OUR NETWORK

Elkeson, Predator Ganas Brasil yang Dilupakan

Brasil selalu dikenal memiliki pemain yang tajam. Tidak peduli apa posisi mereka, siapapun punya insting mencetak gol. Penjaga gawang? Ada Rogerio Ceni yang mencetak 41 gol dari sembilan musim. Bek? Roberto Carlos dan Dani Alves adalah spesialis bola mati. Gelandang dan penyerang terlalu banyak untuk disebutkan.

Kuat dalam menyerang, Brasil bahkan diakui sebagai negara yang membuat formasi 4-2-4 dan 4-3-3 jadi populer. Bahkan formasi 5-3-2 yang menumpuk lima pemain belakang juga bisa diterapkan secara ofensif selama Piala Dunia 1998 dan 2002 dengan Cafu dan Roberto Carlos aktif membantu penyerangan.

Talenta Brasil selalu mendapat pengakuan dari dunia. Ceni sekalipun yang menolak main di Eropa sebagai bentuk kesetiaannya kepada Sao Paulo juga diakui oleh dunia. Hingga 2019, muncul nama-nama pemain muda seperti Vinicius Junior dan Rodrygo Goes yang digadang akan membuat geger sepakbola Eropa.

Namun ada satu talenta Brasil yang seakan dilupakan oleh dunia. Ia sudah merantau dari Brasil sejak 2013. Namun ketimbang bermain di Eropa, ia merambah sepakbola Asia. Lebih tepatnya di Negeri Tirai Bambu, Tiongkok.

Elkeson namanya, gelandang serba bisa kelahiran Coelho Neto, 13 Juli 1989 yang telah menjuarai Chinese Super League (CSL) empat kali bersama dua kesebelasan berbeda, Guangzhou Evergrande (3) dan Shanghai SIPG (1).

Memilih Lippi Dibanding Eropa

Foto: EJ Insight

Ia sebenarnya punya opsi melanjutkan karier di Eropa sejak usia muda. Benfica tertarik mendatangkan dirinya dengan kontrak kepemilikan bersama dengan Vitoria. Hal serupa pernah dilakukan Benfica saat mendatangkan David Luiz dari Vitoria pada 2007. Namun, kesempatan itu ditolak oleh Elkeson.

“Saya tertarik untuk main di Eropa. Saya tahu Benfica bisa menjadi jalan saya ke Benua Biru. Tapi sebelum itu, saya ingin lebih dulu dikenal di Brasil. Itu mengapa saya bertahan, membela Vitoria,” kata Elkeson.

Sejkitar satu tahun setelah dirinya diminati Benfica, sepakbola Tiongkok menarik minat Elkeson. CSL mulai mendatangkan nama-nama tenar seperti Nicolas Anelka, Didier Drogba (Chelsea) dan Lucas Barrios (Borussia Dortmund). Banyak pemain Brasil yang ikut ditarik oleh CSL. Ketika manajer legendaris Italia, Marcelo Lippi, meminati jasanya, Elkeson pun tidak sanggup menolaknya.

“Bahasa mungkin akan menjadi masalah saya. Tapi perlahan saya juga belajar Bahasa Mandarin. Bersama Guangzhou Evergrande, saya bertransformasi jadi seorang penyerang dan nyaman mengisi posisi itu,” jelas Elkeson.

Lippi juga mengakui kehebatan Elkeson. “Dia adalah pemain yang kuat, gigih, dan punya profesionalitas tinggi. Saya yakin dirinya akan jadi pemain besar. Main di Eropa sekalipun tidak akan menjadi masalah bagi dirinya,” puji Lippi.

Tidak Ada Kesempatan Kedua

Foto: FTBL

Selama bermain di CSL, Elkeson adalah penyerang paling ganas yang pernah dilihat Negeri Tirai Bambu. Hingga musim 2018, Elkeson mencetak 118 gol dari 202 penampilan selama lima tahun.

Ia juga dua kali meraih gelar topskorer CSL saat masih membela Guangzhou Evergrande. Perkataan Lippi terbukti benar, Elkeson menjadi pemain besar. Masalahnya ia belum pernah merasakan atmosfer sepakbola Eropa.

Setelah menolak Benfica, Juventus pernah datang untuk jasa Elkeson. Namun Si Nyonya Tua juga ditolak karena alasan yang sama. Elkeson memang salah satu pionir kesuksesan Guangzhou Evergrande hingga akhirnya bisa menjadi kesebelasan terbaik di Negeri Tirai Bambu. Sayangnya, kesuksesan itu dipandang sebelah mata.

Hingga Mei 2019, dirinya tak pernah mendapat kesempatan untuk membela tim nasional Brasil. Ia pernah dipanggil Mano Menezes pada 2011 untuk pertandingan Superclasico de las Americas melawan Argentina. Namun tidak mendapat kesempatan bermain.

Akan resmi berkepala tiga pada Juli 2019, Elkeson seperti dilupakan. Bukan hanya oleh tim nasional Brasil. Tapi juga oleh dunia. Ia boleh ganas di CSL. Namun dirinya tidak mendapat pengakuan seperti pemain-pemain Brasil lainnya.

Bukan Paulinho Atau Demba Ba

Foto: ESPN

Elkeson pun tidak berpikir untuk mencari pengakuan ke luar Tiongkok. “Saya ingin menjadi pemain paling produktif di Tiongkok. Itu adalah target utama saya saat ini,” kata Elkeson. Namun dirinya juga tidak menutup peluang untuk pindah ke Eropa. “Jika saya pergi dari Tiongkok, Brasil bukanlah tempat yang diinginkan. Saya hanya akan pergi dari sini apabila ada kesebelasan Eropa yang tertarik,” jelasnya.

Mendarat di Eropa setelah menghabiskan karier di Tiongkok bukanlah hal mustahil. Dalam beberapa tahun terakhir, peluang itu semakin terbuka lebar. Mantan gelandang Tottenham, Paulinho pernah diboyong Barcelona dari Guangzhou Evergrande. Wu Lei mendapat tempat di Espanyol.

Nemanja Gudelj, Richmond Boakye, dan Demba Ba juga diberi peluang untuk kembali ke Eropa. Tapi, beda dengan Paulinho, Boakye, Gudelj, dan Ba, Elkeson belum pernah terbukti di Eropa.

Andai kesebelasan-kesebelasan Eropa cari penyerang dari Brasil, cukup mustahil mereka melihat CSL. Kemungkinan besar mereka akan langsung mencari talenta muda dari Liga Brasil layaknya Vinicius dan Rodrygo Goes yang diboyong Real Madrid. Sementara Elkeson akan terus dilupakan dan tidak mendapat pengakuan.