OUR NETWORK

Tidak Semua Bisa Jadi Jadon Sancho

Jadon Malik Sancho, siapa yang tidak pernah mendengar namanya dalam empat bulan terakhir? Mungkin hanya mereka yang tinggal di goa, tak peduli sepakbola luar negeri, atau memerhatikan tapi sekedar tim favorit berserta liganya dan bukan 1.Bundesliga.

Apabila di antara kalian ada yang merupakan bagian dari tiga kelompok tersebut, berikut adalah sedikit latar belakang tentang pemuda sensasional Inggris, Jadon Malik Sancho. Ia lahir di Camberwell, Inggris pada 25 Maret 2000. Dia diboyong klub kaya raya Manchester City dari Watford saat masih berusia 14 tahun dan merupakan salah satu pemain paling potensial yang dimiliki oleh the Citizens -julukan Manchester City-.

Namun pada 2017, Manchester City gagal mempertahankan jasa Sancho karena pemuda satu ini ingin mendapat tempat di tim utama. Manajer Manchester City Pep Guardiola telah berusaha mempertahankan Sancho. Bahkan pihak klub menawarkan gaji tertinggi dalam sejarah akademi Manchester City. Tapi hal itu ditolak oleh Sancho.

Sancho memilih hengkang ke Jerman bersama Borussia Dortmund. Musim lalu, dia masih sekedar pemain rotasi. Tapi musim ini, ia adalah bintang utama 1.Bundesliga-divisi sepakbola paling tinggi di Jerman.

Foto: Mirror.co.uk

Peran Sancho krusial dalam kesuksesan Dortmund berada di puncak klasemen sementara 1.Bundesliga yang lebih sering ditempati oleh Bayern Munchen. Mencetak empat gol dan arsiteki enam lainnya, nama Sancho sering terdengar ataupun tertulis dalam pemberitaan sepakbola sejak Agustus.

Kini telah berseragam tim nasional senior Inggris, Sancho seperti wajah yang dipasang oleh Inggris sebagai suntikan kepada pemain-pemain muda mereka berkarir di luar tanah kekuasaan Ratu Elizabeth. Meski sebenarnya sebelum Sancho sudah banyak pemain asal Inggris yang bermain di luar negeri. Sancho seperti CAKE dengan lagu ‘I Will Survive’. Ada nama Gloria Gaynor yang sebenarnya membuat lagu itu populer, namun karena dentuman bass dari versi CAKE lebih melekat di kepala.

Setelah Sancho sukses, pemain-pemain muda Inggris mulai disarankan bermai di luar negeri. Bek Tottenham Hotspur, Eric Dier bahkan mendukung saran ini. “Semoga para pemain terus melanjutkan langkah Sancho. Bermain di luar negeri sangatlah penting. Bukan hanya sebagai pesepakbola tapi juga manusia,” kata Dier seperti dikutip FOTMOB.

Dier mengatakan bahwa ada di luar negeri seorang diri, keluar dari zona nyaman adalah salah satu hal yang akan membentuk sikap kita sebagai manusia. Argumen itu tidak salah bahkan bisa diamini. Apalagi keluar dari sosok yang hidup di Portugal dari usia muda dan butuh waktu lama agar bisa menjadi seperti sekarang. Sialnya, tidak semua pemain akan memiliki keberuntungan seperti Sancho.

Baca juga: Timnas Jerman: Korban Sindrom Wenger

“Bill Gates aja bisa sukses”

Foto: Daily Mail / EMPICS Sports Photo Agency

Asumsi Dier tak bisa disalahkan, namun apabila kesuksesan Sancho menjadi motivasi para pemain muda Inggris untuk keluar dan mencoba peruntungan di luar, itu bisa jadi sebuah malapetaka. Lihat Owen Hargreaves atau Dennis Law.

Law sebelumnya bermain bersama Manchester City, lalu Torino memboyongnya ke Italia. Sialnya, Law tidak bisa beradaptasi di Italia dan kembali ke Inggris. Setelah itu dirinya mulai menemukan performa terbaiknya bersama Manchester United. Banyak pemain Inggris yang bermai di luar negeri sebelum Sancho, tapi hanya sedikit yang bisa benar-benar memberikan dampak kepada klub mereka.

Menjadikan kesuksesan Sancho untuk main di luar negeri sama seperti mengatakan “Bill Gates dan Steve Jobs juga bisa sukses walaupun dropout.” Padahal Bill Gates sampai saat ini sangat peduli dengan edukasi masyarakat di Amerika Serikat bahkan jadi fokus utama yayasan yang ia bangun bersama istrinya. Gates juga kini sudah diberi gelar kehormatan oleh Harvard. Tidak semua bisa jadi Bill Gates walau sama-sama dikeluarkan oleh kampus.

Dalam kasus Sancho, dia lebih beruntung lagi. Keluar dari Manchester City adalah pilihan yang dia. Mendarat di Dortmund merupakan kunci suksesnya saat ini. Pasalnya, Dortmund memang dikenal sebagai klub yang peduli pada pemain muda dan punya sistem pemandu bakat kelas dunia.

Mereka adalah klub yang berani memecat Thomas Tuchel hanya karena berselisih dengan kepala pemandu bakat klub. Sekalipun kepala pemandu bakat itu kini juga sudah hengkang ke Arsenal. Namun dengan catatan impresif bersama Aubameyang, Dembele, Kagawa, dan lain-lain, Signal Iduna Park sudah target utama pemain-pemain muda.

Reiss Nelson mungkin juga bisa dikatakan sukses di TSG Hoffenheim. Tapi kita belum tahu apa yang akan terjadi pada dirinya musim depan saat Julian Nagelsmann hengkang ke RB Leipzig. Selain Sancho dan Nelson, sebenarnya ada dua pemain Inggris lain yang bermain di 1.Bundesliga. Mereka adalah Keanan Bennetts (Moenchengladbach) dan Chima Okoroji (Freiburg). Apa mereka seperti Sancho dan Nelson? Tidak.

Bagaimana dengan Ronaldo Vieira (Sampdoria) dan Sheyi Ojo (Reims)? Tidak. Padahal Vieira datang dari Leeds dengan rekomendasi tinggi. Tapi sejauh ini dia tak lebih dari alat marketing Sampdoria. Ojo yang memiliki latar pemain Liverpool, hanya pemain rotasi di Reims.

Foto: Sky Sports

Perlindungan FA

Minimnya pemain Inggris yang bisa bermain di luar negeri mungkin menjadi masalah yang berpengaruh ke tim nasional mereka. Buktinya dengan kesuksesan Sancho, Inggris dapat lolos ke babak semi-final UEFA Nations League.

Namun, FA juga tahu bahwa pemain muda di dalam negeri harus dilindungi. Ini mengapa mereka sampai berusaha meyakinkan Chelsea untuk memainkan Ruben Loftus-Cheek. Bulan lalu Daily Mail bahkan sempat melaporkan bahwa FA akan cari cara agar Loftus-Cheek dapat jam terbang setelah tidak digunakan oleh Sarri dan dilarang hengkang ke Crystal Palace.

Dua pekan kemudian, Loftus-Cheek mencatatkan hat-trick pertama dalam karirnya lawan BATE Borisov di Liga Europa. Ia juga dipanggil ke tim nasional Inggris meski baru main tiga kali di Liga Premier musim ini. Total enam pertandingan 314 menit sejauh musim ini telah bergulir. Tapi tetap dipanggil tim nasional. Hal yang sama bisa dilakukan FA ke pemain-pemain muda potensial lainnya yang ingin hengkang ke luar negeri. Apalagi jika calon klub mereka tidak menjamin jam terbang seperti nasib Ojo dan Vieira.

Foto: Libero.pe

Manchester City sebagai pelajaran

Bukan hanya FA, tapi klub juga pasti akan mulai berpikir dua kali untuk melepas pemain muda mereka setelah fenomena Sancho. Selama ini Inggris dikenal sebagai tanah bagi pemain asing mencari uang. Hingga talenta-talenta muda mereka tidak mendapatkan tempat. Dibuang ke Vitesse, Girona, atau Glasgow Celtic.

Tapi setelah keberhasilan Sancho bersama Dortmund. Ditambah penampilan Loftus-Cheek dan Phil Foden bersama klub masing-masing, klub pasti tidak mau dengan mudah melepas pemain mereka. Sekalipun sebagai pinjaman, jika setelah masa sekolah itu mereka tidak bisa menjamin tempat di tim utama, peluang untuk mereka pergi semakin besar.

Lihat saja bagaimana Manchester City sekarang sedang susah-payah mencoba untuk bawa Sancho pulang. Mereka tidak memiliki perjanjian klausul pembelian kembali dengan BVB. Pilihannya hanya membeli dengan harga mahal atau mengorbankan pemain yang sejenis dengan Sancho ke Dortmund. Hal seperti ini tentu tidak ingin dirasakan klub lain.

Belum lagi mengingat ancaman Brexit dan paspor Uni-Eropa. Sancho memang tengah bersinar dengan Dortmund. Dia juga pemain yang sudah digadang untuk jadi hebat sampai-sampai Pep Guardiola kecewa kehilangan sosok seperti dirinya. Sancho adalah pemain muda Inggris paling beruntung saat ini. Tidak semua bisa jadi Jadon Sancho!

Loading...