OUR NETWORK

Iran vs Amerika Serikat, Pertandingan Persahabatan Paling Ribet

Iran dan Amerika Serikat bukanlah negara yang bersahabat dalam arti yang sesungguhnya. Sejak 1979 hubungan keduanya memburuk. Amerika menuduh Iran menjalankan aksi terorisme di negara mereka, sementara Iran menganggap Amerika sengaja menembakkan misil pada pesawat komersial yang membawa masyarakat sipil pada 1988.

Saat George H. W. Bush menjabat pada 1989, ia berusaha mencairkan hubungan di antara keduanya. Bush berpikir untuk mengeluarkan Iran dari daftar teroris, merenggangkan sanksi ekonomi, dan memberi kompensasi atas pesawat sipil yang di-misil-kan.

Di era pemerintahan Bill Clinton, hubungan makin memanas. Utamanya setelah Presiden Clinton menjatuhkan embargo ekonomi pada 1995. Namun, ini hanya berlangsung tiga tahun. Karena pada Januari 1998, Presiden Iran yang baru, Mohammad Khatami, mengajak Amerika Serikat untuk mengadakan pertemuan, yang direspons positif oleh Kantor Kepresidenan.

Salah satu gesturnya adalah dengan saling mengirimkan tim gulat. Pengiriman tim gulat ini membuat kedua negera berpergian dengan bebas. Juga menandai berakhirnya embargo atas karpet Iran.

Menghangatnya hubungan antara Iran dan Amerika Serikat memberikan ide yang cukup berani, tapi sukar terjadi. Ide tersebut adalah mempertemukan timnas Iran dengan timnas Amerika Serikat.

Ide ini tercetus jelang final Piala Dunia 1998. Ditambah lagi Amerika Serikat tengah mempromosikan Piala Dunia Perempuan 1999 yang pertandingan finalnya digelar di Rose Bowl Stadium, Pasadena, Los Angeles.

Di sebuah gedung di Champs-Elysees, dua orang bertemu. Mereka adalah Direktur Komunikasi Sepakbola Kanada, Mehrdad Masoudi, dan Sekretaris Jenderal Federasi Sepakbola AS (US Soccer), Hank Steinbrecher. Ini adalah pertemuan keduanya. Sebelumnya, mereka bertemu di Lyon saat menyaksikan Iran mengalahkan Amerika Serikat 2-1 di fase grup Piala Dunia 1998.

Pertandingan fase grup itu menyita perhatian banyak orang. Bukan karena kualitas permainan yang disajikan, tapi karena ketegangan politik antar kedua negara. Namun, di pertandingan itu, Presiden Bill Clinton mengemukakan harapannya agar pertandingan itu bisa jadi akhir dari hubungan buruk kedua negara.

Sebelum pertandingan, para pemain Amerika Serikat diberikan sejumlah hadiah dari lawannya itu. Pertandingan itu benar-benar membuka jalan bagi kedua negara untuk meredakan ketegangan. Hal ini yang juga dirasakan Masoudi dan Steinbrecher.

Masoudi mengemukakan ide untuk mengulang pertandingan tersebut dengan forman kandang-tandang. Iran datang ke Amerika tahun depan untuk mengulangi momen ini, dan tahun selanjutnya giliran Amerika yang datang ke Iran. Steinbrecher pun menyukai usulan itu. Apalagi, ia merasa kalau kekalahan atas Iran di babak grup Piala Dunia adalah kekalahan terburuk semasa kepemimpinannya.

Akan tetapi, semuanya tidak semudah itu.

Saat Semua Tak Sesuai Rencana

Rintangan pertama yang harus dihadapi adalah syarat yang tak bisa dinego: delegasi Iran tak boleh diambil sidik jari dan fotonya saat tiba di Amerika Serikat. Menurut Masoudi, buat orang yang tak terbiasa, hal semacam ini membuat mereka terasa diperlakukan seperti seorang kriminal.

Pertandingan ini awalnya akan digelar pada musim panas 1999 di Washington DC. Akan tetapi, Pemerintah Iran melarang pergi kalau digelar di Washington DC. Pasalnya, itu akan menjadi simbol yang sensitif karena Kantor Kepersidenan AS ada di DC.

Pertandingan pun dijadwal ulang menjadi Januari 2000 di Pasadena Rose Bowl di Los Angeles. Terdapat sekitar 500 ribu orang Iran di sana, dan menjadi tempat yang tepat untuk Iran yang sebelumnya juga menyiapkan pertandingan persahabatan menghadapi Ekuador dan Meksiko.

Semua mulai berjalan sesuai rencana. Sampai pada dua bulan sebelum pertandingan digelar, atau pada November 1999, kabar buruk datang: delegasi Iran harus diambil sidik jarinya!

Direktur Acara US Soccer, Thom Meredith, memberi solusi. Delegasi Iran akan diambil sidik jari dan difoto di ruangan khusus yang cuma ada mereka. Namun, buat Masoudi, ini bukan solusi karena Iran akan langsung membatalkan pertandingan ini. Apalagi sudah ada kontrak soal masalah imigrasi ini yang sudah ditandatangani.

Masalah ini terus berlanjut hingga beberapa pekan jelang pertandingan digelar. Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat masih kukuh agar delegasi Iran mengikuti aturan. Akan tetapi, tiba-tiba saja delegasi Iran mendapatkan pengecualian. Kabarnya, ada intervensi khusus dari pejabat tinggi Amerika Serikat soal ini.

Politik yang Bikin Iran Hampir Gagal Berangkat

Beberapa hari sebelum keberangkatan timnas Iran ke Amerika Serikat, tiba-tiba saja Presiden Khatami meminta Presiden Federasi Sepakbola Iran, Mohsen Safaei Farahani, untuk membatalkann keberangkatan.

Namun, Safaei telah menandatangani kontrak. Ditambah lagi US Soccer juga sudah mengamankan surat keringanan, sehingga timnas Iran harus berangkat. Apalagi Iran juga dibayar hingga 200 ribu USD untuk tiga pertandingan itu. Ini adalah jumlah terbesar yang diterima Federasi Sepakbola Iran untuk pertandingan uji tanding.

Dengan statusnya sebagai pertandingan penting, Thom Meredith langsung turun tangan menjemput timnas Iran yang transit di Frankfurt. Di sini masalah kembali muncul setelah salah seorang pemain Iran yang main di Jerman, meminta izin untuk mengembalikan kunci apartemennya.

Meredith mungkin saja mengizinkan, tapi melihat waktu keberangkatan yang sudah mepet, hal ini mustahil dilakukan. Sampai akhirnya Meredith membuat pernyataan kalau ia tak bertanggung jawab andai pemain ini ketinggalan pesawat kepada kepala delegasi Iran.

Masalah belum usai, karena sebelum terbang ke Chicago, Meredith diberitahu kalau tiket pesawat sebagian delegasi belum dibayar. Meredith kebingungan karena itu terjadi pukul tiga pagi dan ia tak tahu harus mengontak siapa. Sampai akhirnya ia memilih membayar tagihan senilai 13 ribu USD dari kartu kreditnya, dengan risiko tak bisa di-reimburse.

Saat tiba di Bandara O’Hare Chicago untuk mengurus imigrasi, Delegasi Iran hampir balik kanan karena pihak bandara malah meminta sidik jari dan foto. Untungnya, Meredith membawa surat sakti dari Kepala Imigrasi Chicago yang menyatakan kalau delegasi Iran dikecualikan.

Tim sepakbola Iran adalah delegasi olahraga kedua yang menginjakkan kaki di Amerika Serikat sejak 1979. Sebelumnya, tim gulat Iran yang lebih dulu hadir di Negeri Paman Sam.

Pengamanan Ekstra Iran di Amerika Serikat

Iran mendapatkan pengamanan ekstra sejak tiba di Amerika Serikat. Sejumlah pengawal menggunakan samaran untuk memerhatikan dan memastikan mereka sedang di mana.

Iran sebelumnya menang 2-1 atas Ekuador dan kalah 1-2 dari Meksiko. Pertandingan menghadapi Amerika kian dekat, sedekat bahaya yang juga mengintai mereka.

Telepon dari kamar hotel delegasi Iran berdering. Sang penelpon mengaku dari kelompok Islam. Mereka menawarkan sogokan agar para pemain tak usah bertanding. Ancaman juga hadir apabila mereka memaksa bertanding. Pelatih Iran, Mansour Pourheidari, mengaku kalau dia ditawari 1 juta USD untuk tak bertanding.

Tentu Pourheidari menolak tawaran itu. Bukannya apa-apa. Ia bahkan mengundurkan diri dari pekerjaan barunya di London, agar bisa mendampingi tim di Amerika Serikat.

Selain itu, kabar buruk juga datang dari Safaei. Ia menyebut ada ancaman dari pejabat tinggi Iran, kalau mereka akan menembak pesawat yang ditumpangi delegasi Iran kalau pertandingan tetap dilanjutkan.

“Aku ada di sana ketika Safaei mengangkat telepon. Dia berdiri dan bilang ‘Orang-orang yang Anda klaim tahu di mana aku. Mereka punya nomor teleponku dan mereka bisa menghubungi saya secara langsung,” kata Masoudi.

Di hari pertandingan, masalah juga hadir. Masalah ini sebenarnya sudah didengungkan sejak lama oleh ulama Iran. Mereka menolak pertandingan digelar karena sponsor utamanya adalah Anheuser-Busch, perusahaan yang membikin berbagai jenis bir.

US Soccer sebenarnya menawarkan agar sponsornya diubah ke sponsor lain. Apalagi Steinbrecher kenal dengan orang-orang di Anheuser-Busch. Namun, Safaei menolak tawaran itu. Soalnya, sebagai sama-sama pegawai di federasi sepakbola, Safaei tahu betapa sulitnya mendatangkan sponsor. Sehingga Anheuser-Busch tetap menjadi sponsor utama pertandingan itu.

Untuk melindungi para pemain Iran dari kemungkinan terburuk, pengamanan ekstra diberikan. Jalanan di depan hotel ditutup. Tempat parkir di dekat hotel juga ditutup.

FBI dilibatkan dalam pengamanan ini. Untuk memastikan delegasi Iran tak diikuti saat berangkat dari hotel ke stadion, maka disiapkan bus pengecoh. Bus ini diisi oleh pesepakbola palsu dengan tulisan Iran ditempel di bus tersebut. Bus ini berangkat duluan. Sementara itu, bus yang asli berangkat dari tempat parkir bawah tanah hotel. Para pemain bahkan naik bus lewat lewat dapur dan lift servis.

Ruang udara di atas stadion ditutup untuk sementara, berjaga-jaga andai ada orang yang menjatuhkan pesawat ke sana.

Ada sekitar 50 ribu orang yang datang. Tak sedikit dari mereka yang berasal ribuan kilometer dari Los Angeles. Di pertandingan itu skor imbang 1-1. Hasil ini cukup bagus karena tak bisa dieksploitasi secara politis.

Setelah pertandingan usai, banyak yang berharap hubungan Amerika Serikat dengan Iran bisa mencair. Namun, mereka terlalu naif.

“Kami pikir kami melakukan banyak hal bagus untuk kedua negara lewat olahraga. Tapi lagi-lagi, kalau kamu tak punya panggilan yang lebih tinggi, Anda tak boleh terlibat,” kata Steinbrecher.

Setelah pertandingan ini, tim sepakbola Amerika Serikat diundang ke turnamen Civilisations Cup pada Januari 2001. Namun, Federasi Sepakbola Iran tak sanggup membayar biaya penampilang pada US Soccer.

Sayangnya hubungan Amerika dengan Iran tak pernah benar-benar membaik. Apalagi setelah serangan 9 September 2001. Presiden Iran sempat menyatakan rasa simpatinya untuk rakyat Amerika. Akan tetapi hal ini tak direspons positif oleh Presiden George Bush Jr. yang baru menjabat. Pada 29 Januari 2002, Bush Jr., berpidato yang salah satunya menyebut “axis of evil”, ke tiga negara: Korea Utara, Irak, dan Iran.

Sumber: BBC.

Loading...