OUR NETWORK

Paco Alcacer, Super-sub Calon Pemain Terbaik Dunia

Paco Alcacer mencuri banyak perhatian musim ini. Menjaringkan 6 gol dari 3 penampilan adalah hal yang hebat bagi seorang striker, bahkan 6 gol tersebut ia cetak ketika turun sebagai pemain pengganti. Namun sebenarnya Alcacer bukanlah seorang Super-Sub. Ia memanglah striker papan atas Eropa.

Di Piala Eropa U-19 2011, Spanyol melaju mulus hingga ke babak final nyaris tanpa kendala. Spanyol menang dua kali dan cuma sekali kalah di fase grup dari Turki. Lolos ke final setelah mengalahkan Irlandia Utara dibabak semifinal dan berjumpa Ceko di babak final.

Spanyol saat itu mengandalkan duet striker maut Alvaro Morata dan Juanmi. Morata sendiri akhirnya keluar menjadi top skorer turnamen. Berjumpa Ceko di babak final, Spanyol harus tertinggal lebih dulu lewat gol Ladislav Krejci pada menit ke-57. Spanyol baru bisa menyamakan kedudukan pada menit ke-85 lewat sepakan Jon Aurtenetxe Borde.

Spanyol kemudian harus menjalani babak perpanjangan waktu. Ceko kembali unggul 7 menit perpanjangan waktu bergulir lewat gol Patrcik Lacha. Spanyol tampak frustrasi karena gagal membongkar pertahanan kuat Ceko.

Babak kedua perpanjangan waktu, Spanyol berbalik unggul 3-2. Dua gol Spanyol dicetak striker pengganti yang masuk di babak kedua. Striker ini bahkan minim mendapatkan menit bermain selama turnamen berlangsung. Paco Alcacer adalah striker tersebut. Dua golnya tidak hanya membuat Spanyol suskes mengalahkan Ceko namun juga membawa Spanyol menjadi juara Piala Eropa U-19 pada 2011.

Tragedi dan Kepemimpinan

Paco Alcacer merupakan jebolan asli Akademi Valencia. Alcacer juga merupakan pemain asli dari daerah Valencia. Striker dengan tinggi 175 cm ini dikenal karena insting dan eksekusi bola yang ciamik. Keunggulan lainnya adalah Alcacer merupakan striker yang cepat. Ia tidak ragu melakukan dribbling melebar kemudian melakukan tusukan ke jantung pertahanan lawan.

Tidak perlu waktu lama bagi Alcacer mencatatkan debut di tim utama. Tahun 2010 ia bermain penuh 90 menit di debutnya bersama Valencia di ajang Copa Del Rey menghadapi UD Logroñés. Meskipun tidak mencetak gol, namun ia sukses mengantarkan Valencia menang telak 4-1.

Satu musim setelah debut manisnya bersama Valencia, ia harus menghadapi tragedi yang menimpanya. Pada pertandingan pra-musim menghadapi Roma, Alacacer mencetak gol terakhir dalam kemenangan 3-0. Namun, ia langsung berlari keluar lapangan pasca pertandingan.

Alcacer diberitahu oleh klub bahwa sang ayah mengalami serangan jantung. Sempat mendapatkan bantuan medis, sang ayah kemudian meninggal. Ini Membuat kehilangan besar bagi Alcacer. Ia bahkan baru kembali bergabung satu minggu sebelum kick off La Liga untuk menjalani terapi.

Musim 2012/2013, Valencia meminjamkan Alcacer ke klub Madrid, Getafe. Performanya bisa dikatakan tidak terlalu buruk dengan mencetak 3 gol dari 20 pertandingan. Namun dari tiga gol tersebut, satu gol penting ia ciptakan menghadapi Barcelona di Camp Nou, yang mengantarkan Getafe mengambil poin penuh setelah mengalahkan Barcelona 3-2.

Penampilan yang ditunjukkan bersama Getafe, membuat Valencia yang saat itu dilatih Miroslav Dukic kemudian membawa kembali Alcacer dari masa pinjamannya. Keputusan tepat, meskipun Valencia terseok-seok di La Liga dan mengalami pergantian manajer dari Dukic ke Juan Antonio Pizzi.

Alcacer tetap menunjukkan permainan menakjubkan, pemain yang baru berusia 19 tahun ini mencetak 14 gol di semua ajang. Gol penting ia cetak di ajang Liga Eropa melawan Basel, Valencia saat itu tertinggal 0-3 secara agregat, hattrick Alcacer kemudan membantu Valencia menghajar Basel 5-0 sekaligus unggul 5-3 secara agregat.

Musim 2014/2015, Alcacer dinobatkan menjadi Vice-Captain dari Dani Parejo, naluri kepemimpinan Alcacer memang tampak di musim ini. Alcacer tidak segan meneriaki siapapun yang bermain buruk. Di akhir musim Valencia menempati posisi keempat dan Alcacer mencetak 14 gol di semua ajang yang lagi-lagi menobatkannya menjadi topskorer klub.

Setelah musim yang buruk bersama Valencia 2015/2016, Alcacer memutuskan hengkang ke Barcelona di akhir musim. 30 juta Paun digelontorkan klub Catalan untuk meboyong sang striker ke Camp Nou.

Alacacer kesulitan menembus tim utama. Trio Messi-Suarez-Neymar sulit untuk digantikan. Bahkan pindahnya Neymar di musim lalu ke PSG tetap membuat Alcacer bisa menembus line-up tim utama. Meskipun demikian, Alcacer masih mencatatkan performa apik dengan mengemas 50 penampilan, mencetak 10 gol dan 7 asis bagi Barcelona selama 2 musim. Sebuah catatan yang impresif bagi seorang cadangan.

Super-Sub

Selama dua musim di Barcelona, Alcacer kemudian dipinjamkan ke Borussia Dortmund musim ini. Pun kehadiran Alcacer sejatinya sulit dimasukkan dalam skema ala Lucien Favre. Favre menggunakan skema 4-3-3, di mana secara hybrid akan berubah menjadi 4-4-1-1.

Trio lini serang diisi oleh Marco Reus-Maximillian Philips-Christian Pulisic. Skema ini digunakan pada dua pertandingan pertama Dortmund. Meskipun demikian Alcacer mampu menunjukkan kualitasnya menghadapi Eintracht Frankurt. Masuk pada menit ke-79, ia mencetak gol penutup dalam kemenangan 3-1 Dortmund atas Frankurt.

Namun itu tidak membuat Lucien Favre memasang Alcacer secara reguler. Favre lebih memilih trio Reus-Philips-Pulisic, sambil sesekali memainkan Jadon Sancho dan Marius Wolf. Alcacer bahkan sempat tidak dibawa ke pertandingan menghadapi Hoffenheim dan Nurnberg karena cedera otot.

Pun melihat skema Favre memang lebih mengakomodasi peran Reus sebagai striker utama. Dibantu dua pemain yang melebar di lini depan. Praktis Alcacer kesulitan masuk dalam skema Favre, belum lagi lini depan Dortmund yang cukup penuh musim ini.

Titik balik Alcacer di Dortmund ketika menghadapi Monaco. Tampil sebagai starting eleven, Alcacer menunjukkan ketajamannya dengan mencetak 1 gol dan membantu Dortmund menang 3-0 atas Monaco. Meskipun sulit mendapatkan tempat di tim utama, Alcacer tetap menunjukkan penampilan apik.

Menghadapi Leverkusen, Dortmund harus tertinggal 0-20 di babak pertama. Alcacer duduk di bangku cadangan. Satu jam pertandingan berjalan, Alcacer kemudian dimasukkan oleh Lucien Favre menggantikan Maximilian Philipp.

Pertandingan berubah, Dortmund bermain dengan skema dan arah permainan yang lebih baik berkat hadirnya Alcacer. Leverkusen justru kelimpungan. Jonathan Tah, pemain belakang Leverkusen seringkali kehilangan posisinya karena pergerakan Alcacer.

Celah ini dimanfaatkan Reus untuk membuat peluang. Dua gol dari Jacob Buurn Larsen dan Marco Reus tampaknya akan membawa pertandingan imbang 2-2. Sebelum gol Alcacer membuat Dortmund unggul 3-2. Leverkusen yang panik, justru kembali kebobolan lewat serangan balik cepat. Aktornya? Paco Alcacer. 4-2 menjadi hasil akhir pertandingan.

Bukan Super-sub

Alcacer kembali menunjukkan kualitasnya setelah mencetak hattrick di pertandingan menghadapi Augsburg. Luar biasanya lagi, Alcacer mencetak hattrick setelah turun sebagai pemain pengganti. Gol terkahirnya melalui tendangan bebas di detik terakhir, seolah menegaskan dirinya sebagai Super-sub.

Namun Stefan Buzcko kontributor ESPN yang juga seorang fans Dortmund, menjelaskan bahwa skema Favre-lah yang menyebabkan Alcacer seolah Super-sub. Padahal, Alcacer adalah sosok yang benar-benar dibutuhkan Dortmund.

“Beberapa musim kita memiliki Lewandowski, Aubameyang, dan Batshuayi, musim lalu. Alcacer dibutuhkan Dortmund, ia bukan Super-sub, ia layak mendapatkan tempat di tim utama,” tulisnya di ESPN.

Dan memang Alcacer kini memuncaki daftar top skorer di Bundesliga, dengan 6 gol dari 3 pertandingan, di mana ketiganya Alcacer turun sebagai pemain pengganti. Alcacer memang seringkali mencetak gol disaat-saat krusial, namun ia bukan Super-sub. Ia memang striker papan atas dengan insting tajam didepan kotak penalti. Jadi akankah Lucien Favre menyadari kesalahannya dan memasang kembali Alcacer di komposisi tim utama?

Loading...