Mengenal Pemimpin Galactica, Kosovare Asllani

Foto: Insporti.com

Real Madrid mulai mempersiapkan tim perempuan mereka dengan merekrut penyerang Swedia, Kosovare Asllani. Pemain yang kerap disapa Kosse itu akan membela CD Tacon selama 2019/2020, sebelum klub yang dibentuk mantan pesepakbola Spanyol, Ana Rosell, migrasi penuh dengan Los Blancos pada musim berikutnya.

“Bangga untuk mengumumkan bahwa saya adalah pemain pertama yang menandatangani kontrak dengan Real Madrid/CD Tacon. Saya tak sabar untuk mencetak sejarah. Membantu membangun tim ini sejak awal. Menggunakan seragam Real Madrid adalah sebuah mimpi bagi saya. Hala Madrid,” tulis Kosse di akun sosial media miliknya.

Keputusan Real Madrid untuk menjadikan Kosse sebagai pemain pertama mereka tergolong menarik. Namanya tidak ada di dalam daftar calon ‘galactica‘ yang disebut AS. Bedasarkan laporan mereka, Real Madrid lebih mengincar nama-nama seperti Marta dan Alex Morgan yang sudah dikenal di seluruh dunia.

Akan tetapi, kehadiran Kosse di Ibu kota Spanyol juga tidak mengejutkan. Sebagai seorang suporter Los Blancos, Kosse adalah salah satu pemain yang mendorong Real Madrid untuk memiliki kesebelasan perempuan.

“PSG, Lyon, Bayern, Wolfsburg, Chelsea, Juventus, FC Barcelona, dan sekarang Manchester United. Keputusan memulai tim perempuan ada di tangan kalian, Real Madrid! Bangunlah,” tulis Kosse usai Manchester United resmi memperkenalkan tim mereka pada Maret 2018.

Hal serupa kembali diutarakan Kosse satu tahun kemudian setelah Barcelona dan Atletico Madrid memecahkan rekor penonton sepakbola perempuan. “Mana klub perempuan kalian? Lihat apa yang sudah dilakukan rival-rival terbesar kalian dan bagaimana mereka peduli ke sepakbola perempuan,” katanya.

Setelah dua tahun lebih mendorong tim favoritnya untuk membentuk divisi perempuan, Kosse akhirnya mendapat kehormatan jadi pemain pertama yang direkrut Real Madrid.

Mendapat Perlakuan ala Ibrahimovic

Foto: Kosovo Diaspora

Dirinya mungkin bukan Morgan atau Marta. Tapi bukan berarti ia tidak layak diplot jadi poster utama dan pemimpin Galactica. Pemain kelahiran 29 Juli 1989 itu mungkin sudah tidak muda lagi. Ketika Real Madrid resmi mewarnai sepakbola perempuan pada 2020, ia sudah tergolong veteran. Pemain berkepala tiga.

Namun Kosse dibekali segala pengalaman untuk membantu Los Blancos membangun tim perempuan mereka. Ia sudah mengangkat semua piala yang tersedia di Swedia.¬†Pernah bermain di National Women’s Soccer League (NWSL) bersama Chicago Red Stars. Juga punya pengalaman membela kesebelasan ternama Eropa seperti Paris Saint-Germain dan Manchester City.

Sosok multi-talenta yang juga menulis buku anak-anak di sela kehidupan profesionalnya itu sudah digadang-gadang jadi pemain besar sejak remaja. Dirinya sering kali dijuluki ‘Zlatan’ oleh berbagai media. Apalagi ketika ia membela PSG.

Zlatan Ibrahimovic memang berpengaruh besar dalam karier Kosse. Mantan pemain Ajax itu bahkan menjadi alasan utama mengapa Kosse bisa mendarat di Paris pada 2012. “Jika Anda ingin memiliki tim hebat, penyerangnya harus dari Swedia,” kata Ibrahimovic kepada Direktur Olahraga PSG Leonardo. Kemudian mendaratlah Kosse di Ibu kota Prancis.

Sama-sama diproyeksi menjadi pemain hebat sejak usia muda, pamor Kosse tergolong kontroversial juga layaknya Ibrahimovic. Dirinya pernah dijuluki ‘diva’ oleh media-media Swedia karena terlihat kaku dan sombong. Namun hal itu justru menjadi motivasi bagi Kosse. “Saya senang ketika mereka mengatakan hal itu,” akunya. “Mereka seperti tidak mengerti sepakbola dan lupa bahwa saya masih berusia 20 tahun,” kata Kosse pada 2009.

Bukan Ibrahimovic

https://www.youtube.com/watch?v=8np1dq5Exg8

Meski demikian, Kosse dan Ibrahimovic sebenarnya tak memiliki banyak kemiripan. Ketika Ibrahimovic masih menyombongkan diri di Major League Soccer, Kosse dengan suka rela menerima kenyataan bahwa ia sudah tidak lagi muda.

Bahkan di tim nasional, meskipun dirinya sempat berkelahi dengan pelatih legendaris Swedia, Pia Sundhage, Kosse tidak keberatan ketika ia ditarik jadi gelandang. “Ini lebih menyenangkan daripada yang saya bayangkan,” kata Kosse.

Memasuki fase sebagai pemain senior, ia bahkan sudah mulai berpikir untuk kembali melakukan transformasi posisi. “Saya harus mulai belajar menjadi gelandang bertahan. Pemain dengan kemampuan teknis seperti Pirlo dengan kekuatan layaknya Gattuso,” kata peraih medali perak Olimpiade 2016 tersebut.

Paralel dengan Ibrahimovic mungkin tidak bisa ia hindari. Sekalipun dirinya membenci hal tersebut. Perbandingan itu sebenarnya cukup membantu dia mendapatkan sorotan. Jadi ketika ia membuktikan kualitasnya dengan kaki sendiri, banyak orang sudah mengetahui siapa sosok Kosovare Asllani.

Kosse merupakan penghubung antara lini tengah dan depan Swedia. Ia memiliki operan akurat, kontrol bola yang mumpuni, serta pergerakan yang mematikan. Sayangnya, dia juga mudah terkena cedera. Beberapa kali dirinya harus absen dari laga dan turnamen penting karena cedera.

“Saya merasa seperti porselen,” aku Kosse. Meski demikian, Kosse tetaplah bagian penting di tim nasional. Bersama Lotta Schelin, dirinya jadi ‘pasangan emas’ di lini serang Swedia.

Kosse bahkan merupakan pesepakbola perempuan pertama yang namanya diabadikan menjadi lapangan. Bukan karena Ibrahimovic, melainkan prestasi dan pengaruhnya pada sepakbola perempuan di Swedia.

Memaksa Real Madrid Untuk Serius

https://www.instagram.com/p/B0DxzABIUga/

Memilih Kosse sebagai pemain pertama yang didatangkan klub, seharusnya jadi sebuah pernyataan bahwa Real Madrid serius membangun sepakbola perempuan. Terlepas dari semua perkataan Presiden Real Madrid Florentino Perez di masa lalu, mereka tidak punya opsi lain setelah kedatangan Kosse.

Sosok yang memulai karier profesionalnya bersama Linkopings FC terkenal keras ketika membicarakan keseteraan. Terutama di dunia sepakbola. Ia pernah memprotes Asosiasi Sepakbola Swedia (SvFF), UEFA, dan FIFA karena melakukan diskriminasi terhadap pemain perempuan. Entah itu dana acara perayaan sepakbola yang jauh lebih mahal dari alokasi biaya sepakbola perempuan ataupun kenyataan bahwa mereka harus bermain di rumput buatan.

Bahkan PSG tidak lepas dari protes Kosse. Saat drinya ditanya soal berapa biaya yang dikeluarkan kesebelasan berlimpah harta seperti PSG untuk sepakbola perempuan, Kosse menjawab bahwa mayoritas uang tersebut hanya dinikmati kompatriotnya di tim laki-laki.

“Kondisi di PSG tidaklah begitu bagus. Mereka bahkan tidak memiliki perencanaan latihan yang matang. Semoga hal itu berubah karena saya tahu mereka ingin menjadi kesebelasan terbaik dunia. Bukan hanya laki-laki, tapi juga perempuan. Untuk sementara ini, fokus PSG masih kepada laki-laki,” kata Kosse.

Real Madrid menunjuk Kosse sebagai pemimpin Galactica mereka. Menjadikan dirinya sebagai pemain pertama sepanjang sejarah klub. Mereka harus serius mengurus tim perempuan. Jika tidak, Kosse pasti akan membuka kebobrokan di Kota Madrid. Sama seperti apa yang ia lakukan kepada PSG.