OUR NETWORK

Patrice Evra: Simbol Perlawanan Rasisme di Manchester United

Kasus kematian George Floyd menjadi topik yang terus diperbincangkan hingga hari ini. Hanya dari sebuah kecurigaan, Floyd justru meregang nyawa akibat mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari beberapa petugas polisi di wilayah Minneapolis.

George dicurigai karena melakukan transaksi pembelian rokok dengan menggunakan uang palsu oleh seorang penjaga toko yang sebenarnya sudah menjadi langganan George sejak dulu. Penjaga toko kemudian memanggil polisi dan seketika itu langsung meringkus George beberapa saat kemudian.

Tidak ada yang salah dari apa yang dilakukan penjaga toko, tapi masalahnya ada pada polisi yang menangkap George. Salah satu anggota polisi bernama Derek Chauvin menjatuhkan George ke tanah. Setelah itu, lutut Derek tepat menekan leher George yang membuatnya merintih kesakitan.

Derek mungkin takut kalau George melakukan perlawanan. Namun beberapa saat kemudian, terdengar beberapa kali George berkata kalau dia tidak bisa bernapas. Hal ini sempat memancing beberapa pejalan kaki yang kebetulan melintas. Bahkan ada yang meminta polisi tersebut untuk mengangkat lututnya dari leher George yang justru ditanggapi dengan sinis oleh Derek.

Menurut Yamadipati Seno, dalam tulisan yang berjudul “8 Menit 46 Detik George Floyd Meregang Nyawa Adalah Sebuah Pengkhianatan” George sudah tidak bergerak sejak menit ke-6. Akan tetapi, Derek tetap tidak mau mengangkat lututnya. Hingga pada pukul 20.27 malam, George meninggal dunia.

Setelah melakukan penelitian, uang yang digunakan George ternyata uang asli. Hal ini yang kemudian menimbulkan unjuk rasa di beberapa kawasan di beberapa tempat atas buntut kematian George. Mereka yang membela George merasa kalau polisi sudah bertindak terlalu jauh dan merasa kalau apa yang mereka lakukan mengarah kepada sentimen rasis. Meski empat anggota polisi, termasuk Derek, sudah dipecat, namun mereka ingin kasus ini dibawa ke pengadilan dan empat polisi tersebut dihukum atas kasus pembunuhan.

Sederet tokoh terkenal menyuarakan pembelaan mereka kepada George. Bahkan sampai merembet ke dunia olahraga. Jadon Sancho dan Achraf Hakimi merayakan gol dengan menunjukkan pesan bertuliskan “Justice For George Floyd” sebagai bentuk perlawanan kepada ketidakadilan yang dialami George. Begitu juga dengan Marcus Thuram yang merayakan gol dengan cara berlutut sebagai tanda penghormatan sekaligus protes terhadap mereka yang masih suka menindas karena perbedaan.

Menendang Rasisme Seperti Patrice Evra

Rasisme tampak sulit musnah dari tempat tinggal kita yang disebut bumi ini. Selagi masih ada yang sulit menerima perbedaan dan keberagaman, maka rasisme akan terus lestari. Butuh orang-orang hebat yang bisa melawan segala bentuk ketidakadilan seperti ini.

Saya kemudian teringat kepada sosok Patrice Evra. Mantan pemain Manchester United ini akrab betul dengan stigma negatif. Beberapa kali ia mendapat perlakuan kurang menyenangkan hanya karena warna kulitnya berbeda.

Evra pernah dihukum larangan bermain selama tujuh bulan akibat menendang suporter ketika ia menjadi penggawa Marseille. Kontraknya bahkan diputus oleh juara Liga Champions 1992/1993 tersebut. Namun, Evra punya pembelaan dan merasa kalau apa yang ia lakukan adalah tindakan yang tepat.

Evra tidak menyebut kalau ia mendapat serangan rasis, namun salah satu suporter yang ada di tempat kejadian menyebut kalau kalimat yang dikeluarkan oleh suporter tersebut memang tergolong sangat kasar. Evra tentu tidak bisa berdiam diri ketika seseorang merendahkannya, inilah yang membuatnya tidak perlu meminta maaf dan merasa kalau suporter tersebut layak untuk mendapat balasan.

Kasus yang paling terkenal adalah serangan rasis yang ia terima dari Luis Suarez. Striker Uruguay tersebut memanggilnya dengan sebutan ‘nigga’ yang merupakan kata berkonotasi negatif untuk menghina orang berkulit hitam. Evra jelas tidak terima karena dia dilahirkan dengan nama Patrice Evra dan bukan ‘nigga’, ‘negro’, atau yang lainnya.

Evra pun sudah menerima kejadian tersebut dengan lapang dada. Namun, pembelaan rekan setim Suarez saat itu membuatnya kecewa. Ia yang mencoba untuk menjabat tangan Suarez dilewati begitu saja. Berutung, Evra tidak mengeluarkan tinju atau tendangan melainkan dengan merayakan kemenangan di depan Suarez.

Kedua pemain pada akhirnya kembali berdamai. Musim berikutnya, kedua pemain ini kembali bersalaman. Saat tidak lagi memperkuat United dan Liverpool, Evra pernah mengucapkan selamat kepada Suarez dan memujinya sebagai striker hebat setelah meraih gelar sepatu emas Eropa bersama Barcelona. Orang yang dihina berani mengakui kehebatan penghinanya tersebut di atas lapangan. Meski begitu, bukan berarti Evra mendukung rasisme tetap lestari di sepakbola.

Evra juga pernah melakukan kampanye anti rasis dengan ceria. Ia pernah memakai kostum panda dan menari pada akun Instagram pribadinya. Ia meminta kepada semua orang untuk menjadi dirinya sendiri sekaligus menendang jauh-jauh rasisme.

Perlawanan Evra saat itu mendapat banyak sekali hambatan. Ia pernah mendapat ancaman pembunuhan. Hal ini membuatnya harus menyewa pengawal untuk berjaga di rumahnya. Ia tentu tidak ingin kalau keluarganya juga ikut menjadi korban.

“Saya tidak paham kenapa orang benci kepada saya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya,” kata Evra.

Selain itu, ia punya cara lain untuk menentang perbedaan. Kisah persahabatan dengan Park Ji-Sung dan Carlos Tevez tidak hanya sekadar kisah pertemanan antar rekan satu tim, melainkan juga gambaran kalau perbedaan bisa menyatukan sesama. Evra yang berkulit hitam, Park dengan wajah oriental, serta Tevez yang berasal dari Amerika Latin, bisa berhubungan dekat layaknya sebuah keluarga. Selain itu, Evra juga disukai oleh seisi ruang ganti klub karena sifatnya yang humoris.

“Kami berasal dari benua yang tidak sama, kami semua datang dari Asia, Eropa, dan Amerika Selatan, tetapi kami bertiga adalah teman dekat. Itu menunjukan kepada semua orang betapa bagusnya hubungan kami,” ujar Park Ji-Sung.

Evra adalah contoh kecil dari perlawanan kepada rasisme yang tidak hanya terjadi pada dunia sepakbola melainkan di segala sendi kehidupan. Pemain Prancis ini mengajarkan kalau terlepas dari warna kulit, bahasa, suku, ras, dan golongan, kita semua adalah manusia yang setara di mata sang pencipta sehingga kemanusiaan perlu dijaga bersama-sama dengan bersikap baik sesama makhluk hidup.

Loading...