OUR NETWORK

Adil Aouchiche, Talenta Perusak Impian Zidane

Piala Eropa U17 berakhir dengan rekor baru. Gelandang asal Prancis, Adil Aouchiche sukses mencetak sembilan gol sepanjang turnamen dan membuat dirinya sejajar dengan legenda Les Blues, Michel Platini. Raihan Platini dengan Aouchiche tentu berbeda. Platini mencetak sembilan gol bersama tim senior, sedangkan Aouchice hanya di U17.

Akan tetapi, rekor tersebut tetaplah dicatat oleh UEFA. Aouchiche merupakan pesepakbola pria pertama yang berhasil mencetak sembilan gol di Piala Eropa U17. Menyamai raihan gol terbanyak divisi perempuan yang dicatat Shekiera Martinez pada Piala Eropa U17 2018.

Menjadi pencetak gol terbanyak di Piala Eropa U17 sebenarnya bukan jaminan masa depan cerah. Sejak 1984, turnamen tersebut selalu diselenggarakan setiap tahun. Sehingga para talenta yang meraih sepatu emas sering kali tenggelam sebelum bersinar di level klub.

Dalam lima tahun terakhir saja, dari semua pemain yang berhasil meraih sepatu emas di Piala Eropa U17, hanya Odsonne Edouard yang tetap mempertahankan ketajamannya. Ia mencetak delapan gol di Piala Eropa U17 2015. Kemudian sukses membuktikan diri dengan menjadi pemain paling subur Celtic di Scottish Premiership 2018/2019.

Tapi tidak semua seperti Edouard. Dominic Solanke gagal mendapat kepercayaan sebagai penyerang utama Bournemouth. Ze Gomes masih tertahan di divisi dua Portugal dan hanya cetak tiga gol untuk tim muda Benfica. Sementara Amine Gouiri sama sekali tak mencetak gol untuk Olympique Lyon ataupun tim mudanya.

Pengakuan Thiago Motta

Beruntung untuk Aouchiche, kariernya tidak terbebani dengan keharusnya mencetak gol. Pasalnya, berbeda dengan nama-nama di atas, Aouchice merupakan seorang gelandang. Bukan penyerang. Memiliki insting mencetak gol tentu membantu dirinya. Tapi itu juga bukan sebuah kewajiban.

Sebagai seorang gelandang, Aouchiche diprediksi memiliki masa depan yang cerah di Paris Saint-Germain (PSG). “Dia layak mendapat penghargaan tersebut. Adil [Aouchiche] telah memperlihatkan kualitasnya dan saya rasa ia akan jadi besar di masa depan,” puji Thiago Motta, mantan gelandang PSG yang kini menangani U19.

“Dirinya memiliki kepekaan yang luar biasa di atas lapangan. Sadar akan kondisi sekitarnya dan selalu mengutamakan permainan kolektif. Dia adalah talenta luar biasa,” lanjut Motta.

Menghancurkan Mimpi Zidane

Foto: RMC Sport

Menurut World Football Scouting, Aouchiche merupakan gelandang visioner dengan umpan-umpan akurat dan mobilitas tinggi. Kehandalannya menjadi eksekutor bola mati semakin menambah daya tariknya. Bahkan lebih menarik ketimbang Zidane. Theo Zidane, bukan Zinedine.

Ketika Piala Eropa U17 dimulai, Le Telegramme sempat mengatakan bahwa Zidane adalah sosok yang akan mendapat sorotan sepanjang kompetisi. Tapi kenyataannya, sorotan itu justru menjadi milik Aouchiche.

Awalnya, Aouchiche hanyalah pelapis untuk Zidane di tim nasional. Memiliki nama besar di punggungnya, Zidane muda tentu menarik banyak perhatian. Akan tetapi, setelah Aouchice berhasil mencetak gol ke gawang Swedia, Zidane langsung tersingkir.

“Aouchiche memiliki pribadi yang menarik. Dia sangat teliti dan memperhatikan hal-hal kecil. Sulit bagi kami untuk tidak melihat kemampuannya,” tutur nakhoda Prancis U17, Jean-Claude Guitini.

Guitini tidak mencampakkan Zidane begitu saja. Menurutnya, Zidane punya masa depan cerah di tim nasional. Namun masih banyak yang harus dipelajari oleh dirinya sebelum mencapai level tersebut.

“Theo [Zidane] mirip dengan Robert Pires atau Javier Pastore. Untungnya dia adalah pemain yang senang mendengarkan dan belajar dari pengalamannya. Saat dirinya sudah selesai belajar, ia akan menjadi pemain hebat,” kata Guitini.

Selagi Zidane belajar, Aouchice naik kelas dari seorang pelapis menjadi pemain utama. Mirip dengan fenomena Dennis Cheryshev di Piala Dunia 2018. Masuk menggantikan Alan Dzagoev, kemudian bersinar dan jadi pahlawan negaranya di Piala Dunia.

Pengganti Sepadan Rabiot

Foto: PSG

Dengan rumor kepergian Adrien Rabiot dari Les Parisien, mungkin sudah saatnya untuk PSG mengorbitkan Aouchiche. Aouchiche sendiri sebenarnya tidak mau terburu-buru naik ke tim senior PSG. “Saya harus menjaga diri dan tidak jumawa,” kata Aouchiche mengingat saran dari Ayahnya.

Namun, dia adalah pemain yang tepat untuk menggantikan Rabiot. Sama-sama pemain bertalenta dari akademi PSG yang mengisi lapangan tengah. Punya mobilitas tinggi dan seorang visioner yang di atas lapangan. Perbedaan antara mereka berdua hanyalah satu: Rabiot merupakan pemain egois dan merasa tinggi. Sedangkan Aouchiche merupakan pemain yang mengedepankan tim di atas segalanya.

“Saya sudah mencetak hattrick [di Prancis U17] sejak melawan Swedia. Tapi itu bukanlah hal penting. Hal paling penting adalah tim karena kami bermain bersama-sama. Menang dan kalah juga bersama-sama. Saya tidak akan melupakan bahwa ada yang lebih besar daripada pencapaian individu,” kata Aouchiche.

Dibandingkan harus mengeluarkan banyak uang untuk Koke atau N’Golo Kante, PSG dapat memaksimalkan talenta Aouchiche di lini tengah mereka. Per 20 Mei 2019, Thomas Tuchel selaku nakhoda PSG belum mempertimbangkan Aouchiche sebagai opsi di tim senior. Tapi mungkin setelah penampilannya di Piala Eropa U17, bisa saja pikirannya berubah.