Piala Dunia 2010: Cerita Miris Prancis, Mimpi Aneh Maradona, dan Puncak Kesuksesan Spanyol

Pada 2004, FIFA kembali membuat terobosan terkait penyelenggaraan Piala Dunia. Sepp Blatter menyebut kalau Piala Dunia edisi 2010 akan diselenggarakan di Benua Afrika. Inilah kali pertama ajang empat tahunan tersebut digelar di Benua Hitam tersebut.

Setelah proses pemilihan, terpilihlah Afrika Selatan sebagai tuan rumah. Mereka mengalahkan Mesir dan Maroko yang sama-sama mengincar status tuan rumah. Negeri Nelson Mandela tersebut menyelenggarakan putaran final di 10 stadion dengan tiga stadion merupakan stadion baru dan tujuh di antaranya adalah hasil renovasi.

Di edisi kali ini, banyak negara yang kembali merasakan Piala Dunia setelah absen cukup panjang. Tercatat ada Yunani (terakhir bermain pada 1994), Aljazair (1986), Selandia Baru (1982), Korea Utara (1966), dan Honduras (1982). Sementara satu-satunya debutan yang bermain pada Piala Dunia 2010 adalah Slovakia. Yang menarik, semifinalis Euro dua tahun sebelumnya yaitu Rusia dan Turki sama-sama gagal melangkah ke putaran final.

Tersingkirnya Tuan Rumah dan Juara Bertahan

Sejak 1930, negara-negara tuan rumah selalu berhasil melangkah minimal lolos dari babak grup. Akan tetapi, tradisi tersebut patah pada edisi kali ini ketika Afrika Selatan (Afsel) gagal lolos dari Grup A. Tergabung dengan Meksiko, Uruguay dan Prancis, Bafana-bafana hanya sanggup berada di urutan ketiga.

Pada pertandingan pertama, Afsel sebenarnya bermain baik. Di Soccer City mereka mampu menahan Meksiko 1-1. Namun pada pertandingan kedua mereka justru takluk 0-3 dari Uruguay. Skuat asuhan Carlos Alberto Perreira tersebut masih berpeluang untuk lolos. Caranya adalah mengalahkan Prancis dengan skor yang besar sembari berharap Meksiko kalah dari Uruguay. Akan tetapi di stadion Free State Afsel hanya menang tipis 2-1 dan gagal melangkah ke 16 besar.

Selain Afsel, hal yang tidak kalah memalukan dicatat oleh Italia. Datang dengan status juara bertahan, mereka juga gagal melangkah dari fase grup. Berada di Grup F bersama Slovakia, Paraguay, dan Selandia Baru, Italia tidak bisa meraih satu kemenangan pun. Bermain imbang 1-1 dengan Paraguay, skor sama kembali terulang ketika melawan Selandia Baru.

Italia hanya butuh menang melawan Slovakia apabila ingin lolos. Akan tetapi, mereka sudah tertinggal 2-0 dengan sisa waktu 15 menit. Sempat memperkecil melalu Antonio Di Natale, mereka kembali tertinggal melalui gol Kamil Kopunek. Gol Fabio Quagliarela tidak cukup untuk memberikan hasil positif untuk Italia. Inilah kali pertama bagi Italia tidak bisa meraih satu kemenangan pun dalam ajang empat tahunan tersebut.

Cerita Miris Prancis

Hasil buruk tidak hanya mendera Italia sebagai juara bertahan, sang runner up Prancis juga mendapat hasil yang tidak kalah buruk. Mereka hanya sanggup meraih satu poin dan pulang ke negaranya dengan cerita-cerita yang kurang mengenakkan.

Sejak kualifikasi, Prancis sudah menyita perhatian. Mereka lolos dengan cara yang kontroversial ketika tangan Thierry Henry membantu Si Biru menyingkirkan Republik Irlandia. Kejadian ini disebut-sebut sempat membuat FIFA berpikir untuk memasukkan Irlandia sebagai peserta ke-33 sebagai hadiah atas kontroversi yang terjadi.

Cerita miris lainnya muncul dari dalam tim yang diasuh Raymond Domenech tersebut. Nicolas Anelka diusir dari skuat karena menghina Domenech. Mantan penyerang Arsenal tersebut justru tidak ingin meminta maaf dan menganggap kalau berita tersebut bohong dan hanya alasan Domenech yang sejak Euro 2008 sudah tidak disukai oleh para suporter.

Pengusiran Anelka juga memancing reaksi dari rekan setimnya. Diinisiasi oleh Patrice Evra, mereka menolak untuk berlatih jika Anelka tidak diperbolehkan kembali bergabung bersama mereka. Hal ini yang membuat persiapan mereka melawan Afsel menjadi tidak optimal. Terbukti, Ayam Jantan terkulai lemas pada pertandingan terakhirnya.

Keputusan Aneh ala Maradona

Pada 19 November 2008, induk sepakbola Argentina (AFA) mengumumkan Diego Maradona sebagai pelatih anyar timnas Argentina. Keputusan ini terbilang mengejutkan mengingat Maradona tidak punya prestasi yang oke ketika menjadi pelatih. Benar saja, di babak kualifikasi Argentina tidak terlalu konsisten. Bolivia bahkan bisa menghajar mereka 6-1. Akan tetapi, kritikan tersebut berhasil dijawab dengan membawa mereka melaju ke putaran final.

Selain tidak dibekali kemampuan taktik yang memadai, Maradona juga dicibir akan keputusan-keputusan anehnya. Jelang Piala Dunia dimulai, ia tidak membawa Esteban Cambiasso dan Javier Zanetti yang merupakan pahlawan Inter Milan sepanjang musim 2009/2010. Sebaliknya, ia memanggil Juan Veron dan Martin Palermo yang usianya ketika itu sudah 36 tahun. Tidak hanya itu, Diego Milito yang merupakan striker Argentina tersukses pada musim tersebut jarang mendapat kepercayaan dari pemilik gol Tangan Tuhan tersebut.

Keputusan paling eksentrik dari Maradona adalah ketika ia memanggil bek dari Colon, Ariel Garce. Pemanggilan Garce tidak didasarkan penampilannya di Colon. Konon Maradona memanggil Garce hanya dikarenakan ia bermimpi si pemain akan membantunya membawa Argentina menjadi juara dunia. Nyatanya, sepanjang turnamen Garce tidak pernah sekalipun turun bermain.

Puncak Kesuksesan Spanyol

Sebelum 2010, Spanyol seringkali tampil mengecewakan pada ajang Piala Dunia. Tak jarang mereka tersingkir di fase grup. Akan tetapi di Afrika Selatan, mereka berhasil memutus kutukan tersebut.

Berbekal juara Euro 2008, Spanyol berhasil mengukuhkan dominasi mereka di persepakbolaan dunia dengan menjadi juara di Johannesburg. Akan tetapi, perjalanan mereka menuju tangga juara tidaklah mudah.

Mereka sempat takluk dari Swiss pada partai pertama. Vicente Del Boque mendapat kritik keras saat itu terutama dari Luis Aragones, pelatih mereka sebelumnya. Akan tetapi, sejak saat itu penampilan mereka membaik. Cile, Honduras, Portugal, Paraguay, Jerman dan Belanda berhasil mereka kalahkan. Yang menarik, Spanyol selalu mengakhiri laga dengan skor tipis. Hanya melawan Honduras saja mereka meraih kemenangan lebih dari selisih satu gol.

Resep keberhasilan mereka tentu saja taktik possession football yang sudah diusung setelah kegagalan mereka di Piala Dunia 2006. Spanyol akan menguasai bola dengan melakukan permainan cepat melalui umpan-umpan pendek meski belum bisa menembus pertahanan lawan. Ketika memasuki babak kedua, barulah Spanyol meningkatkan tempo serangan mereka. Hal ini terlihat dari catatan gol mereka yang selalu dibuat pada babak kedua sejak perdelapan final.

***

Selain momen-momen diatas masih ada momen lain yang menghiasi Piala Dunia 2010. Sebut saja handball Luis Suarez di garis gawang, insiden gol Lampard yang menghadirkan revolusi berupa Goal line technology serta kehadiran sosok Paul, seekor gurita yang pandai menebak hasil Piala Dunia.