OUR NETWORK

Mengenang Kaka pada 2005, Tentang Keindahan yang Terlupakan

Ia terselip dalam narasi besar bertajuk ‘Keajaiban di Istanbul’.

Banyak momen yang melibatkan seorang Ricardo Izecson dos Santos Leite, atau yang akrab disapa Kaka, di atas lapangan hijau. Saat ia berada di puncak karier ketika membela AC Milan pada periode musim 2003/2004 sampai musim 2008/2009, Kaka adalah sosok yang sangat menghibur untuk dilihat. Ketika membawa bola, ia melakukan giringan yang sangat khas. Berkat giringan khasnya itu, ia kerap berhasil meninggalkan lawan-lawannya.

Giringan ini semakin indah kala dihiasi oleh penyelesaian-penyelesaian berkelas. Siapa lupa aksi Kaka membuat Gabriel Heinze dan Patrice Evra bertabrakan satu sama lain? Siapa lupa juga aksi Kaka ketika menciptakan gol-gol sepakan jarak jauh yang membuat lawan mati kutu?

Baca juga: 24 April 2007, Ketika Liukan Kaka Mengacak-acak Old Trafford

Sebelum era persaingan Lionel Messi-Cristiano Ronaldo mencuat ke permukaan, Kaka adalah simbol keindahan dari sepakbola. Hal ini ditambah dengan kelakuan Kaka yang tidak pernah aneh-aneh selama berkarier. Namun, tulisan ini tak akan membahas semua keindahan yang pernah ditorehkan Kaka.

Tulisan ini tak akan membahas sosok Kaka yang religius, maupun sosok Kaka yang sukses menggondol banyak trofi (Serie A, Supercoppa Italia, Liga Champions), juga tak akan membahas sosok Kaka yang sederhana dan apa adanya. Itu sudah banyak disebutkan dan semua orang sudah tahu.

Tulisan ini akan membahas mengenai satu hal yang kerap dilupakan, karena tertutupi oleh narasi besar bernama “Keajaiban di Istanbul”. Ya, tulisan ini akan membahas mengenai penampilan apik Kaka pada laga final Liga Champions 2005, saat AC Milan ditumbangkan oleh Liverpool.

Malam di Istanbul

Malam itu, 25 Mei 2005. Stadion Olympic Attaturk yang berlokasi di Istanbul, Turki, sudah penuh sesak. Jelas saja, di stadion itu akan diselenggarakan salah satu partai besar. Partai final Liga Champions 2005 yang mempertemukan AC Milan dan Liverpool.

Perjalanan kedua tim menuju partai puncak itu pun tak mudah. Di babak grup, Milan harus melangkahi dulu Barcelona. Memasuki fase gugur, Milan harus melewati hadangan tim-tim besar macam Manchester United, Inter Milan, serta PSV Eindhoven.

Liverpool juga melalui perjalanan yang tidak kalah beratnya. Usai bersaing dengan juara bertahan Monaco di fase grup, mereka juga harus menghadapi tim-tim besar lain di fase gugur macam Bayer Leverkusen, Juventus, dan Chelsea. Bahkan, pertandingan melawan Chelsea di semifinal berjalan dramatis bagi mereka.

Dengan segala perjalanan apik tersebut, tak heran partai final ini diprediksi akan berjalan menarik. Menilik hasil akhir yang berkesudahan 3-3, ditambah dengan adu penalti yang menentukan kemenangan Liverpool, menjadikan laga ini salah satu laga final Liga Champions yang dramatis sepanjang sejarah.

Ya, seperti yang kita tahu, Liverpool keluar sebagai pemenang, seiring dengan cerita heroiknya mereka mengejar ketinggalan 0-3. Namun, ada satu hal yang kerap terlupakan. Di partai tersebut, ada satu pemain muda yang menunjukkan diri. Ia seolah mengatakan bahwa dirinya sudah siap melakoni partai besar. Siapakah dia?

Itulah Kaka, pemain yang kelak akan dikenal sebagai salah satu talenta terhebat yang lahir ke dunia. Di tengah deretan pemain berpengalaman di skuat Liverpool dan Milan, ia mencuat. Steven Gerrard boleh pulang membawa trofi, dengan usia emas melekat dalam dirinya. Namun, Kaka juga tak luput dari apresiasi.

Di pertandingan tersebut, ia ditempatkan sebagai gelandang serang, di belakang Hernan Crespo dan Andriy Shevchenko, dalam formasi 4-1-3-2 berlian andalan Carlo Ancelotti. Namun, selayak formasi yang hanya sebatas angka, begitu pula permainan Kaka di pertandingan tersebut.

Dalam usianya yang masih 23 tahun, menjadi salah satu yang termuda di partai tersebut, Kaka sudah menunjukkan magi. Pergerakan aktifnya sebagai gelandang serang merepotkan pertahanan Liverpool. Ia bergerak ke kiri, ke kanan, ke tengah, intinya ia berkeliling dari tengah sampai area sepertiga akhir lawan.

Bukan cuma itu, Kaka juga kerap turun ke bawah saat Milan bertahan, menjadi penyambung bola antara lini tengah dan lini depan. Banyak umpan kunci yang ia lepas di area sepertiga akhir. Salah satu umpan apik yang ia lepas adalah umpan bagi gol ketiga Milan yang dicetak oleh Crespo.

Bisa dibilang, di laga itu Kaka sudah tampil luar biasa. Ia dilanggar beberapa kali oleh Hyypia dan Jimmy Traore, juga beberapa kali membuat Jamie Carragher kebingungan. Tidak hanya umpan, dribel-dribel yang ia lakukan menghadirkan decak kagum. Bagaimana mungkin pemain semuda itu mampu tampil menggila di partai sebesar final Liga Champions?

Namun, sepakbola adalah permainan yang melibatkan 11 pemain. Saat Kaka sendiri yang tampil gemilang, Milan belum tentu menang. Itulah yang terjadi. Ketika di babak penalti Kaka mampu menceploskan bola, itu tidak cukup, karena rekan-rekannya yang lain justru ada yang gagal mencetak bola di adu penalti.

Kaka pun gagal meraih trofi, tapi, salah satu tulisan di Tifo Football mengenang kombinasi Kaka-Crespo, dalam tulisannya berjudul Goals Remembered: Crespo and Kaka stylishly cut Liverpool apart in 2005. Di situ, disebutkan pula bahwa selama babak pertama di Istanbul, Milan memainkan sepakbola terbaik.

Tapi tetap, sejarah hanya akan mengenang yang jadi pemenang, seperti halnya Belanda 1974 dan 1978.

Penyesalan Kaka

Mari sedikit melihat laga final Liga Champions 2005 secara dekonstruktif. Mari menelisik, bagaimana jadinya jika Milan menang? Apakah Kaka akan tetap di Milan? Apakah Kaka akan kembali meraih trofi pada 2007? Akankah Kaka menjadi pemain hebat yang kita kenal seperti sekarang? Akankah iklim sepakbola Eropa akan jadi seperti yang kita tahu kini?

Ya, itu hanya pengandaian saja, sebuah dunia paralel yang hanya bisa dibayangkan. Sejarah tidak mengenal pengandaian sama sekali, dan takdir kadang bisa begitu kejam. Kaka sendiri, dalam pernyataannya kepada media pada 2015, masih menunjukkan rasa tidak ikhlas-nya perihal kekalahan tersebut.

“Jujur, saya masih belum paham kenapa kami kalah di laga itu (melawan Liverpool pada 2005 di Istanbul). Padahal kami berisikan bek-bek terbaik dunia seperti Jaap Stam, Cafu, Paolo Maldini, dan Alessadro Nesta. Tapi ya, kadang sesuatu yang luar biasa memang acap di luar nalar,” ujar Kaka.

Tapi, tak ada salahnya toh, mengenang Kaka di 2005 tersebut. Kapan lagi melihat pemain berusia 23 tahun, yang baru dua musim mengecap kompetisi Eropa, langsung menggebrak dalam partai final Liga Champions 2005? Merawat keindahan yang terlupakan adalah sesuatu yang tidak salah, kok.