OUR NETWORK

9 September: Gelar Feyenoord dan Comeback Wimbledon

9 September merupakan tanggal yang penuh dengan cerita manis bagi dua kesebelasan yaitu Feyenoord dan Wimbledon. Pada tanggal ini, kedua kesebelasan menjalani rangkaia peristiwa yang begitu mengaduk emosi para pendukungnya.

***

Sebelum Ajax Amsterdam dan PSV Eindhoven, eksistensi sepakbola Belanda di benua Eropa justru diawali dengan keberhasilan Feyenoord menjadi juara Piala Champions musim 1969/1970. Ketika itu, kesebelasan dari kota Rotterdam tersebut mengalahkan juara 1967, Celtic, dengan skor 2-1 melalui babak perpanjangan waktu.

Feyenoord asuhan pelatih karismatik Ernst Happel tertinggal terlebih dahulu melalui Tommy Gemmell pada menit ke-30. Sayangnya, keunggulan Celtic hanya bertahan dua menit. Sang kapten, Rinus Israel membuat skor menjadi sama 1-1. Skor ini bertahan hingga babak pertama usai. Babak kedua, pertandingan berjalan menarik. Namun, skor tetap imbang sehingga laga dilanjutkan dengan perpanjangan waktu.

Tiga menit sebelum perpanjangan waktu berakhir, Ove Kindvall mencetak gol kemenangan dan mengubah skor menjadi 2-1. Skor ini bertahan hingga akhir pertandingan dan Feyenoord menjadi kesebelasan Belanda yang meraih gelar Piala Champions.

Empat bulan kemudian, 9 September 1970, keberhasilan menjuarai Piala Champions membawa mereka berkesempatan bermain di Piala Interkontinental. Turnamen ini mempertemukan juara Eropa melawan juara Libertadores. Ketika itu, Feyenoord bertemu dengan Estudiantes.

Juara asal Argentina tersebut sebenarnya mempunyai modal yang bagus. Pada leg pertama di Buenos Aires, Estudiantes unggul 2-0 hanya dalam tempo 12 menit. Juan Echecopar mencetak gol pertama pada menit ke-6. Disusul kemudian gol dari Juan Ramon Veron. Akan tetapi, Feyenoord mengejar keunggulan dua gol tersebut melalui Willem van Hanegem dan Ove Kindvall.

Modal bagus ini kemudian dimanfaatkan dengan baik ketika Feyenoord balik menjamu Estudiantes di Belanda. 63 ribu pasang mata menjadi saksi ketika Joop van Daele mencetak gol dua menit setelah ia masuk menggantikan Coen Moulijn. Agregat 3-2 membuat Feyenoord meraih gelar keduanya di level benua. Setelah keberhasilan tersebut, Feyenoord tidak bisa lagi meraih gelar tertinggi di level Eropa maupun antar benua. Dua gelar penting yang diraih mereka hanya Piala UEFA pada 1974 dan 2002.

Comeback Hebat Wimbledon

 

Foto: Premier League

Melangkah jauh ke 28 tahun kemudian. 9 September 1998 menjadi hari yang tidak bisa dilupakan oleh para pendukung Wimbledon. Bermain melawan West Ham United di Upton Park, The Crazy Gang menang dengan skor 4-3 lewat proses yang cukup gila yaitu tertinggal tiga gol terlebih dahulu.

Ketika itu, pekan keempat Premier League mempertemukan kedua kesebelasan yang sama-sama belum terkalahkan. Yang menarik, baik Wimbledon dan West Ham sama-sama mengumpulkan lima poin hasil dari satu kemenangan dan dua kali hasil imbang. West Ham diunggulkan karena bermain di kandang dan punya rekor bagus selama bertemu dengan mereka. Akan tetapi, perjalanan Wimbledon pada awal musim jauh lebih baik dari The Hammers.

Tuan rumah langsung menggebrak dengan unggul 3-0 hanya dalam tempo 27 menit. John Hartson membuka keunggulan pada menit ke-7. Mantan pemain Arsenal, Ian Wright menambah keunggulan pada menit ke-14 dan 27. Tiga menit setelah gol ketiga Wright, Marcus Gayle membuat babak pertama berakhir dengan skor 3-1.

Keadaan justru berbalik pada babak kedua. Wimbledon yang tampaknya akan kalah justru menekan pedal gasnya dalam-dalam dan balik mengejutkan tuan rumah. Menit ke-64, Jason Euell memperkecil kedudukan menjadi 3-2. Marcus Gayle mencetak gol lagi pada menit ke-77. Skor sama menjadi 3-3. Gemuruh suporter Wimbledon semakin kencang ketika Efan Ekoku mencetak gol kemenangan pada menit ke-81.

Bagi West Ham, kekalahan ini sangat menyakitkan. Kalah di kandang setelah unggul tiga gol jelas tidak ada dalam benak 26 ribu suporter yang hadir saat itu. Menurut Hammers.news, laga ini merupakan salah satu laga yang membuat penggemar West Ham terluka sampai kapan pun.

Beruntung bagi suporter West Ham karena mereka bisa mengakhiri musim dengan senyum di wajah. The Hammers finis pada posisi lima klasemen akhir Premier League. Posisi tertinggi yang pernah mereka raih. Sementara itu, kemenangan atas West Ham sebenarnya membawa Wimbledon berada pada urutan keempat. Namun di akhir musim, mereka harus menyelesaikan kompetisi di posisi 16.

Loading...