Kisah Gelap Zaire di Piala Dunia 1974

Foto: The Sportsman

Piala Dunia 1974 menghadirkan banyak cerita. Pada era itu, Piala Dunia hanya diikuti oleh 16 kesebelasan negara. Benua Afrika kembali mendapatkan satu tempat di babak utama. Ini merupakan kesempatan kedua setelah di Piala Dunia 1970, Mesir yang mewakili Afrika.

Sebanyak 22 kesebelasan negara mengikuti babak kualifikasi Zona Afrika yang terbagi ke dalam tiga fase gugur, dan satu babak grup. Zaire keluar sebagai juara grup menyisihkan Zambia dan Maroko.

Nama Zaire mungkin asing di telinga Anda. Wajar, ini karena negara tersebut sudah berubah nama menjadi Republik Demokratik Kongo. Di dunia sepakbola, prestasi Zaire amat memesona. Zaire baru mengikuti Piala Afrika pada 1965 dengan nama Congo-Leopoldville. Di Piala Afrika 1968, mereka menjadi juara dengan nama Congo-Kinshasa.

Jelang bermain di Piala Dunia 1974, Zaire mendapatkan dorongan moral ketika menjuarai Piala Afrika kedua kalinya yang digelar di Mesir pada 1-14 Maret 1974. Lolosnya Zaire ke Piala Dunia 1974 dianggap sesuatu yang tepat, karena saat itu, mereka adalah kesebelasan negara terkuat di Afrika.

Namun, semuanya hancur karena politik.

Zaire yang Diremehkan

Ketika itu, negara-negara dari Afrika belum ada yang diperhitungkan. Tidak seperti Kamerun, Nigeria, Ghana, atau Pantai Gading, di era sekarang ini.

Zaire juga diremehkan.

Zaire berada satu grup dengan Skotlandia, Yugoslavia, dan sang juara bertahan, Brasil. Belum bertanding, Zaire sudah mendapatkan serangan psikologis.

Willie Ormond, manajer Skotlandia, bilang: “Kalau kami tak bisa mengalahkan Zaire, maka kami harus membereskan barang-barang kami dan pulang.”

Di pertandingan pertama itu, Skotlandia menang 2-0. Namun, banyak yang merasa kalau Skotlandia menang dengan susah payah. Publik pun mulai menaruh simpati pada Zaire yang main menyerang dengan build-up yang cepat. Zaire disebut punya semangat bajak laut dan menebarkan rasa positif.

Sayangnya, cerita indah Zaire berhenti di sini. Jeda empat hari menuju pertandingan kedua menghadapi Yugoslavia, mengubah suasana ruang ganti kesebelasan negara yang dilatih Blagoje Vidinic ini.

Salah Paham Uang Bonus

Siapa yang tidak senang negaranya lolos Piala Dunia? Ini yang dirasakan oleh Presiden Zaire, Marsekal Mobutu Sese Seko Kuku Ngbendu Wa Za Banga.

Presiden Mobutu langsung mengundang skuad Zaire ke kediamannya, untuk merayakan keberhasilan yang fenomenal tersebut. Para pemain Zaire pun dibelikan rumah dan mobil.

Tidak cukup sampai di situ, Presiden Mobutu memberikan anggaran yang cukup besar bagi para pahlawan negara yang akan berjuang di Jerman tersebut. Para pemain mendapatkan amunisi uang yang cukup untuk membeli yang mereka butuhkan atau inginkan.

Untuk menjaga martabat negara, Presiden Mobutu juga mengirim serombongan pejabat negara juga dari federasi untuk menemani skuad Zaire. Di sinilah masalah dimulai.

Para pemain akhirnya mengetahui bahwa apa yang mereka dapatkan tersebut bukanlah tunjangan. Akan tetapi, itu semua sudah termasuk ke dalam gaji dan bonus. Artinya, mereka tidak akan dibayar dengan main di Piala Dunia ini.

Para pemain Zaire marah. Mereka mengancam tak akan bertanding pada 18 Juni menghadapi Yugoslavia. Ini dilakukan sebagai bentuk protes kepada pemerintah.

FIFA mengetahui hal ini. Sejumlah sumber menyebut kalau FIFA membayar 3000 Deutsche Mark–mata uang Jerman saat itu–ke setiap pemain agar tetap mau bertanding. Soalnya, FIFA juga dirugikan kalau ada kesebelasan yang walk-out. Reputasi Piala Dunia bisa terganggu.

Ini kan hajatan besar, tidak boleh ada pertandingan yang berakhir WO, macam tarkam saja.

Para pemain Zaire akhirnya mau bermain. Namun, mereka sudah tak punya semangat. Para penonton di Parkstadion, Gelsenkirchen, dibuat bingung dengan apa yang terjadi di atas lapangan.

Banyak yang menyebut kalau para pemain sudah lelah dengan intrik di luar lapangan. Mereka pun tak berlatih dengan benar. Di atas lapangan, fokus mereka hilang, karena sudah tak punya motivasi lagi.

Vidinic juga bingung. Menghadapi negara asalnya, ia ingin anak asuhnya setidaknya menunjukkan semangat juang. Namun, baru 20 menit berjalan, gawang Zaire sudah kebobolan tiga gol.

Karena hal ini, ia mengganti kipernya, Kazadi Muamba pada menit ke-21 dengan Dimbi Tubilandu. Masalahnya, tinggi Tubilandu cuma 162 sentimeter. Untuk bisa meraih mistar gawang saja dibutuhkan daya juang yang luar biasa baginya.

Benar saja, semenit masuk, gawangnya sudah kebobolan. Di sisa 70 menit pertandingan, gawangnya kebobolan lima gol lagi. Di akhir pertandingan, skor menunjukkan 9-0 untuk kemenangan Yugoslavia. Ini merupakan salah satu kekalahan terburuk di Piala Dunia.

Karena kekalahan ini juga pandangan dunia terhadap Zaire berubah. Bukan cuma Zaire, tapi sepakbola Afrika seluruhnya. Mereka dianggap ceroboh, lemah, dan tidak profesional.

Ditindas Rezim

Zaire mencatatkan dua kali kekalahan, 11 kali kebobolan, dan tak pernah mencetak gol. Mereka menjadi bahan tertawaan seluruh dunia. Di sisi lain, satu pertandingan lagi yang tak penting untuk mereka, berubah jadi genting. Soalnya, lawan yang mereka hadapi adalah sang juara bertahan, Brasil.

Sebagai informasi, Zaire dipimpin oleh Presiden Mobutu. Ia berkuasa sebagai diktator sejak 24 November 1965 hingga 16 Mei 1997, empat bulan jelang kematiannya.

Mobutu sebelumnya merupakan Kepala Staf Tentara yang mendelgitimasi pemerintahan demokratis dari Patrice Lumumba pada 1960. Ia kemudian menyusun pemerintahan boneka, sebelum mengambil alih kekuasaan pada 1965.

Mobutu langsung bergerak cepat dengan membentuk Popular Movement of the Revolution, sebagai satu-satunya partai yang sah di negara itu. Saat berkuasa, Mobutu mengumpulkan pundi-pundi uang berkat pengaruhnya. Sejumlah orang bukan lagi menyebutnya sebagai diktator, tapi “kleptoracy”, karena kebiasaannya yang suka mengambil barang bukan miliknya.

Di bawah pimpinannya, Mobutu juga berurusan dengan pelanggaran hak asasi manusia. Zaire pun dibawanya sebagai negara yang inflasinya tak terkontrol, punya utang amat besar, dan devaluasi mata uang yang tinggi. Mobutu dikenal akan korupsi, nepotisme, dan kasus penggelapan senilai 4 hingga 15 miliar USD selama masa kepemimpinannya.

Sudah terbayang betapa kuatnya rezim Mobutu? Meski suka belanja ke Paris dengan pesawat Concorde, tapi selera humor Mobutu tak sebagus selera fashionnya. Saat Zaire jadi bahan tertawaan, ia tak ikut tertawa. Justru ia mulai serius untuk “mendisiplinkan” utusannya di Piala Dunia 1974. Satu caranya adalah dengan mengintervensi ruang ganti.

Hotel tempat Zaire menginap ditutup untuk semua jurnalis. Setelah pertandingan melawan Yugoslavia, Mobutu mengirimkan pengawal kepresidenan untuk mengirim pesan: Zaire tak boleh kalah 0-4 dari Brasil, atau mereka tak akan bisa pulang ke rumah.

Menurut beberapa sumber, Zaire tak boleh kalah lebih dari empat gol untuk memastikan Yugoslavia lolos ke babak selanjutnya. Soalnya, Mobutu juga punya hubungan baik dengan Yugsolavia.

Salah Paham Tendangan Bebas

Pertandingan menghadapi Brasil jelas berat. Di pertengahan babak kedua, mereka sudah kebobolan dua gol. Lalu, terjadi lah momen tendangan bebas sekitar 23 meter di depan gawang Zaire. Lalu, momen ikonik itu hadir.

Wasit baru saja meniup peluit untuk mempersilakan pemain Brasil menendang bola. Mwepu Ilunga yang menjadi pagar betis, tiba-tiba berlari dan menendang bola. Publik kaget. Mereka berpikir kalau wakil Afrika ini tak bisa baca dan memahami aturan dasar sepakbola. Namun, kenyataannya lebih gelap dari itu.

Apa yang dilakukan Ilunga adalah taktik buang-buang waktu. Menendang bola tendangan bebas milik Brasil diharapkan bisa membingungkan para pemain Brasil.

Taktik buang-buang waktu itu ternyata berhasil, karena Brasil cuma mencetak tiga gol. Ilunga dan rekan-rekannya bisa pulang ke Zaire. Namun, masalah lagi-lagi tak sampai di sini.

Momen Piala Dunia 1974 bikin Mobutu marah besar. Karier para pemain nyaris berakhir. Mobutu juga memotong anggaran buat timnas dan pertandingan sepakbola di Zaire setengah hidup.

Saat politik masuk ke sepakbola, segalanya bisa terjadi. Satu hal yang sukses terjadi adalah gagalnya Brasil mencetak lebih dari tiga gol ke gawang Zaire.

Sumber: History.co.uk