Serge Gnabry, Arsenal Batu Loncatan Menuju Bayern Munich

Serge Gnabry dianggap sebagai salah satu pemain muda terbaik saat ini. Penampilan bagusnya bersama Bayern Munich, membuat orang-orang lupa kalau dulu, masa depannya pernah hampir tak pernah ada.

Gnabry lahir di Stuttgart, 14 Juli 1995. Mimpinya adalah bermain untuk tim terbesar di Jerman, Bayern Munich. Namun, ayahnya, Jean-Hermann, melarangnya, meski jarah Munich dengan Stuttgart hanya dua jam berkendara.

Gnabry pun bergabung dengan Akademi Stuttgart pada usia 12 tahun. Selama empat tahun berlatih, bakatnya tercium klub besar London, Arsenal. Saat usianya 16 tahun, ia pun bergabung dengan Arsenal di Premier League, dengan biaya transfer 100 ribu paun.

Di London, Gnabry ditemani serta diantar ke tempat latihan oleh ayahnya yang selalu memberinya nasihat. Tinggal di London ternyata tak semudah yang ia bayangkan.

“Aku mengalami masa-masa yang sulit. Sepakbola Inggris lebih keras ketimbang di Jerman dulu, jadi Anda juga mesti berhadaptasi soal itu. Aku pikir semua orang yang menjalani skenario yang mirip, mengalami hal yang sama, tapi pada akhirnya itu tetaplah sebuah pengalaman yang membuatmu  tumbuh,” ucap Gnabry.

Untungnya, Gnabry dibantu oleh pangeran lini tengah timnas Jerman, Mesut Ozil, serta Per Mertesacker. Ozil sendiri merupakan sosol yang diidolai Gnabry. Sehingga ia memberinya rasa nyaman selama di London. Sementara itu, Mertesacker selalu memandunya dan memberinya pelajaran untuk bertanggung jawab.

Tak perlu waktu lama bagi Gnabry untuk memukau Arsene Wenger. Kecepatannya membuatnya diberikan debut pada usia 17 tahun. Ia cepat juga agresif. Cocok dengan gaya bermain Arsenal.

Sayangnya, permainan bagus Gnabry diganggu oleh cedera lutut. Ketidaksiapan fisik serta menit bermain di tim utama, membuatnya dipinjamkan ke West Bromwich Albion. Sialnya, ia cuma bermain sekali. Manajer West Brom, Tony Pulis, menyebutnya belum siap buat berkompetisi di tingkat tertinggi.

Kecewa dengan peminjamannya di West Brom, Gnabry memutuskan pulang ke Jerman. Padahal, Wenger tak ingin dia pergi. Manajer berkebangsaan Prancis tersebut masih percaya kalau Gnabry bisa membangun ulang rasa percaya dirinya. Tapi, tekad Gnabry sudah bulat.

Pada 31 Agustus 2016, Gnabry direkrut Werder Bremen dengan biaya transfer 5 juta paun. Gnabry sejatinya dirumorkan pindah ke Bayern Munich, tapi berdasarkan saran dari Mertesacker dan Ozil, Gnabry akhirnya memilih Bremen. Lagipula, baik Ozil dan Mertesacker juga pernah bermain di Bremen.

“Aku tahu kalau aku harus bermain lagi di level tertinggi, dan aku pikir Jerman dalam beberapa tahun terakhir sejak aku pindah, telah berkembang banyak. Jadi aku pikir: Oke, ambil peluang itu, biarkan aku pulang’. Aku tak akan bermain di banyak pertandingan bersama Arsenal musim depannya. Itu adalah faktor utamanya,” terang Gnabry.

Di Bremen, Gnabry tak menyia-nyiakan peluangnya. Setelah sesi latihan usai, Gnabry langsung mengambil sesi latihan tambahan dengan melatih kaki lemahnya, kaki kiri. Pada musim pertamanya di Bremen, Gnabry mencetak 11 gol di Bundesliga. Bagusnya permainan Gnabry, membuat Bayern tak sabar. Mereka menebusnya senilai 6,6 juta paun, untuk kembali dipinjamkan ke Hoffenheim.

Di Hoffenheim, Gnabry tak mengecewakan. Dari 22 pertandingan, ia mencetak 10 gol. Cukup banyak buat pemain pinjaman. Kunci rahasia Gnabry adalah berlatih di luar zona nyaman dan mengembangkan mental kemenangan. Hal ini ia dapatkan ketika berlatih bersama timnas, dan ia mengamati bagaimana Franck Ribery serta Arjen Robben berlatih.

Mentalitas kemenangan ini pada akhirnya yang membentuknya menjadi kebiasaan. Ketika mencetak gol, Gnabry semakin terpacu untuk lebih. Untuk itu ia berlatih keras di tempat latihan agar bisa terjadi di pertandingan aslinya.

Kini, Gnabry sudah resmi menjadi pemain tim utama Bayern Munich, satu hal yang sebenarnya bisa lebih cepat andai 14 tahun lalu ia bergabung dengan akademi mereka. Namun, kunci lain agar segalanya berjalan tetap di relnya adalah tetap membumi.

Dulu, Gnabry belajar tentang bagaimana berproses. Ia menjadikan Robben, Ribery, Mertesacker, dan Ozil, sebagai panduannya. Kini, ia justru menjadi panutan dari anak-anak lain yang mengidolainya.

“Saya katakan untuk tidak pernah kehilangan kesenangan bermain sepakbola karena itulah yang membawa seseorang, tidak hanya dalam sepakbola tetapi juga dalam olahraga lain, pekerjaan lain yang membuat orang bersemangat.”

“Setiap orang memiliki bakat, tetapi semakin dini Anda menganggapnya serius, semakin baik hasilnya akan datang. Aku sudah mengalaminya sekarang.”

***

Pada 25 Februari 2020, Gnabry kembali ke London. Ia berhasil mencetak dua gol dalam kemenangan 3-0 Bayern Munich atas Chelsea di Stamford Bridge. Saat ditanya kesannya kembali ke London, Gnabry mengaku bersemangat, sekaligus gelisah.

Untungnya, efek kultural benar-benar membantunya. Apalagi ia juga datang dengan kondisi lebih dewasa ketimbang saat pertama kali datang ke London.

“Sebagai anak usia 16 tahun, meninggalkan orang tua, meninggalkan lingkungan dan sekitar, itu membuatmu tumbuh sedikit lebih cepat,” kata Gnabry, secepat golnya yang kedua yang hanya berjarak tiga menit.

Sumber: BBC Sports