Di Piala Dunia 2006, Prancis berhasil melaju hingga final. Namun, mereka dikalahkan Italia di babak adu penalti. Tentu, Prancis ingin menjadi lebih baik di Piala Dunia selanjutnya. Akan tetapi, semuanya kini sudah berbeda.

Ekspektasi pada Prancis jelas begitu tinggi. Apalagi mereka menjadi juara pada Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Prancis juga mencapai final di 2006. Namun, yang tidak diperhitungkan adalah kiprah mereka pada Piala Eropa 2008 yang menurut Florent Malouda, bagai sebuah bencana.

Kegagalan di Piala Eropa 2008 itu sangatlah mengganggu. Situasi di skuad Prancis tidak baik. Maklum, finalis Piala Dunia 2006 itu justru mendekam sebagai juru kunci dengan hanya meraih satu poin di Euro 2008. Sejumlah pihak saling menyalahkan soal kegagalan di Euro tersebut. Sialnya, Piala Dunia semakin dekat sementara Prancis masih punya banyak masalah yang belum terselesaikan.

Prancis Tidak Punya Pemimpin

Malouda memberi contoh pada Piala Dunia 2006. Skuad Prancis tengah mengalami kekacauan. Untungnya, Zinedine Zidane dan Lilian Thuram memilih kembali dari masa pensiun mereka. Lalu, keduanya mengemban segala masalah timnas Prancis tersebut.

“Mereka adalah pemimpin yang sebenarnya, dan kami hanya perlu mengikutinya. Saat Zidane tiba, itu adalah atmosfer yang aneh seperti Tuhan turun ke bumi. Saat dia kembali, kepercayaan diri berbalik dan kami merasa seperti kami yang terbaik di dunia,” kata Malouda.

Sayangnya hal serupa tak terjadi untuk generasi 2010. Di skuad Prancis saat itu, tak ada yang mampu bersuara. Padahal, ia berharap pada Patrick Vieira dan Claude Makelele. Sayangnya, kedua pemain tersebut tak masuk dalam skuad.

Atmosfer yang Buruk

Di Piala Dunia 2010, publik Prancis juga sadar dengan kondisi buruk dalam skuad timnas mereka. Apalagi, sebelumnya Prancis ke Piala Dunia lewat proses “curang” ketika Thierry Henry menahan bola dengan tangannya dalam laga play-off melawan Irlandia. Sebanyak 60 persen pembaca¬†L’Equipe, percaya kalau Uruguay, Meksiko, dan Afrika Selatan, punya peluang lolos lebih besar ketimbang Prancis dari fase grup.

Permasalahan Prancis sudah dimulai sejak di kamp pelatihan yang digelar di sebuah resort Ski di wilayah Tignes. Area ini dipilih sebagai bentuk aklimatisasi agar para pemain bisa cepat beradaptasi dengan kota penyelenggara Piala Dunia yang ada di dataran tinggi.

Namun, kamp pelatihan ini justru menjadi bumerang. Lassana Diarra menderita sakit usus dan keram perut karena efek ketinggina tersebut. Pun dengan WIlliam Gallas dan Nicolas Anelka yang terjatuh dari sepeda dan motor roda empat.

Karena banyak pandangan negatif dari para penggemar, mereka pun pindah di sebuah kompleks mewah dengan keamanan tinggi di Samudera Hindia. Namun, para pemain mulai berkelahi satu sama lain. Salah satunya cerita Yoann Gourcuff yang dimusuhi para pemain yang lebih senior. Bahkan, di laga melawan Uruguay, konon Anelka dan Franck Ribery menolak mengumpan pada Gourcuff!

Mantan Kapten Prancis, Zinedine Zidane, mengkritik Domenech. Ia bilang kalau mantan pelatihnya itu bukanlah seorang pelatih. Soalnya, ia sudah tak mampu mengendalikan skuadnya sendiri.

Zidane merasa tidak ada kerja sama di sana. Para pemain seperti tak main bersama-sama, tapi lebih ke kemampuan individu.

“Dia bukan pelatih, dia adalah pemilih. Dia memilih skuadnya dan membuat mereka bermain bersama-sama,” terang Zidane.

Puncaknya di laga melawan Meksiko. Posisi Gourcuff digantikan oleh Florent Malouda dan Domenech mengubah enam pemain di laga itu. Prancis kalah 0-2 dengan performa mengerikan. Anelka digantikan setelah terlibat perselisihan dengan Domenech dan dikeluarkan dari skuad.

Pemain Tak Mau Berlatih

Prancis akan menghadapi Afrika Selatan di pertandingan terakhir. Mereka pun melakukan latihan terbuka yang dihadiri wartawan serta masyarakat. Awalnya, ke-21 pemain berlari mengelilingi lapangan, sementara Domenech berbicara dengan staf kepelatihannya.

Patrice Evra kemudian terlibat adu mulut dengan pelatih kebugaran, Robert Duverne. Domenech pun melerai mereka. Para pemain lalu enggan melanjutkan sesi latihan. Mereka menuju ke bus dan menutup gorden jendela mereka.

Domenech kemudian hadir dengan membawa kertas. Isinya adalah pernyataan para pemain yang tak setuju dengan pengusiran Anelka tanpa bicara dulu pada mereka.

Pemberontakan ini membuat Federasi Sepakbola Prancis (FFP) bersuara. Mereka menyesalkan aksi para pemainnya tersebut. Presiden FFP, Jean-Pierre Escalettes, menjanjikan akan mengevaluasi kinerja Prancis yang memalukan di Piala Dunia 2010 tersebut.

Sementara itu, sejumlah pemain seperti Patrice Evra meminta maaf dengan apa yang terjadi. Namun, dalam kekecewaannya tersebut tersirat kalau Evra tak senang dengan Domenech yang tak membiarkannya memimpin rekan-rekan setimnya saat ada masalah.

Pun dengan Malouda, “Perilaku kami tidak patut dicontoh. Aku ingin meminta maaf kepada para penggemar atas nama para pemain.”

Kontrak Domenech diputus oleh FFP yang presidennya sudah berganti menjadi Noel Le Graet. Ia mendapatkan 975 ribu euro atas kompensasi kontraknya tersebut.

Sementara itu Anelka mendapatkan hukuman larangan bertanding di 18 laga timnas Prancis. Hukuman ini cuma membuat Anelka tertawa karena toh ia sudah pensiun dari pertandingan internasional.

Nasib timnas Prancis untungnya diselamatkan dengan hadirnya generasi-generasi baru yang kemudian membawa mereka menjuarai Piala Dunia 2018.