

Dari kisah latar belakang keluarga Markkanen dan segala rupa kolaborasi sepak bola dengan NBA, sangat menarik menantikan apa yang terjadi selanjutnya. Mungkin, pertandingan kompetisi reguler di Amerika? La Liga mungkin batal, tapi kalau Premier League siapa tahu, kan?

Setidaknya Eero Markkanen nanti mesti mau mengundang Lauri menonton aksinya di Stadion Mattoangin, Makassar. Biar dia tahu kalau tidak hanya Chicago saja yang punya tim olahraga legendaris.

Sumber:NBA.com/Instagram/Twitter/BBC