OUR NETWORK

Medali Emas Olimpiade Nigeria

Sepanjang sejarah, Benua Afrika belum bisa berbicara banyak di pentas Piala Dunia. Belum ada satu negara yang bisa menjuarai turnamen empat tahunan tersebut. Paling mentok, mereka lolos hingga perempat final seperti yang dilakukan Kamerun pada Piala Dunia 1990 dan Ghana dua dekade kemudian.

Akan tetapi, Afrika bukannya kering prestasi pada ajang sepakbola dunia. Setidaknya pada level cabang sepakbola Olimpiade. Afrika pernah memiliki dua negara yang berhasil meraih medali emas. Salah satunya adalah Nigeria. Elang Super ketika itu berhasil menjadi yang terbaik setelah mengalahkan Argentina pada babak final yang berjalan dramatis.

Ajang Olimpiade sebenarnya nyaris batal digelar. Hal ini dikarenakan insiden bom yang menewaskan dua orang pada konser band Jack Mack and the Heart Attack yang menjadi bagian acara dari pesta olahraga multi cabang tersebut. Selain korban tewas, ada 111 orang lainnya yang terluka pada saat itu. Beruntung, teror bom tidak sampai membatalkan meriahnya pesta olimpiade.

Masalah juga dihadapi oleh Nigeria pada awal kiprah mereka di Olimpiade. 36 jam sebelum pertandingan pertama cabang sepakbola, nasib mereka masih terkatung-katung karena tagihan penerbangan mereka yang belum dibayar. Maskapai yang akan membawa mereka menolak untuk membawa skuad asuhan Jo Bonfrere tersebut sebelu tagihan bisa mereka bayar lunas.

“Kami telah diberitahu agar bersiap untuk terbang, tapi cerita itu selalu diulang-ulang setiap minggunya,” kata salah satu pemain Nigeria.

Perjalanan mereka juga tidak bisa dikatakan mudah. Bergabung di Grup D, Victor Ikpeba dkk harus bersaing dengan Brasil, Jepang, dan Hungaria. Brasil saat itu diperkuat oleh pemain-pemain tenar macar Ronaldo dan juara Piala Dunia 1994, Bebeto. Hanya juara dan runner-up saja yang bisa lolos.

Beruntung, mereka bisa melewati fase ini dengan baik. Nwankwo Kanu menjadi pahlawan saat golnya membawa Nigeria menang 1-0 atas Hungaria. Pada laga melawan Jepang, mereka kembali menang 2-0. Kali ini, giliran gol bunuh diri Tadahiro Akiba dan Jay-Jay Okocha tujuh menit sebelum pertandingan berakhir menjadi penentu tiga poin kedua yang mereka raih.

Sayangnya, Nigeria gagal menjadi juara grup. Pada laga terakhir, mereka kalah 1-0 atas Brasil karena gol Ronaldo. Mereka hanya bisa lolos sebagai runner-up. Namun, setidaknya mereka masih bisa selamat karena di tempat lain Jepang menang 3-2 dan bisa saja Samurai Biru yang akan melenggang ke delapan besar jika Brasil bisa menambah minimal dua gol lagi ketika melawan Nigeria.

Pada perempat final, Nigeria berhasil mengalahkan Meksiko dengan skor 2-0 berkat gol Okocha dan Celestine Babayaro. Kemenangan ini membawa mereka kembali bertemu Brasil di semifinal. Kali ini, Nigeria tidak mau menjadi pecundang lagi. Mereka menang dramatis 3-2 setelah Brasil tertinggal 3-1 terlebih dahulu. Gol emas Nwankwo Kanu membuat mereka melangkah ke final.

“Brasil datang dengan tim yang lebih kuat dari tim juara Piala Dunia 1994. Kami kehilangan harapan terutama setelah tertinggal 3-1. Tapi, kami melakukan comeback dan menang. Kami kemudian mendapat rasa hormat dari dunia dan berhenti menjadi underdog sebelum kemudian kami menjadi favorit,” kata jurnalis olahraga Nigeria, Abiola Kazeem.

Namun, tantangan Amerika Latin kembali datang. Nigeria akan berhadapan dengan Argentina. Sama seperti Brasil, Argentina juga diisi pemain-pemain hebat. Sebut saja Roberto Ayala, Javier Zanetti, Hernan Crespo, hingga Ariel Ortega.

Babak pertama berakhir imbang 1-1. Argentina unggul terlebih dahulu melalui Claudio Lopez sebelum Celestine Babayaro menyamakan kedudukan. Argentina kembali unggul melalui penalti Hernan Crespo. 15 menit sebelum laga kelar, Daniel Amokachi membuat laga sama kuat 2-2. Kemenangan akhirnya bisa diraih berkat gol Emmanuel Amunike pada menit terakhir pertandingan.

Kemenangan yang luar biasa bagi Nigeria. Medali emas cabang sepakbola setidaknya menjadi sebuah pelipur lara dari kondisi negara mereka yang saat itu dirundung masalah Hak Asasi Manusia (HAM). Nigeria kala itu dipimpin oleh seorang diktator bernama Sani Abacha. Sani saat itu bahkan memerintahkan Nigeria untuk mengundurkan diri dari turnamen Piala Afrika karena kritik dari Afrika Selatan, tuan rumah turnamen, atas meninggalnya aktivis HAM, Ken Saro-Siwa di Delta Niger. Ken Saro saat itu berusaha membela orang-orang Ogini. Segala masalah di negara mereka sedikit terlupakan berkat medali emas yang mereka raih.

“Menyenangkan menjadi juara. Kami mengobrol, menari, dan bernyanyi sepanjang malam setelah kami meninggalkan lapangan. Kami melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh tim Afrika lainnya,” kata Joseph Dosu, sang penjaga gawang.

Selepas turnamen, Nigeria disambut seperti pahlawan oleh masyarakatnya. Masing-masing dari mereka kemudian mendapat bonus apartemen mewah, sebidah tanah, dan uang 236 ribu paun. Mereka juga mendapat gelar kehormatan ‘Ordo Nigeria.’

Sayangnya, mereka gagal mempertahankan medali emas ini. Empat tahun kemudian, mereka kalah dari Cile dengan skor telak 4-1. Meski begitu, Afrika tidak berhenti berpesta karena saat itu giliran Kamerun yang meraih medali emas cabang sepakbola pada Olimpiade Sydney 2000.

Loading...