Chris Wondolowski, Pemecah Rekor Donovan di MLS

Foto: ESPN.com

Landon Donovan adalah pemain terbaik yang pernah dimiliki Amerika Serikat. Tidak ada yang bisa memungkiri hal itu. Namanya diabadikan sebagai penghargaan pemain terbaik Major League Soccer (MLS). Membuat dirinya bisa disetarakan dengan Ferenc Puskas, Rafael ‘El Pichichi’ Moreno, hingga Ricardo Zamora. Mungkin berlebihan, tapi itulah bukti dari kehebatan Donovan.

Memulai karier di Jerman setelah menarik perhatian Direktur Olahraga Bayer Leverkusen Michael Reschke, Donovan bersinar di Amerika Serikat. LA Galaxy menjadi kesebelasan yang paling melekat dengan dirinya. Namun semuanya dimulai di San Jose Earthquakes. Mencetak 145 gol sepanjang kariernya di MLS, Donovan adalah pencetak gol terbanyak dalam sejarah liga. Setidaknya sebelum rekor itu dipecahkan Chris Wondolowski.

Pemain keturunan Polandia itu memiliki cerita yang sama dengan Donovan. Memulai karier di Amerika Serikat bersama San Jose Earthquakes. Bedanya, Donovan bisa disebut sebagai pilihan utama alias ‘the Chosen One’, Wondo tidak memiliki label serupa.

Foto: WTOP

Wondo dikontrak Earthquakes pada 2005. Diberi kesempatan jadi pemain profesional meski berasal dari Universitas Chico State. Universitas yang lebih terkenal dengan pesta mereka dibandingkan atlet berprestasi.

Itu pun bukan melalui SuperDraft. Duduk bersama Michael Parkhurst (eks-Augsburg) dan Brad Guzan (mantan penjaga gawang Aston Villa), Wondo tidak terpilih dalam empat ronde draft.

Dirinya baru terpilih di ronde terakhir Supplemental Draft. Setelah Earthquakes lebih dulu menggunakan kesempatan mereka untuk jasa Brett Rodriguez, Jamie Holmes, dan Noah Merl. Apabila Donovan adalah sosok Harry Potter, Wondo mungkin dapat disebut sebagai Neville Longbottom sepakbola Amerika Serikat.

Perlahan tapi pasti membuktikan diri sebagai salah satu penyerang terbaik di MLS. Meraih piala MLS Cup secara beruntun bersama Huoston Dynamo (2006, 2007). Sesuatu yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh DC United di dua musim pertama MLS (1996, 1997).

Kesempatan Kedua di San Jose

Foto: Zimbio

Akan tetapi, Wondo bukanlah penyerang terbaik Dynamo. Hanya terlibat dalam sembilan gol dari 48 penampilannya selama tiga tahun. “Itu [minim mencetak gol] sebenarnya membuat saya frustasi. Tapi saat Anda ada di kesebelasan yang sedang berada di atas angin, rasa frustasi itu mudah untuk hilang,” aku Wondo.

Kalah bersaing dengan Brian Ching dan Kai Kamara, Wondo akhirnya dibuang. “Saya sebenarnya tak ingin hengkang dari Houston. Tapi saya juga harus berterimakasih kepada Dominic Kinnear, nakhoda Dynamo saat itu. Ia tahu jika saya harus pergi, hanya San Jose yang akan dituju,” jelasnya.

“Saya kembali ke Earthquakes pada waktu yang tepat. Sudah ada rasa percaya diri bawa saya layak main di MLS. Jadi saya selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik. Kita tidak tahu kapan cedera akan datang, tapi saya selalu siaga,” kata Wondolowski.

Keputusan itu memang benar tepat. Sekalipun harus bersaing dengan Arturo Alvarez (eks-Pacos Fereira) dan Scott Sealy (mantan pemain Maccabi Tel Aviv), Wondo selalu bisa membuktikan diri. Puncaknya datang pada musim 2012. Wondo terpilih sebagai pemain terbaik MLS setelah sukses membantu Earthquakes menjadi juara musim reguler dan memenangkan Supporter Shield.

Dirinya mencetak 27 gol pada musim tersebut. Menyamai rekor Roy Lassiter yang sudah bertahan selama 16 tahun. Rekor Lassiter dan Wondo sudah dipecahkan lagi oleh Josef Martinez (31 gol). Tapi itu adalah bukti bahwa Wondo sudah mengalami peningkatan dari awal kariernya sebagai pemain yang tersisihkan.

Wondo dan Donovan

Ia adalah seorang legenda di mata pendukung Earthquakes. Mungkin lebih legendaris dibandingkan Donovan yang menghabiskan mayoritas kariernya bersama LA Galaxy ketimbang Quakes.

Mencetak qauttrick (4 gol) ke gawang Chicago Fire pada pekan ke-12 MLS 2019, Chris Wondolowski akhirnya memenuhi ekspektasi. Pada akhir MLS 2018, Wondo sudah berhasil mencetak 144 gol. Hanya satu dari rekor Donovan.

Menurut Wondo, ini adalah angka yang sesuai dengan keinginan mantan pemain Everton tersebut. “Rekor gol tidak pernah benar-benar kami diskusikan. Ia sering kali bercanda dengan saya. Berharap saya mengakhiri karier dengan satu gol di bawah dia,” aku Wondo.

Tapi dibandingkan mengalah, Wondo justru melewati Donovan. “Pencapaian ini merupakan hasil kerja keras semua pemain yang mengenal saya. Mereka yang membantu sejak gol pertama, hingga ke-148,” katanya.

https://www.instagram.com/p/BxoTFniFQIj/?igshid=2ctgfp2k1c6f

Donovan pun rela melewati pencapaiannya dilewati Wondo. “Sebuah kehormatan bisa bermain dengan dan melawan Anda, Chris Wondo. Sebuah pencapaian yang memang layak,” tulis Donovan di Twitter.

Sudah berusia 36 tahun, Wondo belum berniat untuk berhenti mencetak gol. “Semua orang tahu bahwa petualangan masih akan terus berlanjut,” kata Wondo. Paling tidak, masih ada 22 pertandingan lagi sebelum musim 2019 berakhir. Tidak termasuk MLS Cup.

Entah berapa gol lagi yang akan dia cetak sebelum mengakhiri kariernya. Mungkin saat itu tiba, MLS akan mengabadikan nama Wondo sebagai gelar topskorer liga. Sama dengan apa yang mereka berikan kepada Donovan sebagai nama penghargaan untuk pemain terbaik.