Sepakbola yang Mengubah Hidup Zlatan Ibrahimovic

You can’t do something brilliant unless you dare to be brilliant. Ibrahimovic is a perfect definition of a guy who always dares to be brilliant.”

— Sigi Schmid, pelatih LA Galaxy pada 2018 (Los Angeles Times, 2018)

4 Juni 2023, Zlatan Ibrahimovic resmi gantung sepatu. Dia mengumumkan pengunduran dirinya dari lapangan hijau setelah laga terakhir Serie A Italia 2022/2023, ketika AC Milan menjamu Hellas Verona di San Siro. Karier profesionalnya selama 24 tahun yang sangat luar biasa pun berakhir sudah, setelah petualangan bersama sembilan klub dari Eropa hingga ke Amerika yang menghasilkan 34 trofi juara.

***

Hampir 42 tahun yang lalu, pada 3 Oktober 1981, lahir seorang bayi di Malmo, wilayah selatan Swedia dari pasangan berdarah Yugoslavia. Dia diberi nama Zlatan oleh ayahnya, Sefik Ibrahimovic, seorang muslim Bosnia. Sama seperti sang ayah, ibunya juga seorang imigran, bernama Jurka Gravic, seorang Katolik dari etnik Kroasia. Mereka pindah ke Swedia pada 1977, tempat di mana keduanya bertemu.

Zlatan tak terlahir begitu saja seperti dikenal selama dua dekade terakhir ini; tinggi, kuat, dan sangat percaya diri sebagai seorang pencetak gol. Dulu dia hanya seorang anak laki-laki kurus dan canggung, punya hidung besar, dan berbicara dengan cadel. Tumbuh dalam kemiskinan, dia menjadi satu dari lima anak yang tinggal di proyek perumahan berbahaya di pusat kota ketiga terbesar di Swedia itu.

Ibunya seorang pembantu, dan ayahnya bekerja sebagai satpam, bercerai sebelum dia genap dua tahun. Akibatnya Zlatan dan saudaranya sering pindah di antara apartemen kecil orang tua mereka, jarang menghabiskan lebih satu tahun di satu tempat. Kehidupan keras itu membuatnya tumbuh jadi pencuri berbakat. Hingga sang ibu mengirimnya tinggal bersama ayahnya pada usia sembilan tahun.

Tapi, perang saudara di Bosnia telah membuat ayahnya lebih banyak menyendiri, ditemani alkohol. Kulkas seringkali hanya berisi bir, dan membiarkan anak-anak, termasuk Zlatan mengurus diri mereka sendiri.

“Ayah tidak pernah ada di sana,” kata Zlatan dalam biografinya, I Am Zlatan. “Saya menjaga diri saya sendiri. Ini mungkin memang menyakitkan. Saya tidak bisa mengatakannya,” sambungnya.

***

Jika tidak menemukan sepakbola, katanya lagi, dia mungkin akan berakhir di penjara. Di suatu sore, Zlatan bermain bola dan melepaskan tembakan jarak jauh hingga mengenai kepala guru yang telah membuatnya kesal. Tapi, momen itu malah memberinya sebuah pelajaran; dunia bisa jadi tempat yang dingin dan kejam, tetapi dengan bola di kakinya, dia bisa mengubah dunia sesuai keinginannya.

Apa yang benar-benar didambakan Zlatan, bagaimanapun, adalah pengakuan dan rasa hormat yang ditemukannya di lapangan berdebu dari proyek Rosengard yang terkenal di mana dia dibesarkan.

“Saya ingin berdiri di hadapan seluruh dunia dan menunjukkan kepada semua orang yang meragukan siapa saya sebenarnya,” ucapnya. “Saya tak bisa membayangkan siapa pun yang bisa menghentikan.”

Lapangan sepakbola pun menjadi tempat pembuktian bagi Zlatan. Dia bermain dengan gaya dan gol; begitulah caranya mencuri perhatian. Bintang Brasil masa itu, Ronaldo menjadi idola yang ditirunya, selalu dibayangkannya sebelum tidur dengan bola terselip di samping bantal. Kecakapan memainkan pertunjukan itu pun menentukan kariernya, hingga benar-benar tak ada yang bisa menghentikannya.

Bahkan, saat pelatih memulangkannya lebih dari sekali karena orang tua rekan-rekannya menuntut untuk mengeluarkannya dari klub, itu tetap tak berhasil; Zlatan terlalu bagus. Dan, itu pun kemudian mengarah ke sikap yang mengikuti sepanjang kariernya; setiap kali kemampuannya dipertanyakan, dia akan menjawab dengan bualan berlebihan, lalu turun ke lapangan dan memberikan pembuktian.

***

“Saya selalu berusaha memainkannya dengan sombong seperti itu,” ungkap Zlatan lagi. “Itu adalah sesuatu yang telah melekat pada saya sejak masih kecil. Anda tidak bisa menunjukkan kelemahan apa pun.”

Keberanian dan sensasi memang telah menjadi bagian dari dirinya. Itu merupakan merek nama depannya, bahkan sampai dia pernah berulang kali membandingkan dirinya dengan Tuhan.

Tidak heran jika Zlatan seringkali dikritik sebagai “sombong” dan keras kepala. Ketika biografinya diterbitkan pada 2015, isinya pun menimbulkan banyak kontroversi. Namun, itu tidak mengecilkan pengakuan atas kemampuannya, bahwa Zlatan merupakan salah satu dari sedikit pesepakbola aktif yang memiliki patung untuk menghormatinya, di Malmo; meski mungkin selama ini sering dirusak.

Begitulah Zlatan dikenal dengan kepribadiannya yang kurang ajar dan komentarnya yang blak-blakan. Fans lawan yang menyorakinya saat muncul di lapangan setelah pertandingan terakhir Serie A pekan lalu tentu telah merasakan sendiri.

“Teruslah mencemooh. Ini momen terbesar dalam tahun kalian untuk melihat saya,” kata Zlatan membalas dengan “kejam” dalam pidato perpisahannya malam itu.

Sumber: La Times, Football Makes History, Wikipedia, Talksport