OUR NETWORK

Lionel Messi, Serbet Makan yang Mengubah Segalanya (2)

Direktur Teknik Barcelona, Carles “Charly” Rexach, sudah membulatkan tekad untuk segera merekrut Lionel Messi. Cuma perlu dua menit bagi Messi untuk meyakinkan Rexach.

Setelah menyaksikan pertandingan trial tersebut, Rexach langsung menghadap petinggi Barcelona. Rexach menjelaskan bahwa Messi sudah menemukan lingkungan yang sempurna di Barcelona. Segalanya berjalan begitu alami saat itu.

Akan tetapi, keadaan di Barcelona tak membuat semuanya berjalan mulus. Joan Gaspart baru menjadi presiden di musim panas, sementara Luis Figo, sang megabintang, dibajak Real Madrid. Barcelona tengah dalam krisis.

Ya, Lionel Messi punya potensi. Akan tetapi, saat itu bukanlah hal yang lumrah untuk merekrut seorang anak berusia 13 tahun. Apalagi ia berasal dari luar negeri, dari negeri di seberang Samudera Atlantik.

Ada permasalahan lain: Barcelona harus mencarikan pekerjaan untuk ayah Messi. Barcelona juga harus membayar perawatan hormon senilai 1000 USD perbulan, di mana Messi harus menyuntikan obat tersebut ke kakinya setiap hari.

Barcelona juga harus membayar ayah Messi senilai 40 ribu paun pertahun atau sekitar 800 juta rupiah. Saat itu, angka ini terbilang besar. Apalagi, Barca harus membayar seorang anak yang tidak bisa digaransi kesuksesannya. Messi pun tak bisa bertanding di tingkat junior karena ia orang asing. Messi baru bisa diturunkan di kompetisi lokal Catalan.

Barcelona tampak kurang yakin dengan beban finansial serta segala hal yang mengiringinya sehingga mereka masih belum mengontrak Messi. Di sisi lain, agen Messi sudah memberi tahu kalau ada klub lain yang tertarik dengan Messi, dan klub itu adalah Real Madrid.

Lamanya kepastian yang diberikan Barcelona membuat ayah Messi marah. Ia mengancam akan segera membawa Messi pergi.

Lantas, pada 14 Desember 2000, pertemuan diadakan antara Minguella, Gaggioli, dan juga Rexach di Klub Tenis Pompeia. Secara tak terduga, Rexach mengeluarkan serbet makan dan langsung mencorat-coretnya:

“Saya, Charly Rexach, dalam kapasitasnya sebagai direktur teknik untuk FC Barcelona, dan meskipun adanya pendapat yang menentang, saya berkomitmen untuk mengontrak Lionel Messi sepanjang syarat yang disepakati dipenuhi.”

Pernyataan “meskipun adanya pendapat yang menentang” seolah menegaskan kalau tak semua orang di dewan klub setuju dengan perekrutan Messi. Ini wajar mengingat Barcelona yang tengah mengalami krisis. Tim utama mereka kesulitan bersaing, sementara Joan Gaspart tengah dalam tekanan.

Malamnya, Direktur Umum Barcelona membuat salinan kontrak di kertas yang lebih layak. Gaspart pun akhirnya setuju untuk merekrut Lionel Messi di usia 13 tahun. Namun, tentu saja, masalah belum berakhir.

Enam bulan kemudian, ayah Messi menulis pada Gaspart kalau dirinya belum dibayar. Situasi keluarga Messi juga tengah mengalami masalah serius. Ini membuat ibu dan ketiga saudara kandungnya pulang ke Argentina. Messi pun ditawari untuk pulang, tapi ia memilih untuk tetap tinggal. Enam bulan kemudian, pada Desember 2001, Messi menandatangani kontrak baru.

Setelah menjalani satu tahun dengan Akademi Barcelona, La Masia, messi akhirnya terdaftar di Federasi Sepakbola Spanyol, RFEF, pada Februari 2002. Ia kini bisa bermain di semua kompetisi. Selain itu, perawatan hormon Messi juga sudah selesai pada usia 14 tahun, sehingga ia bisa fokus pada karier sepakbolanya.

Sama seperti ketika di Newell’s Old Boy, tim Messi saat itu berjuluk “Baby Dream Team”, dan merupakan salah satu tim muda terbaik yang dimiliki Barcelona. Di musim penuh pertamanya pada 2002/2003, Messi mencetak 36 gol dari 30 pertandingan buat Cadetes A. Messi pun turut membawa Cadetes meraih treble juara liga serta Piala Spanyol dan Piala Catalan.

Lantas, pada November 2003, Barcelona menghadapi Porto dalam sebuah pertandingan persahabatan untuk pembukaan stadion baru Porto, Estadio do Dragao. Frank Rijkaard yang melatih Barca, membawa sejumlah pemain muda, termasuk Lionel Messi.

Di pertandingan tersebut, Messi membuat dua peluang dan satu tembakan ke gawang tim yang dilatih Jose Mourinho itu. Usianya saat itu 16 tahun, empat bulan dan 23 hari. Ia masuk ke lapangan pada menit ke-75.

Debut kompetitifnya baru terjadi pada 16 Oktober 2004 menghadapi Espanyol. Kala itu, Espanyol masih bermarkas di Estadi Olimpic Lluis Companys di bukit Montjuic. Ia masuk menggantikan Deco pada menit ke-82. Messi hanya bermain sekitar 10 menit. Namun, hingga saat ini, ia tak pernah melupakannya.

“Aku akan mengingat 10 menit itu sepanjang hidupku,” kata Messi.

Sumber: The Guardian.

Loading...