OUR NETWORK

Menunggu Sinar Diego Lainez di La Liga

Hampir satu tahun yang lalu, tepatnya 19 Juni 2018, Meksiko diguncang gempa bumi. Bukan bencana, tapi sebuah perayaan. Perayaan akan gol Hirving Lozano ke gawang Jerman. Selebrasi publik Meksiko yang menyaksikan pertandingan itu membuat alarm gempa bumi berbunyi.

Pemain yang biasa disapa Chucky itu pun menjadi buah bibir di dunia sepakbola. Jasanya diminati berbagai kesebelasan ternama dunia. Manchester United, Real Madrid, Chelsea, Barcelona, semua meminati jasa Lozano.

Namun, Chucky memilih bertahan di PSV Eindhoven. Kabarnya, tidak ada kesebelasan yang berani memenuhi permintaan PSV untuk Lozano. Lozano awalnya disebut memiliki harga 40 juta pauns. Tapi setelah penampilannya di Piala Dunia 2018, harganya naik jadi 60 juta pauns.

“Jika ada kesebelasan yang menginginkan Lozano, Manchester United misalnya, mereka harus siap merogoh kocek dalam-dalam,” buka ahli finansial sepakbola, Kieran Maguire.

“Lihat saja dari kasus James Rodriguez. Penampilan di Piala Dunia bisa menambah 10-15 juta pauns. Jadi mereka butuh 50-60 juta pauns untuk mendatangkan Lozano,” jelasnya.

Sudah hampir satu tahun berlalu, Lozano masih menjadi rebutan di bursa transfer. Tapi Meksiko sudah memiliki bintang baru: Diego Lainez.

Diperebutkan Ajax dan Lyon

Foto: Medio Tiempo

Berposisi sama dengan Lozano, Lainez disebut sebagai ‘Messi dari Meksiko’ oleh berbagai media. Sementara Dzevad Cota dari Football Bloody Hell menyebutnya sebagai ahli waris Joaquin Sanchez di Real Betis.

Diboyong dengan dana 14 juta euro dari Club America, Lainez sempat jadi pembelian termahal kedua dalam sejarah klub. Hanya kalah dari Denilson (31,5jt). Sejak saat itu Betis sudah dua kali membeli pemain yang lebih mahal dari Lainez. Tapi saat pertama datang, ia adalah remaja termahal yang pernah dilihat public Benito Villamarin.

Bahkan menurut Transfermarkt, Real Betis tak pernah mengeluarkan uang untuk seorang pemain remaja sebelumnya. Dani Ceballos, Álvaro Vadillo, Joaquin, semuanya berasal dari akademi. Hanya Lainez yang harus diimpor dari Meksiko.

Tapi saat itu, Los Verdiblancos memang harus berjudi. Talenta Lainez sudah masuk radar Olympique Lyon dan Ajax Amsterdam. Lyon disebut sebagai pelari terdepan. Sementara Ajax adalah kesebelasan impian Lainez.

“Pertama saya ingin memenangkan gelar juara terlebih dahulu bersama America. Setelah itu, impian saya berikutnya adalah bergabung dengan Ajax,” aku Lainez pada De Telegraaf.

Diragukan di Negeri Sendiri

Talenta Lainez sudah terdeteksi sejak masih duduk di sekolah dasar. Ia tampil di Danone Cup bersama Meksiko dan mendapat kesempatan masuk Pachuca.

Sayangnya, Claudio Aguilera yang menangani Pachuca melihat talenta Lainez kurang cocok untuk timnya. “Diego [Lainez] bukan gelandang yang bisa bermain di ruang sempit,” jelas Aguielera.

Aguilera pun lebih memilih kakaknya, Mauro Lainez untuk diberi tempat di akademi Pachuca. Sementara Diego pergi ke America. Kepala Pelatih America Miguel Herrera awalnya juga ragu melihat Lainez. Namun, seiring perjalanan waktu, Lainez berhasil memenangkan hati Herrera.

“Dia adalah pemain muda yang tahu cara memenangkan hati pelatihnya. Banyak pemain muda langsung merasa kurang percaya diri setelah dimarahi atau mendengar komentar negatif. Tapi Lainez menjadikan hal itu sebagai motivasi. Ia justru melihat pujian sebagai sebuah peringatan. Tak banyak pemain muda yang dewasa seperti dia,” aku Herrera.

Menunggu Pembuktian di Piala Dunia

Foto: Televisa

Pindah ke Real Betis, Lainez pun tidak mendapat banyak kesempatan. Hanya tampil 346 menit sejak didaratkan pada Januari 2019. Meski demikian, Lainez tetap tidak menyesal menolak Lyon dan Ajax untuk Los Verdiblancos. “Ini adalah keputusan terbaik bagi saya. Saya tidak tahu kapan bisa main. Biarlah tim pelatih yang menentukan kapan saya siap,” kata Lainez.

Kepala Pelatih Real Betis Quique Setién juga tidak mau memberikan tempat untuk Lainez. Tidak secara cuma-cuma, hanya karena dirinya dinilai memiliki potensi tinggi. Setien ingin melihat bukti terlebih dulu dari latihannya bersama Real Betis.

Tantangan itu pun diterima oleh Lainez. “Saya hanya menjalani hidup. Berlatih selama mungkin dan menikmati waktu bersama keluarga. Saya sangat jarang membaca berita atau menghabiskan waktu di sosial media,” kata Lainez.

Meski disebut ‘Messi dari Meksiko’ atau ‘talenta terbaik di La Liga’, Lainez tidak peduli.

Foto: Marca

Musim pertamanya di Eropa mungkin hanya menghasilkan satu gol. Tapi nama Lainez jelas patut untuk diingat. Lainez akan menghabiskan mayoritas masa istirahat liga membela tim nasional U20 Meksiko di Piala Dunia.

Ia adalah satu-satunya pemain Meksiko yang bermain di Eropa. Diandalkan Pelatih Diego Ramirez sebagai tulang punggung tim. “Jika Lainez bisa datang lebih awal, mungkin kami akan mendapatkan hasil yang lebih baik,” aku Ramirez setelah menelan kekalahan 1-2 dari Italia.

Lainez pun mengakui bahwa dirinya perlu waktu adaptasi. “Ya, mungkin jika saya datang lebih awal dan bergabung dengan tim bersamaan, akan lebih baik. Saya janji akan segera adaptasi,” katanya. “Kita pasti akan lolos dari grup,” janji Lainez.

Apabila Lainez bisa memenuhi ekspetasi di Polandia, bukan tidak mungkin dirinya akan kembali ke Benito Villamarin sebagai pilihan utama Quique Setien. Musim 2019/2020 pun akan menjadi panggung utamanya untuk membuktikan diri.

Loading...