OUR NETWORK

Robbie Fowler dan Serangkaian Kepelikannya di Dunia Manajer

Mantan legenda sepakbola, Robbie Fowler, menceritakan serangkaian cerita tentang keinginannya untuk dianggap serius sebagai manajer, masa-masa pasca pensiun, dan begadang sampai dini hari hanya untuk bisa menonton Liverpool di TV. Dan tampaknya, rasa asam manis perjuangan menjadi seorang manajer benar-benar sedang ia alami dalam beberapa tahun terakhir ini.

Seperti yang diketahui, saat ini tampilan wajah putih kemerah-merahan khas Robbie Fowler berada di bawah sinar matahari pagi Australia. Mantan striker Liverpool itu berkarier sebagai pelatih kepala klub A-League, Brisbane Roar. Ia sangat sibuk untuk mengatur para pemain asuhannya dengan menjalankan latihan menggunakan cara yang menurut beberapa manajer dianggap sebagai hal yang tidak bermartabat.

Fowler mendapati situasi yang sangat berbeda sekarang. Ketika bola masih jatuh di kakinya, seperti yang dilakukannya saat berusia 18 tahun pada debutnya di Liverpool, Fowler masih bisa membuat sepakbola tampak mudah. Namun, selama masa pensiun, mata seorang striker untuk mencapai tujuan sama, tampak seperti tidak berguna sama sekali.

Hal inilah yang kemudian membuat Fowler mengetahui bahwa bakat mentah yang sama yang berhasil mendorong karier sepakbolanya, tidak bisa membantunya saat menjadi manajer. Di satu sisi, sebagian alasan lain yang menjelaskan mengapa karier manajernya sulit berkembang adalah karena ia menghabiskan satu dekade terakhir jauh dari pengawasan sepakbola papan atas Eropa.

“Saya selalu memikirkan kembali pada diri saya saat masih menjadi pemain, saya mungkin didorong masuk ke dalam sana, dan saya melakukannya dengan baik. Tapi sekarang, sebagai manajer saya tidak mendorong hal itu sama sekali. Saya mungkin merasa nyaman, saya merasa kompeten dan lebih dari sekedar dilengkapi di luar aspek itu,” jelas Fowler dikutip dari The Guardian.

Robbie Fowler menghabiskan dua musim bermain di Australia pada akhir karirnya, sebelum ia sempat memimpin tim asal Thailand Muangthong United pada 2012. Setelah itu, ia memutuskan untuk menempuh jalan yang sabar menuju karier kepelatihan, bahkan ketika orang-orang se-zamannya mulai menemukan diri mereka di dunia manajer dengan serangkaian pengalaman, Fowler justru lebih memilih mengejar ambisi daripada pengalaman.

“Seperti pemain lain, saya pun ingin menjadi yang terbaik sebisa saya dalam mencapai level apa pun yang bisa saya capai. Saya tidak akan pernah memulai karier di Premier League secara langsung, jadi bagi saya, hal ini adalah cara instan yang dimulai dari suatu tempat dengan ukuran level yang sudah baik. Sudah bertahun-tahun saya bekerja keras dalam hal pembinaan, dan itu semua bertujuan untuk mengejar ambisi saya sendiri,” tutur pria asal Inggris tersebut.

“Saya tahu saya ingin pergi melalui semua lencana pelatih saya, dan mencapai tingkat yang diperlukan karena saya ingin orang menganggap saya sebagai manajer yang serius. Ketika Anda berhenti bermain, Anda ingin langsung masuk ke bab selanjutnya dalam hidup Anda sesegera mungkin. Tentu saja, saya ingin melakukannya sedikit lebih awal, tetapi sekali lagi, saya hanya mau dengan cara saya sangat senangi.”

“Ketika Anda mengetahui bahwa orang-orang berpikir; ‘baik, mungkin dia agak serius’, maka Anda akan terpacu. Saya telah menjadi pemain yang sangat baik, tapi kadang-kadang saya tidak pernah bisa menang ketika saya masuk ke dunia manajer karena orang mungkin berharap sedikit lebih banyak dari saya.”

Keputusan Robbie Fowler untuk membuat langkah karier di Australia dan bukan di Inggris tentu saja tidak mencerminkan kurangnya ambisi. Hal ini sebenarnya merupakan sebuah langkah yang memiliki beberapa keunggulan berbeda. Klub asuhan Fowler saat ini, Brisbane, mereka tampil di luar kemampuan para pesaingnya dengan hanya mengirim rekor 71 gol, dan memenangkan empat pertandingan di musim lalu. Mereka finis di urutan kedua terbawah.

Robbie Fowler memiliki wewenang untuk membangun kembali klub asuhannya itu dari posisi bawah ke atas, dan ia telah mendatangkan sembilan pemain dari berbagai sisi di liga tingkat bawah Inggris. Skenario ini terasa seperti ujian kemampuannya sebagai manajer sepakbola, kendati memang dirinya berada tanpa pengawasan yang baik seperti yang banyak manajer alami di liga sepakbola elit Eropa (terutama di Inggris).

“Kadang-kadang Anda harus mengambil keputusan Anda sendiri, dan Anda bahkan tidak diwajibkan untuk membaca tentang apa pendapat mereka soal putusan Anda. Bagi saya memang sangat aneh. Tapi saya tidak berpikir kalau di sini tidak terdapat pengawasan seperti yang ada di Eropa. Saya adalah orang yang memiliki karir yang relatif baik sebagai pemain, sehingga orang akan selalu memiliki pendapat. Hal baik bagi saya datang ke sini adalah saya bisa mendapatkan portofolio sendiri tanpa campur tangan pihak lain.”

“Anda melihat Brisbane musim lalu, dan tanpa bersikap tidak hormat, mereka sudah berjuang dengan keras. Mereka memiliki tim yang menua yang membutuhkan perubahan, dan mereka butuh mental yang berbeda serta pola pikir yang berbeda. Sekarang, tim ini adalah tim baru, dan saya ingin memperbaikinya secara perlahan. Para pemain yang saya bawa, beberapa dari mereka ada yang dari liga-liga bawah Inggris, dan mereka sudah berlatih dengan sangat baik.”

Terlepas dari itu, ada harapan bahwa Robbie Fowler memiliki kesempatan besar untuk membuat karier manajernya berkembang dengan idealismenya. Seperti kata pribahasa, “berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian”, Fowler tampaknya punya cara sendiri dalam “merakit” karier manajernya di Australia.

“Saya ingin sukses dan melakukan apa yang saya bisa. Bagi saya tempat mana pun tidak masalah. Saya juga ingin para pemain asuhan saya menikmati apa yang saya nikmati. Kesenangan selalu hadir dari sesi pelatihan yang saya buat. Maka dari itu, saya selalu mencoba membuat mereka (para pemain) menikmati sepakbola. Saya juga mengajak mereka untuk begadang menonton Liverpool, tapi itu tidak berarti saya membiarkan mereka terhibur saja. Saya berharap mereka bisa bermain kompetitif selayaknya apa yang mereka tonton,” ungkap Fowler.

 

Sumber: The Guardian

Loading...