OUR NETWORK

Pasang Surut Paris FC

Paris FC mungkin kurang familiar ditelinga pencinta sepakbola. Padahal bisa dibilang Paris FC merupakan cikal bakal dari adanya Paris Saint-Germain yang dikenal saat ini. Namun sayangnya nasib Paris FC tidak sebaik Paris Saint Germain.

Sebagai Ibu kota Prancis, Paris adalah daerah dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Prancis. Sejak abad ke-18, kota ini dikenal lewat fashion, musik, budaya, dan seni. Belum lagi dengan keindahan arsitektur bangunan yang tersaji di tiap sudut kota. Penataan Kota yang menjadi patokan para urban planner sejak abad ke-19 oleh Georges-Eugène Haussmann, masih bisa dinikmati hingga kini. Dengan segala keunggulannya, Paris bisa disebut sebagai kota terindah di dunia.

Di sepakbola sendiri, sejak masuknya investor Nasser Ghanim Al-Khelaifi menjadi pemilik dari klub kebanggan Paris yakni Paris Saint-Germain, trofi domestik dipastikan akan direngkuh PSG. Belanja pemain gila-gilaan dengan nominal yang mungkin terdengar tidak masuk akal tentu saja menjadi faktornya.

Namun PSG bukanlah satu-satunya kesebelasan yang bermarkas di Paris. Bahkan bisa dibilang, PSG bahkan dianaktirikan oleh dewan kota Paris pada 1980-an. Klub semenjana asal Paris yakni Paris FC-lah yang diakui oleh dewan kota sebagai klub kebanggan Paris. Meskipun sejak berdirinya, Paris FC pada 1969 belum memiliki prestasi membanggakan. Bahkan lebih sering terjebak kesulitan secara finansial.

Penggabungan dan Pemisahan yang Pahit

Adanya Paris Saint-Germain atau PSG sebenarnya tidak lepas dari adanya Paris FC. PSG merupakan hasil merger antara Paris FC yang saat itu berkompetisi di Ligue 2 dengan Stade Saint-Germain yang berlaga di Ligue 1 pada 12 Agustus 1970. Jadilah Paris Saint-Germain yang kita kenal sekarang. Namun sayangnya merger ini kemudian mendapatkan kecaman dari dewan kota Paris.

Kecaman tersebut hadir dikarenakan PSG dianggap tidak merepresantiskan sepakbola kota Paris. Maklum, Stade Saint-Germain merupakan klub yang berasal dari kawasan sub urban Paris, yang berjarak sekitar 12 km di barat Paris. Sehingga merger kedua klub tidak akan diakui oleh dewan kota Paris sebagai kesebelasan yang berasal dari Paris.

Paris FC kemudian menarik diri dari merger tersebut pada awal musim 1972/1973. Ironisnya, Paris Saint-Germain harus terdegradasi ke Divisi 3 dan kehilangan status sebagai klub profesional sedangkan Paris FC berlaga di Ligue 1 akibat pemisahan ini.

Paris FC saat itu berlaga di Parc des Princes. Mereka lebih sering berkutat dengan kesulitan finansial dibandingkan dengan prestasi. Hanya dua musim berselang, Paris FC terdegradasi ke divisi kedua sedangan PSG justru promosi ke Ligue 1.

Pamor PSG kemudian berkembang pesat, terbukti dengan dukungan yang hadir meningkat tajam pada musim 1975/1976. Ini berbanding terbalik dengan Paris FC yang justru meredup dengan rataan penonton yang hadir ke stadion hanya berkisar 10.000 hingga 11.000. Padahal semusim sebelumnya Paris FC memiliki rataan penonton sebanyak 13.000 penonton.

Setelah 4 musim tepatnya pada musim 1978/1979, Paris FC kembali promosi ke Ligue 1. Namun berselang satu tahun, mereka kembali terdegradasi. Sejak itulah Paris FC semakin rutin terjebak kesulitan finansial. Mereka terlilit hutang sebesar 4 Juta Euro.

Masuknya Investor Baru

Pada musim 1982/1983, kesulitan finansial menyebabkan Paris FC mencari klub untuk melakukan merger. Di saat yang sama Jean-Luc Lagardère, pebisnis asal Prancis tertarik untuk berinvestasi ke kesebelasan. Targetnya menyaingi PSG sebagai klub paling tangguh di Paris saat itu.

Jean-Luc Lagardère kemudian mengakusisi dua klub sekaligus, Paris FC dan Racing Club de France. Keduanya kemudian bermerger dengan cara yang ironis: pemain terbaik kedua klub dijadikan satu menjadi Racing Club Paris atau Matra Racing (Perusahaan miliki Jean-Luc Lagardère bernama “Matra”). Mereka berkompetisi di divisi dua di mana Paris FC berkompetisi. Sedangkan para pemain muda dan cadangan kedua klub bermain di Paris FC 83 yang bermain di divisi 4. Di musim inilah Paris 83 diberikan corak jersey dengan warna mirip dengan milik PSG yang bertahan hingga sekarang.

Paris FC 83 atau Paris FC sempat turun ke divisi kelima sebelum kembali promosi ke divisi keempat dan langsung promosi ke divisi ketiga atau Championnat National setahun setelahnya. Bertahanya 12 musim dari musim 1987/1988 hingga kemudian terdegradasi ke Championnat National 2 atau divisi 4 pada musim 1999/2000.

Naik Divisi dengan Perbaikan Finansial

Musim 2006/2007 atau enam tahun berkutat di divisi 4, Paris FC kemudian promosi ke divisi ketiga. Dan tujuh musim berselang Paris FC promosi ke Divisi 2 atau Ligue 2. Namun masalah finansial masih rutin menyulitkan Paris FC untuk berkembang dan semakin tertinggal jauh dari tetangga terdekatnya, PSG. Sempat kembali ke divisi 3 pada musim 2016/2017, Paris FC kemudian kembali musim lalu dan menempati posisi kedelapan di klasemen akhir.

Kepemilikan klub kemudian membaik. Sejak musim 2014/2015, Paris FC dimiliki oleh duo konglomerat. Kayque Garbacchio Saldanha selaku pemilik dari Mumbai FC, India sekaligus konglomerat dari Rusia dan Sulaiman Al-Fahim yang juga pemiliki dari Mancheseter City dan Portsmouth. Target keduanya jelas membawa Paris FC menjadi klub yang disegani sekaligus bisa bersaing dengan tetangganya PSG.

Dengan adanya dua investor dengan dana tidak terbatas bukan tidak mungkin dalam beberapa musim kedepan Paris FC dan Paris Saint-Germain akan menjadi derby penuh gengsi. Pertaruhan antara kekuatan finansial plus sejarah keduanya akan menjadi pembuktian, klub manakah yang pantas mewakili Paris di sepakbola apakah Paris FC ataukah Paris Saint-Germain.

Loading...