Memuji Real Betis, Memuji Quique Setien

Sevilla dan suporternya yakin kalau setiap tahun mereka akan bersaing melawan trio raksasa Barcelona, Real Madrid dan Atletico Madrid, juga bersaing di level Eropa. Di saat yang bersamaan, tetangga Sevilla, Real Betis dan suporternya, lebih banyak mengendus persaingan papan tengah dan saling sikut di zona degradasi setiap musimnya.

Bayangkan saja, trofi bergengsi milik Betis (Copa Del Rey) terakhir kali direngkuh pada 2005 lalu. Sedangkan Sevilla sendiri, cukup merajalela di kancah Europa League dengan rekor-rekornya yang tak terbantahkan. Musim ini saja, Sevilla mampu melaju sampai ke perempat final Liga Champions Eropa sebelum akhirnya disingkirkan oleh Bayern Munich beberapa waktu lalu.

Musim 2013/2014 lalu mungkin menjadi salah satu musim yang cukup membanggakan bagi warga Andalusia, daerah regional dari Sevilla dan Real Betis. Kedua tim ini bertemu di babak 16 besar Europa League. Saat itu, dalam dua leg Real Betis dan Sevilla mampu memenangi masing-masing leg dengan skor 2-0. Walhasil untuk penentuan tim yang akan melaju ke babak selanjutnya harus melewati babak adu penalti yang dimenangi oleh Sevilla. Saat di penghujung musim Sevilla mampu menjuarai Europa League, Real Betis malah terperosok degradasi ke Divisi Segunda.

Namun saat ini Real Betis mulai merangkak naik bahkan memiliki poin di klasemen yang lebih baik dari Sevilla. Hingga pekan ke-37, Real Betis mengumpulkan 60 poin, sementara Sevilla 55 poin. Hal ini memastikan Real Betis bermain di kompetisi Eropa sementara Sevilla justru absen.

Grafis: Transfermarkt.com

Pencapaian Real Betis Musim Ini

Sebagai salah satu klub yang kerap megap-megap di La Liga, pencapaian pelatih baru mereka musim ini, Quique Setian, memang patut dipuji setinggi langit. Coba lihat grafis prestasi Betis di kancah La Liga selama sepupuh tahun terakhir. Paling bagus mereka nangkring di klasemen akhir pada 2012/2013 saat ditangani oleh Pepe Mel. Saat terdegradasi, mereka memang mampu juara atau setidaknya masuk babak play-off promosi. Namun saat kembali ke La Liga, papan tengah adalah sahabat karib mereka.

Namun kini Setien mengubah segalanya; mulai dari gaya bermain hingga mentalitas para pemain. Merujuk laman whoscored, Betis-nya Setien ini berada dalam posisi ketiga terbaik dalam urusan menguasai bola (ball possesion) dengan rataan 55,5% di bawah Barca (60,8%) dan Real Madrid (57,8%). Tak hanya ball possesion, Betis juga berada di tiga terbaik dalam urusan akurasi operan yaitu sebesar 84,3% di bawah Madrid (88%) dan Barca (87,1%). Melihat statistik ini saja, kita memahami bahwa Setien melakukan pendekatan permainan berbasis penguasaan bola untuk meraih kemenangan.

Saat mengawali tahun 2018 ini, Setien dan Betis berada di posisi ke-14 setelah sebelum jeda natal mereka kalaha dari Atheltic Bilbao dengan skor 2-0 saat itu. Namun momentum kebangkitan itu dimulai saat unggul dari Sevilla pasca jeda natal dengan skor 5-3. Kemenangan di Derby Andalusia tersebut seakan menjadi kado tahun baru tersendiri bagi Betis.

Mulai dari kemenangan awal tahun tersebut, Betis sudah menang sebanyak 10 kali, kalah empat kali dan imbang sekali. Hasil empat kali kalah pun bisa dibilang cukup wajar karena mereka tumbang dari tim kuat seperti Barca, Madrid, Valencia, dan tim kuda hitam lainnya yaitu Celta Vigo. Sisanya, mereka mampu mengatsinya dengan hasil kemenangan dan imbang sekali.

Eksperimen Taktik Setien

Selain pelatih yang bertipikal gemar dalam penguasaan bola untuk mengendalikan permainan, Setien sendiri merupakan pelatih yang cukup gemar bereksperimen dengan skema formasi di lapangan. Pada empat laga sebelum bertemu Girona di pekan ke-32 ini,(vs Alaves, vs Espanyol, vs Getafe dan vs Eibar), Betis-nya Setien ini memakai formasi 3-4-2-1 dengan ujung tombak Sergi Leon ataupun anak muda jebolan La Masia, Antonio Sanabria. Sedangkan saat melawan Girona, Setien terlihat memasang formasi lima bek yaitu 5-3-2 dengan menempatkan Loren Moron dan Leon di barisan terdepan. Hal ini juga melengkapi skema lainnya yang pernah dipakai Setien yaitu 4-3-3, 4-4-2, dan 3-5-2 sepanjang musim ini.

Perekrutan musim dingin 2018 pun menjadi salah satu kesuksesan menanjaknya performa Betis hingga saat ini. Tak tanggung-tanggung, mereka memulangkan Marc Bartra ke Spanyol setelah semusim sebelumnya pergi menjajal Dormund di Bundesliga Jerman. Sekadar info tambahan saja, Bartra merupakan bek yang cukup berbakat jebolan La Masia beberapa tahun lalu. Kini datangnya Bartra berarti mempermudah pekerjaan Setien untuk menerapkan taktik penguasaan bolanya sedari lini belakang.

“Setien memiliki gaya bermain yang sempurna, sabar dan mudah beradaptasi. Namun yang utama, gaya ini bagus bagi para pemain,” ungkap pemain anyar Betis, Marc Bartra. “Kita lihat saja dalam beberapa tahun mendatang, namun saya merasa kami bisa mendapatkan segalanya,” lanjutnya.

“Fokus kami tidak cuma ingin melewati rival abadi kami (Sevilla) namun juga tim-tim lain yang berada di atas kami di klasemen. Dan, masih banyak yang kami harus kerjakan untuk mewujudkan keinginan itu,” ungkap sang pelatih.

“Semua yang terjadi saat ini sangat situasional dan kami tahu banyak tim yang berjuang memperebutkan posisi yang terbatas. Jadi kami harus bisa memetik poin sebanyak mungkin dalam laga sisa musim ini,” lanjutnya mengakhiri.