OUR NETWORK

Marcelo Bielsa di Mata Mauricio Pochettino

Belakangan ini nama Marcelo Bielsa santer terdengar di seantero pencinta Premier League. Siapa yang sangka, ternyata ia adalah pelatih yang menemukan bakat Mauricio Pochettino, dan ia adalah orang yang sempat membawanya untuk menjadi pemain internasional Argentina. Pochettino mendapatkan 20 caps di bawah Bielsa, dan ia juga bermain untuknya di Newell’s Old Boys dan Espanyol.

Kedekatan inilah yang akhirnya membuat mantan pelatih Tottenham Hotpur itu berbicara tentang Marcelo Bielsa. Ia menjelaskan apa yang membuat Bielsa menjadi pelatih yang menuntut banyak hal. Ia memberikan beberapa wawasan tentang detail unik dari pekerjaan Bielsa yang juga membuatnya seperti dua dekade lebih maju dari orang lain.

Pochettino mengawali pembicaraannya dengan sedikit bercerita tentang kenangan awalnya dengan Bielsa. Ia mengatakan bahwa sosok yang saat ini menjadi manajer Leeds United itu merupakan orang yang istimewa. Saking istimewanya, bahkan ia sempat agak sulit beradaptasi dengan metode yang diterapkan oleh Bielsa.

“Hal terpenting yang perlu diketahui semua orang adalah bahwa dia (Bielsa) adalah orang yang sangat istimewa. Dia adalah karakter yang sangat berbeda dan pelatih yang sangat berbeda. Dia percaya pada cara bermain yang berbeda, dan dia punya metode latihan yang dibuat sendiri. Sulit untuk beradaptasi dengannya. Tetapi bagi saya sangat sulit untuk membicarakannya. Karena hubungan saya dengannya dimulai ketika saya berusia 13 tahun. Ketika itu saya baru tiba di Newell’s Old Boys,” ungkap Pochettino dilansir dari Monday Night Football.

“Saya ingat hari pertama saya di tempat latihan, di mana ketika itu saya bermain 11 lawan 11. Saya sangat ingin bermain. Tapi apa daya, saya baru berusia 13 tahun, dan hanya itu yang bisa saya lakukan. Dia mengatakan kepada saya bahwa saya akan bermain sebagai striker, seperti Harry Kane. Saya berkata, ‘Tidak, saya seorang bek tengah‘. Dia mengatakan kepada saya bahwa scout mengatakan kepadanya kalau saya adalah seorang striker.”

“Saya mengatakan kepadanya itu karena itu adalah kota kecil dan saya adalah pemain terbaik. Anda bermain di setiap posisi jika Anda adalah pemain terbaik. Dia berkata, ‘Oke, Anda akan bermain sebagai bek tengah‘. Setelah lima menit, dia menyuruh saya duduk di sebelahnya. Dia berkata, ‘Mauricio, kamu akan menjadi pemain Newell’s Old Boys. Sekarang pergilah mandi.‘ Saya berkata, ‘Mengapa saya harus mandi, saya baru bermain lima menit.’

“Dia berkata, ‘Tidak, pergi ke kantor dan kemudian kembali ke kotamu dan beritahu ayahmu bahwa kamu akan bermain untuk Newell’s Old Boys.’ Untuk seorang anak berusia 13 tahun, itu menjelaskan bagaimana dia dan bagaimana dia. Dia memiliki intuisi, persepsi yang luar biasa. Dia sangat pintar untuk menyimpulkan apa yang dia lihat. Dia memiliki otak yang berbeda dengan semua orang yang pernah melatih saya.”

Mauricio Pochettino kemudian merincikan ciri khas dari Marcelo Bielsa. Terutama kepada setiap bek yang diasuhnya. Ciri khasnya adalah, untuk bermain marking atau menjaga lawan satu lawan satu. Jelas hal ini memiliki resiko yang tinggi. Tapi bagi Pochettino; “ya memang begitulah Bielsa”. Kesuksesan permainan sangat berbanding lurus dengan tingkat risiko yang juga menjadi bagian dari konsekuensi.

“Dalam permainan, kita perlu membagi dua aspek. Ketika Anda menekan tinggi lawan, Anda harus mengambil risiko jika Anda ingin sukses. Ini tentang sikap. Tentu saja ada bakat, tetapi yang paling besar jelas sikap. Ini tentang mengambil risiko dan bermain tinggi dengan garis pertahanan Anda. Jika Anda merebut bola, Anda bisa menyerang dengan cepat. Setiap kali seorang pelatih mempersiapkan timnya untuk menekan tinggi, itu pasti punya visi untuk meningkatkan kapasitas dalam menciptakan peluang,” tutur Pochettino.

“Tetapi ini juga tentang bagaimana Anda akan berperilaku jika lawan melanggar Anda. Apakah Anda akan mengikuti satu-satu lawan Anda atau Anda akan tetap bermain dalam zona? Begitulah sikap Anda untuk tahu cara perubahannya. Kadang-kadang ketika lawan mematahkan tekanan Anda yang begitu tinggi, organisasi tim Anda menjadi sangat penting. Hal ini sangat sulit bagi saya, tapi Bielsa tahu bahwa saya bisa.”

“Pertanyaan selanjutnya, apakah Anda akan mengejar lawan sampai akhir atau Anda akan mengubah organisasi Anda dan jatuh dengan cara yang berbeda? Sulit untuk mengubah pikiran Anda karena ini bukan hanya sekedar taktik, tapi inisiatif dari pikiran Anda. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengubah skema Anda, dan apakah akan terus bermain dengan cara yang sama atau pergi ke skema dalam zona.”

Selain soal ciri khas, Marcelo Bielsa juga ternyata punya sebuah tuntutan yang harus semua pemain asuhannya lakukan. Tuntutan itu adalah tuntutan fisik. Di mana, tuntutan ini sangat sulit bagi pemain yang belum bisa beradaptasi. Namun menurut Pochettino, cara semacam ini sudah menjadi identitas dan prinsip yang diemban oleh setiap tim yang diasuh Marcelo Bielsa.

“Ada tuntutan yang begitu berat dari Marcelo Bielsa. Jelas, tuntutan ini sangat, sangat, sangat sulit. Saya pernah mengalami itu, dan saya pikir para pemain Leeds pasti memahami apa yang saya katakan kepada Anda. Ini sangat sulit karena dia adalah pelatih yang sangat menuntut fisik Anda. Anda harus siap dengan itu jika dilatih olehnya. Saya bisa berbicara tentang waktu saya ketika saya masih menjadi pemainnya di Newell’s Old Boys, tim nasional Argentina, dan di Espanyol,” pungkas Mauricio Pochettino.

“Saya merasakannya tuntutan itu sulit. Saya pikir dari periode itu hingga hari ini dia telah berkembang dengan tuntutan itu. Meski dalam banyak aspek, timnya berbeda. Tapi menurut saya, itu adalah prinsip dan identitas timnya. Jadi di manapun dia, tuntutan itu akan selalu ada dan Anda akan langsung paham alasannya. Ya saya pun bisa mengenali tim Marcelo Bielsa ini dari periode ketika saya masih menjadi pemainnya.”

Di satu sisi, Mauricio Pochettino juga memberikan pandangannya tentang intensitas Leeds United di bawah asuhan Marcelo Bielsa. Ada gambaran baik di dalam setiap permainan Leeds. Bahkan pria asal Argentina itu merasa senang ketika menonton Leeds. Baginya, walau sangat sulit untuk bersikap objektif, tapi permainan yang dimainkan Bielsa sangatlah menawan. Tinggal bagaimana manajer yang tidak bisa bahasa Inggris tersebut konsisten dengan tingkat permainan sulit yang diterapkannya.

“Saya berharap demikian karena saya sangat senang ketika menonton Leeds. Sangat sulit bagi saya untuk bersikap objektif ketika Marcelo Bielsa datang ke Leeds. Dia seperti ayah sepakbola saya dan saya sangat berterima kasih kepadanya. Tapi itu, menurut saya, tantangan besar baginya sekarang adalah untuk tetap konsisten. Karena ini adalah permainan yang sulit untuk dimainkan dan Anda tidak hanya perlu fokus atau berkonsentrasi, tetapi juga harus bisa menjaga fisik Anda,” tandas mantan manajer Southampton itu.

“Saya perlu mengatakan bahwa ketika dia berada di Prancis, dia menelepon saya dan bertanya kepada saya tentang Inggris. Saya mengatakan kepadanya bahwa dia bisa sangat sukses di sini. Saya sangat memuji budaya Inggris, pemain Inggris dan identitas di sini. Saya mengatakan kepadanya bahwa dia akan cocok dan memperoleh hasil sempurna. Bagi saya, sangat menarik untuk melihat bagaimana dia akan mempertahankan level permainan fisik yang sangat menuntut itu.”

Loading...