OUR NETWORK

Liverpool yang (Mungkin) Jadi Tempat Terbaik untuk Xherdan Shaqiri

Liverpool dan Xherdan Shaqiri mungkin saja berjodoh dan cocok satu sama lain.

Ryunosuke Umemiya sempat mengalami kebingungan dalam hidupnya. Namun, kebingungan itu sirna setelah ia bertemu dengan Yoh Asakura. Ia merasa sudah menemukan tempat terbaik dan memilih untuk tidak pergi ke mana-mana lagi.

Ryunosuke adalah salah satu karakter dalam anime dan manga Shaman King. Awalnya. ia adalah seorang berandalan dan hidupnya lebih banyak dihabiskan di jalanan. Kehidupan gangster serta tawuran menjadi makanannya sehari-hari. Namun, semua itu berubah setelah ia berjumpa Yoh Asakura, karakter utama dalam manga dan anime Shaman King tersebut.

Yoh yang menolongnya, sampai hampir rela mengorbankan nyawa saat Tokageroh (roh yang kelak menjadi pendamping Ryu) membunuh Yoh, membuat jiwa Ryu tergerak. Setelah itu, ia percaya bahwa ia sudah menemukan tempat terbaik yang ia cari selama ini. Tempat terbaik itu adalah Yoh, orang yang ia percaya dapat juga menjadikan dunia sebagai tempat terbaik bagi semuanya.

Bagi seseorang, proses penemuan tempat terbaik memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Apalagi saat definisi tempat terbaik bagi seseorang berbeda-beda jenis dan macamnya, maka setiap orang akan memiliki standar tersendiri perkara tempat terbaik miliknya. Namun, pada dasarnya, tempat terbaik akan ditentukan oleh perasaan orang itu sendiri.

Contohnya Ryu. Baginya, tempat terbaik adalah ketika bersama dengan Yoh. Sekilas tampak sederhana, tapi kita tidak bisa membantah jika memang itu yang benar-benar dirasakan Ryu. Atau mungkin contohnya Matthew Le Tissier. Ia merasa Southampton sebagai tempat terbaik baginya sehingga tidak pindah ke manapun sampai ia tua, sampai ia dijuluki “Tuhan”.

Hal yang sama juga sekarang dirasakan oleh Xherdan Shaqiri. Di Liverpool, ia mulai menunjukkan kualitasnya sebagai pesepakbola jempolan. Pertanyaannya, apakah memang Liverpool tempat terbaik untuk Shaqiri?

Shaqiri yang Tidak Berhenti Mencari Tempat Terbaik

Ketika pertama kali memulai karier profesional bersama FC Basel pada 2009, nama Shaqiri sudah mencuri perhatian. Talenta apiknya sukses mengantarkan FC Basel menjuarai Liga Super Swiss sebanyak tiga kali (musim 2009/2010, 2010/2011, dan 2011/2012) serta Piala Swiss sebanyak dua kali (musim 2009/2010 serta 2011/2012).

Berkat talentanya ini, mulai banyak yang mencoba untuk menjadikan Shaqiri bagian dari tim mereka. Bayern Muenchen berhasil pada 2012, lalu berlanjut ke Inter Milan. Namun, ada satu masalah yang dialami oleh Shaqiri di dua klub tersebut: menit bermain yang kurang. Baik di Inter maupun Bayern, Shaqiri tidak mendapatkan menit bermain yang layak.

Wajar memang, jika melihat Inter dan Bayern yang bergelimang talenta di dalamnya. Shaqiri yang biasa menjadi pusat perhatian, harus sedikit berbagi peran dengan nama besar lain. Gelimang gelar ia dapat di klub bersama Bayern, tapi secara individu, namanya tertutupi oleh nama-nama besar lain, katakanlah Franck Ribery, Arjen Robben, maupun Thomas Mueller.

Hal sama juga ia rasakan ketika di Inter Milan. Berbagi peran bersama para pemain lain membuat kemampuannya tidak terlalu mencolok. Alhasil, ia tidak lama berada di Inter. Ia langsung memutuskan untuk bergabung bersama Stoke City. Inter dan Bayern, dalam karier sepakbolanya, bisa dibilang bukan tempat terbaik. Kemampuannya tidak termaksimalkan.

Apiknya, meski ia bermain tidak begitu baik bersama Inter dan Bayern, ia masih bisa bermain baik untuk Timnas Swiss di beberapa ajang, seperti Piala Eropa 2012 maupun Piala Dunia 2014. Ia juga tampil ciamik di Piala Eropa 2016, meski Swiss hanya mampu melangkah sampai babak 16 besar. Hal itu, setidaknya, tetap mengangkat moral Shaqiri untuk mencari tempat terbaik.

Merambah Inggris Bersama Stoke City dan Liverpool

Tidak menemukan tempat terbaik di Inter dan Bayern, Shaqiri memutuskan untuk menyeberang ke daratan Inggris. Stoke City menjadi klub Inggris pertama yang ia bela, sekaligus menjadi tempat di mana ia menorehkan menit bermain yang lebih banyak dibandingkan Inter dan Bayern, yakni 92 kali (di dua klub itu, Shaqiri hanya menorehkan 67 penampilan saja).

Diberikan menit bermain dan kepercayaan yang lebih membuat Shaqiri dapat menunjukkan kemampuannya. Di Stoke, Shaqiri tidak perlu lagi bersaing dengan nama-nama tenar lain seperti di Bayern dan Inter. Di sini, ia cukup menunjukkan kemampuan terbaik agar dapat mengunci posisi inti setiap pekannya, terkecuali jika cedera menghantamnya.

Menit bermain yang lebih banyak juga membuat Shaqiri lebih berkembang. Total 15 gol dan 15 asis sukses ia sumbangkan bagi Stoke dalam tiga musim, termasuk saat ia menjadi pencetak gol terbanyak klub pada musim 2017/2018 dengan raihan 8 gol dan 7 asis. Namun, meski mendapatkan menit bermain yang lebih, di klub Stoke ini Shaqiri belum menemukan tempat terbaik.

Menurutnya, Stoke kurang menunjukkan semangat untuk bersaing dengan tim papan atas Premier League yang lain. Dalam wawancaranya dengan sebuah majalah Swiss, ia mengkritisi kemampuan teknik rekan satu timnya, yang ia nilai belum memadai untuk membuat Stoke dapat bersaing lebih jauh. Komentarnya ini memicu kontroversi, tapi menjadi kenyataan kala Stoke harus terdegradasi ke Divisi Championship. Penampilan buruk di musim 2017/2018 adalah pemicunya.

Di sisi lain, Shaqiri tentu memilih untuk selamat. Ia langsung bergabung dengan Liverpool pada musim 2018/2019, dengan mahar sekira 14,7 juta euro saja. Harga murah tidak menjadikan kualitas dari pemain yang pernah menjadi Pemain Muda Terbaik Swiss dan Pemain Terbaik Swiss ini menurun. Di Anfield, ia justru menggila meski hanya jadi pelapis trio Roberto Firmino-Mohamed Salah-Sadio Mane.

Bersama Liverpool, sejauh ini Shaqiri sudah mencatatkan 5 gol dan 3 asis dari 17 kali penampilan bersama Liverpool di semua kompetisi. Terbaru, pemain berusia 27 tahun itu mencatatkan brace kala Liverpool menaklukkan Manchester United dengan skor 3-1. Ia juga mampu tampil apik kala Liverpool menaklukkan Southampton dengan skor 3-0 pada 22 September 2018 silam.

Di bawah asuhan Juergen Klopp, Shaqiri lagi-lagi berkembang. Usai mengantarkan Liverpool menang atas United, Shaqiri menyebut bahwa ia ingin menjadi pemain yang selalu memberikan pengaruh di atas lapangan, meski ia juga tahu bahwa di atas lapangan, hanya ada 11 pemain yang bisa bermain sejak awal.

“Saya selalu ingin mencoba untuk membuat dampak ketika saya datang dari tengah laga atau bermain dari awal. Dua gol yan saya cetak di laga ini (melawan United) merupakan sebuah dampak yang bagus, dan saya senang akan hal tersebut,” ujar Shaqiri.

Melihat kebahagiaan Shaqiri ini, apakah bisa dibilang bahwa Liverpool adalah tempat terbaik untuknya?

***

Perkara tempat terbaik untuk Shaqiri ini, seperti halnya yang dialami Ryunosuke, mungkin adalah perkara yang tidak akan diketahui oleh orang. Bisa jadi, sebenarnya Shaqiri lebih bahagia ketika main di Basel, klub tempat kelahirannya, atau malah di Liverpool, Shaqiri juga bahagia karena diberikan kesempatan. Tidak seperti Ryu, Shaqiri belum mendapuk mana tempat terbaik baginya.

Namun, jika dibandingkan dengan kariernya kala membela Bayern, Inter, dan Stoke, sejauh ini, bisa dianggap Liverpool adalah tempat terbaik untuknya. Meski menjadi cadangan Mane, Salah, dan Firmino, di bawah taktik Klopp yang mengedepankan “heavy metal football”, talenta Shaqiri yang disebut sebagai Messi dari Alpen ini bisa termaksimalkan. Hasilnya, prestasi Liverpool terangkat sejauh ini, belum terkalahkan di ajang Premier League.

Shaqiri setidaknya sudah menemukan tempat di mana talentanya memberikan pengaruh dan bisa dimaksimalkan. Pertanyaannya, akankah ini terus berlangsung selamanya?