OUR NETWORK

Membedah Perseteruan MK Dons dan AFC Wimbledon

Nama Wimbledon mungkin lebih terkenal mengadakan turnamen tenis kelas dunia, namun di sepakbola, Kota Wimbledon adalah kota dengan intrik sepakbola yang cukup rumit

Pernahkah Anda membayangkan salah satu klub lokal kesayangan Anda, tiba-tiba diakusisi kepemilikannya dan berpindah kandang? Itulah yang dirasakan kelompok suporter dari Wimbledon FC ketika klub kesayangan mereka pindah dari Wimbledon ke Milton Keynes. Bahkan, namanya pun ikut berubah jadi MK Dons.

Sejatinya, Wimbledon FC sudah berdiri sejak 1889 dan menjadi kebanggaan warga Wimbledon. Kekecewaan itu yang membuat suporter membuat kesebelasan baru bernama AFC Wimledon. Sejak itu, pertemua kedua kesebelasan selalu diwarnai gesekan antar dua suporter.

Awal mulanya Wimbledon FC yang berkandang di Plough Lane, sebuah stadion berkapasitas 15.000 penonton. Mereka bermain di non-league hingga 1977 sebelum naik ke Football League.

Bertepatan dengan musim pertama Wimbledon FC promosi ke Football League, perusahaan konstruksi dan pengembang, Milton Keynes Development Corporation (MKDC), mencari kesebelasan untuk jadi tim sepakbola di kota baru yang tengah mereka kembangkan. Chairman Wimbledon kala itu, Ron Noades, berencana memindahkan kandang mereka ke Milton Keynes. Namun, hal ini urung dilakukan karena banyaknya kecaman dari suporter pada 1979. Pihak MK sendiri kemudian menawarkan ke beberapa klub seperti Charlton Athletic dan Luton Town. Namun, keduanya juga menolak.

Wimbledon FC yang semakin berkembang dan bahkan menembus kompetisi tingkat tertinggi di Inggris pada akhir 1980-an. Hal ini membuat rencana untuk memajukan klub gencar dilakukan.

Pasca Tragedi Hillsborough pada 1989 dan investigasi yang dilakukan akibat kejadian tersebut, memunculkan Taylor Report yang disusun oleh Jaksa tertinggi di Britannia Raya pada tahun 1991. Laporan ini  memuat keputusan untuk merenovasi standar keamanan di stadion di seluruh Inggris dan Skotlandia.

Pough Lane, kandang Wimbledon, dianggap harus melakukan renovasi yang cukup besar. Ini membuat Wimbledon FC memilih pindah sementara ke Selhurst Park, berbagi kandang dengan Crystal Palace. Sam Hammam, Chairman Wimbledon FC, kemudian berinisiatif untuk mencari lahan dan membuat stadion baru di barat daya London.

Hasil pencarian memakan waktu cukup lama hingga membuat manajemen dan fans Wimbledon frustrasi. Fans semakin marah ketika Hammam mengutarakan pendapatnya untuk memindahkan kandang ke luar London. Tidak tanggung-tanggung, Hamman bahkan menunjuk Dublin, Ibukota Republik Irlandia, sebagai lokasi kandang baru. Puncaknya, Hammam kemudian menjual klub ke pebisnis Norwegia, Kjell Inge Røkke dan Bjørn Rune Gjelsten. Setahun kemudian kedua pemilik Wimbledon FC ini sepakat menjual Pough Lane pada tahun 1997.

Røkke dan Gjelsten kemudian menunjuk Charles Koppel sebagai chairman pada tahun 2000. Setahun setelahnya, Koppel menjelaskan adanya kemungkinan yang cukup besar bagi Wimbledon FC berpindah kandang ke Milton Keynes.

MKDC sendiri melalui Pete Winkleman memang sudah menawarkan beberapa klub untuk berpindah kandang ke Milton Keynes: Luton, Wimbledon, Barnet, Crystal Palace dan QPR. Namun, Wimbledon FC-lah yang memutuskan berpindah kandang ke Milton Keynes, sebuah kota baru di antara London dan Birmingham.

Penggemar Wimbledon jelas merespons keras akan keputusan ini. Sebagian besar dari mereka menolak menjual klub dan berpindah kandang. Koppel sendiri berdalih bahwa keputusan berpindah kandang adalah bagian dari rencana klub untuk menghindari kebangkrutan. FA secara khusus membuat lembaga independen untuk mencari solusi terbaik untuk Wimbledon FC. Setelah penyelidikan intensif selama berbulan-bulan, hingga pada bulan mei 2002, FA melegalkan Wimbledon FC untuk berpindah ke Milton Keynes.

Di sisi lain, Milton Keynes belum memiliki stadion untuk klub profesional di Inggris. Winkleman selaku pemilik konsorsium terbesar di Milton Keynes, kemudian menyulap stadion National Hockey Ice Stadium, menjadi stadion sepakbola dengan kapasitas 9.000 penonton bagi Wimbledon FC pada September 2003 dan menggelar pertandingan pertama mereka.

Setahun setelahnya, pada tahun 2004, MK Dons kemudian diresmikan dan mengakusisi secara administratif dan sejarah dari Wimbledon FC. MK Dons kemudian memunculkan kandang baru mereka di bagian barat Milton Keynes dengan nama Stadium MK pada tahun 2007, dengan kapasitas 30.500 penonton.

Kekecewaaan suporter Wimbledon yang diwakili Kris Stewart melahirkan sebuah klub baru bernama AFC Wimbledon. Setelah disetujui oleh FA untuk berkompetisi, mereka bermarkas di Kingsmeadow, 8 kilometer dari Wimbledon. Luar biasanya, pasca didirikan pada 2004, klub ini sukses meraih 6 kali promosi selama 13 tahun. Mereka kini berkompetisi di League One bersama dengan MK Dons.

Tahun 2017 lalu, AFC Wimbledon mendapatkan keputusan yang menggembirakan. Pough Lane yang dijual dan diruntuhkan untuk dijadikan supermarket dan permukiman, diizinkan untuk dialih fungsikan kembali menjadi stadion oleh dewan perkotaan. Namun, seiring dengan pembangunan stadion, pihak klub juga diwajibkan membangun perumahan sebagai bagian dari kesepakatan. Stadion ini direncanakan akan berkapasitas hingga 11.000 penonton dan bisa berkembang hingga memuat 40.000 penonton.

MK Dons dan AFC Wimbledon sendiri telah bertemu sebanyak 7 kali di berbagai level kompetisi. MK Dons lebih unggul dengan mencatatkan 4 kemenangan berbanding dua kekalahan dari AFC Wimbledon.

Rasa kesal suporter Wimbledon masih terasa dalam pertemuan kedua klub pada 22 September 2017 silam. Di papan skor, hanya tertulis “AFC Wimbledon vs MK” tanpa adanya “Dons”. Ini merupakan wujud protes dari AFC Wimbledon karena mereka merasa MK Dons tidak pantas menggunakan unur “Dons” yang merupakan bagian dari sejarah klub kebanggan mereka. MK Dons memutuskan membawa kasus ini ke FA, karena AFC Wimbledon dianggap “tidak menghargai kekayaan intelektual” dari MK Dons.

Bagaimana perseteruan ini akan kembali berlanjut?

Editor: Frasetya Vady Aditya
Loading...