Pembuktian Jordan Pickford di Tengah Lautan Cibiran

Sebelum berangkat ke Piala Dunia, Gareth Southgate diberikan pekerjaan rumah besar untuk memilih penjaga gawang utama di Rusia nanti. Joe Hart yang sudah menjadi pilihan utama sejak Piala Eropa 2012, dipinggirkan Southgate dan lebih memilih muka-muka baru untuk sektor penjaga gawang: Nick Pope, Jordan Pickford dan Jack Butland.

Dari ketiga nama tersebut, tidak ada satupun yang memiliki caps di atas 10. Tentu bukan hal mudah bagi Southgate memilih penjaga gawang utama. Belum lagi faktor tradisi bahwa kiper Inggris seringkali melakukan blunder-blunder konyol nan merugikan.

Pilihan Southgate jatuh kepada Jordan Pickford sebagai penjaga gawang utama. Tentu saja pemilihan tersebut mengundang banyak kritik. Pickford dianggap belum pantas berada di bawah mistar The Three Lions di Piala Dunia. Pickford bahkan baru memperkuat Inggris pada November tahun lalu. Meskipun Pickford dinobatkan sebagai Player of The Year Everton musim ini. Kearguan public Inggris terhadap sosok Pickford masih sangat besar.

Baca juga: Profil Inggris di Piala Dunia 2018

Terbiasa dengan Tekanan

Pickford terkesan cuek dengan segala kritikan yang datang. Dirinya lebih memilih fokus dan menjawab keraguan dengan bukti di lapangan. Mentalitas yang dibawanya sejak masih bermain di akademi Sunderland.

Pada 2012 silam ketika Pickford dipinjamkan ke Darlington, klub kecil yang berkompetisi di divisi 6 Inggris, ia masih berusia 18 tahun. Gajinya dibayar kalau dia dimainkan. Pickford muda di debut pertamanya bersama Darlington, harus berhadapan dengan 6.000 supporter Fleetwood Town dengan situasi yang tidak kondusif.

Sepakmula diundur karena para suporter yang ricuh. Pagar pembatas di belakang gawang dijebol karena pihak keamanan yang kurang sigap. Hasilnya, Pickford pun menjadi bulan-bulanan suporter lawan. Dalam pertandingan tersebut, Darlington kalah 1-3 dari Fleetwood. Setelahnya, Pickford bahkan tidak satu kalipun meraih kemenangan di 17 pertandingan bersama Darlington dan kemudian terdegradasi.

Namun Pickford mendapatkan kredit positif dari rekan setimnya di Darlington. “Ia membuat 25-30 penyelamatan, di usia muda tentu itu penampilan yang luar biasa. Mentalitas kuatnya ia buktikan di lapangan,” kenang Adam Rundle, kapten dari Darlington di Sky Sports.

Kembali ke Sunderland, Pickford kemudian dipinjamkan ke sejumlah klub seperti Alfreton Town, Burton Albion, Carsile United, Bradford City, hingga Preston North End. Dengan sejumlah peminajaman yang dijalani Pickford penampilannya semakin apik. Sunderland kemudian memanggil kembali Pickford yang kala itu menjalani peminjaman di Preston North End.

Sunderland yang berkutat di zona degradasi memanggil kembali Pickford sebagai kiper ketiga. Mentalitas Pickford terbentuk, sosoknya kemudian lebih menjawab kritik dengan penampilan dan selalu siap ketika dibutuhkan.

Tidak seperti pemain muda lainnya yang sudah memiliki gaji besar dan hidup mewah, Pickford masih membumi. “Dia sangat benci dikalahkan. Namun ia tidak pernah berkata lantang tentang hal itu. Pickford lebih memilih meningkatkan penampilannya sendiri. Di usia muda tentu saja itu sikap yang baik,” ucap Billy Knott yang melatih Pickford di Akademi Sunderland.

“Sifatnya yang selalu membumi ditunjukkannya di luar lapangan,  ketika pemain muda seusianya sudah membawa mobil mewah dan keluar hingga malam hari, Pickford bahkan masih menggunakan mobil yang diberikan ayahnya dan bahkan masih membawa bekal makanan dari rumah,” lanjut Knott.

Penampilannya pada musim 2016/2017 menjadi buktinya. Meskipun gagal menyelamatkan Sunderland dari degradasi, penampilannya bersama The Black Cats mengundang decak kagum banyak pihak. Tampil sebanyak 29 kali di bawah mistar gawang Sunderland, Pickford memang kemasukan 56 gol. Namun ia mencatatkan sebanyak 7 penyelamatan per pertandingan selama berseragam Sunderland. Degradasinya Sunderland membuat banyak klub memburu tanda tangan Pickford. Everton menjadi klub yang beruntung.

Di Everton, kedatangannya sempat diragukan. Dengan tinggi 185cm, sosoknya memang tidak terlalu tinggi untuk ukuran penjaga gawang. Di lima pertandingan awalnya bersama Everton pun tidak meyakinkan.

Ia hanya mencatatkan satu penyelamatan perpertandingan dan kemasukan total 10 gol jelas bukan start yang baik. Namun Pickford tidak memedulikan keraguan tersebut dan memilih fokus untuk memperbaiki penampilannya. Hasilnya, Pickford kemudian dinobatkan pemain terbaik Everton musim lalu dan mencatatkan 10 cleansheet.

Piala Dunia dan Pembuktian Pickford

Penjaga gawang utama Inggris kemudian diraih Pickford. Sejauh ini penampilannya mengesankan dengan membawa Inggris lolos ke perempatfinal Piala Dunia kali ini. Penyelamatan penting dilakukan Pickford dalam beberapa kesempatan. Terkahir penyelamatan fantastis dilakukan Pickford ketika membendung tendangan pemain Kolombia, Mateus Uribe, dari jarak jauh.

https://www.instagram.com/p/BkyM2VmhJ-Y/?tagged=pickfor

Meskipun kemudian harus memungut bola dari gawangnya dari tandukan Yerry Mina. Penyelamatan Pickford di babak adu penalti dengan menghentikan sepakan Carlos Bacca, bukan hanya membawa Inggris lolos ke perempatfinal. Namun juga seolah menjawab cibiran Courtois yang menganggap Pickford merupakan penjaga gawang yang kecil.

Pickford kini mendapatkan apresiasi khusus dari sejumlah pihak. Tidak terkecuali Gareth Southgate. Ia dengan yakin menyatakan bahwa Pickford memang merupakan kiper kelas dunia. Hal senada diungkapkan oleh kompatriotnya di Everton, Michael Keane yang yakin bahwa Pickford akan membawa pulang gelar Piala Dunia kali ini.

Namun lagi-lagi semua pujian dan kritikan ditanggapi Pickford dengan dingin. “Saya mempelajari semuanya. Pencapaian ini tentu hasil kerja keras semua yang ada di tim. Kami tidak boleh berpuas diri,” ungkap Pickford di Independent.

Sebagai kiper utama Inggris, kini Pickford membawa beban besar dengan impian para suporter Inggris untuk menjadi Juara Piala Dunia. Bukan hal yang mustahil, dengan performa gemilang Pickford sejauh ini dan para pemain Inggris yang bermain cukup menjanjikan. Tagline “football’s coming home” mungkin akan terwujud. Namun semoga Pickford tidak melakukan tradisi kiper Inggris yang seringkali melakukan blunder.