OUR NETWORK

Matheus Pereira, Meraih Mimpi dari Zona Degradasi

Dikenal sebagai salah satu kekuatan sepakbola Jerman pasca Perang Dunia pertama, 1.FC Nurnberg kehilangan taring mereka di era Bundesliga. Pemilik sembilan gelar juara liga dan empat piala DFB-Pokal tersebut bahkan dikenal sebagai kesebelasan yang sering naik-turun divisi sejak 1993/1994.

Der Ruhmreiche pernah menjuarai liga di era Bundesliga. Sekali, lebih tepatnya musim pada 1967/1968. Namun di musim berikutnya, mereka turun ke 2.Bundesliga. Mengakhiri kompetisi pada peringkat ke-17 liga.

Meski demikian, Nurnberg tidak pernah berhenti memperkenalkan talenta-talenta berkelas ke dunia sepakbola. Entah itu Dieter Eckstein (eks-Schalke, West Ham) di era 80-an. Atau Stefan Kiessling yang kemudian berubah menjadi ikon Bayer Leverkusen.

Beberapa nama lain seperti Ilkay Gundongan, Hiroshi Kiyotake, Josip Drmic, dan Marvin Plattenhardt juga mulai naik daun saat berseragam Nurnberg. Menurut Transfermarkt, per 12 Mei 2019, Philipp Wollscheid masih menjadi pemain paling mahal yang pernah mereka jual. Dilepas seharga 6,3 juta pauns ke Bayer pada musim panas 2012.

Rekor Wollscheid itu seharusnya bisa dipecahkan pada 2019/2020 andai mereka berhasil mempertahankan diri di 1.Bundesliga. Sialnya Der Rumreiche justru jadi juru kunci liga. Untuk pertama kalinya sejak 1998/1999, Nurnberg hanya menghabiskan satu musim di divisi tertinggi sepakbola Jerman.

Padahal apabila mereka berhasil selamat dari zona merah, ada peluang bagi empu Max-Morlock-Stadion itu untuk mempermanenkan jasa penyerang sayap Brasil, Matheus Pereira.

Memberikan Nafas Kehidupan

Situs resmi Bundesliga menyebut Pereira sebagai jelmaan Mohamed Salah. Mereka sama-sama bermain sebagai penyerang sayap dan memiliki rambut keriting. Keduanya krusial bagi kesebelasan masing-masing, meski nasib mereka berbeda 180 derajat.

Sepanjang 2018/2019, Pereira bermain di 21 pertandingan. Mencetak tiga gol dan arsiteki dua lainnya bagi Nurnberg. Melihat angka, kontribusinya memang tergolong sedikit. Namun setiap kali dirinya terlibat dalam sebuah gol, Nurnberg tak pernah mengakhiri pertandingan dengan kekalahan.

Total, empat hasil imbang dan satu kemenangan diraih ketika Pereiera ikut serta dalam kreasi gol. Itu juga belum termasuk catatan di pekan ke-34 jika dirinya kembali memberi gol atau assist melawan SC Freiburg. Berkat tujuh poin yang disumbangkan Pereira, ada harapan bagi Nurnberg untuk bertahan di 1.Bundesliga.

Idola di Luar Jangkauan Nurnberg

Foto: Ultra Sport TV

Harapan yang kemudian dihancurkan Stuttgart setelah Anastasios Donis dan kawan-kawan menumbangkan Wolfsburg 3-0 di pekan ke-33. Terdegradasi, Der Ruhmreiche dipastikan gagal untuk mempermanenkan pemain pinjaman mereka dari Sporting CP.

Padahal Pereira terus membuka peluang tersebut sekalipun hidup di zona merah sejak 14 Desember 2018. “Bersama Nurnberg saya mendapatkan pengalaman tentang liga di luar Portugal. Mereka memberikan saya kesempatan untuk berkembang dan melihat sepakbola dari perspektif yang berbeda,” kata Pereira.

Pihak klub ingin mempermanenkan Pereira, namun Direktur Olahraga Nurnberg Andreas Bornemann mengakui bahwa peluang itu hanya mungkin terjadi jika mereka bertahan di 1.Bundesliga. “Kami tidak bisa berbuat banyak saat ini. Akan sangat baik jika keputusan diambil setelah musim berat ini berakhir,” kata Bornemann.

Target itu gagal tercapai, Nurnberg pun dipastikan tidak bisa memenuhi permintaan 60 juta euro dari Sporting CP. Padahal pemain-pemain Nurnberg sangat senang dengan kehadiran Pereira di Max-Morlock-Stadion.

“Dirinya selalu bisa membuktikan diri setiap pekan. Saya sangat senang ia bisa mencetak gol dan memberi kami kemenangan [vs Augsburg],” ungkap Christian Mathenia, penjaga gawang Nurnberg. “Kami memiliki pemain unik dengan kualitas tinggi berkat kehadiran Pereira,” tambah kapten tim, Hanno Behrens.

Masuk Radar AS Monaco

Foto: Club Call

Nama Pereira sejatinya sudah masuk ke dalam radar pemain bertalenta sejak 2015. Saat itu Outside of the Boot menulis laporan tentang pemain kelahiran Belo Horizonte tersebut. Bagaimana dirinya sudah sempat menarik minat Leonardo Jardim di AS Monaco dan punya peluang untuk membela tim nasional Brasil ataupun Portugal di masa depan.

Pereira gerah dengan perlakuan Sporting CP yang tak pernah memberikannya kesempatan. “Mungkin saya pernah membuat kesalahan di masa lalu. Sporting CP adalah rumah saya. Tempat saya tumbuh besar, tapi belum ada kesempatan yang diberikan oleh mereka. Saya butuh menjadi pemain reguler,” kata Pereira.

Minim kesempatan itu membuat dirinya tidak ragu menerima pinangan Nurnberg. “Saya tidak bisa bertahan di sini [Sporting] untuk satu tahun lagi,” akunya. Akan tetapi syarat utama Nurnberg untuk mempertahankan Pereira tidak terpenuhi.

Ini bukan hanya soal finansial klub yang terdampak dari degradasi. Tapi juga impian Pereira untuk bermain di liga ternama. “Apapun kasusnya, saya mau bermain di liga ternama,” aku pemilik paspor Portugal itu. Nurnberg tidak lagi main di divisi tertinggi, sedangkan Sporting CP dan Liga Portugal ada di peringkat ketujuh koefisien UEFA, di bawah Bundesliga (4).

Untungnya, Pereira tidak salah memilih klub di bursa transfer musim panas 2018. Nurnberg sudah terbukti memiliki rekor positif terkait meningkatkan kualitas dan pamor pemain. Ia pun mendapat perhatian, setidaknya dari kesebelasan-kesebelasan 1.Bundesliga lain yang pernah berhadapan dengan dirinya.