OUR NETWORK

Terima Kasih, Olivier Giroud!

Prancis menjadi Juara Piala Dunia untuk kedua kalinya setelah menumbangkan Kroasia dengan skor 4-2. Sebagai Negara unggulan, tentu Prancis diperkuat sejumlah bintang dilapangan. Segala pujian pun hadir kepada seluruh pemain Tim Nasional Prancis, kecuali Giroud yang menerima banyak kritikan karena dianggap majal di Piala Dunia.

Kesuksesan Prancis di Piala Dunia kali ini jelas bukanlah kejutan. Sejak awal turnamen, Prancis memang salah satu negara yang dijagokan untuk meraih gelar juara. Sejak gagal menjadi juara di Piala Eropa 2016 lalu, Prancis tidak mengubah komposisi inti dalam skuat mereka untuk gelaran Piala Dunia kali ini. Antoine Griezmann, Paul Pogba, Raphael Varane dan sang Kapten, Hugo Lloris, masih dipertahankan sebagai komposisi inti.

Dengan komposisi inti yang begitu mewah, masih ada bakat mentah yang masih bisa berkembang seperti Lucas Hernandez, Benjamin Pavard, Presnel Kimpimbe, Ousmane Dembele dan tentu saja pemain muda termahal dunia, Kylian Mbappe.

Semua pemain Prancis sukses mencuri perhatian lewat performa mereka di lapangan. Griezmann, Pogba, Varane, Mbappe, Pavard hingga Matuidi, mendapatkan nilai positif sebagai pemain kunci Les Blues di Piala Dunia kali ini. Dan tentu saja pujian tersebut layak diberikan karena performa mereka dilapangan berbanding lurus dengan pujian tersebut.

Namun semua pujian tersebut tidak berlaku kepada striker tunggal mereka Olivier Giroud. Semua orang mengernyitkan dahi melihat betapa awetnya Giroud di lini depan Prancis. Sejak pertandingan pertama, Giroud selalu menjadi pilihan utama. Dan selama gelaran Piala Dunia kali ini Giroud tidak satu kalipun mencetak gol, hanya menciptakan satu asis yakni ketika menghadapi Argentina di babak 16 besar.

Lalu bagaimana mungkin Giroud selalu dijadikan pilihan utama Deschamps di Piala Dunia kali ini apabila tugas utama sebagai juru gedor tidak dilaksanakan Giroud dengan baik?

Memahami peran Giroud

Michael Cox menjelaskan di ESPN, bahwa seperti Jerman dan Spanyol di dua edisi Piala Dunia sebelumnya, keberhasilan Prancis tak lepas dari akademi di Prancis dalam menghasilkan pemain bertalenta. Bedanya, Jerman dan Spanyol berhenti memproduksi pemain dengan tipikal striker tradisional. Di sisi lain, Prancis justru punya Giroud yang memang tugasnya mencetak gol.

Bandingkan dengan Jerman di 2014 lalu masih mengandalkan Miroslav Klose yang sudah berusia 36 tahun saat itu. Spanyol pun demikian di Piala Dunia 2010 saat mereka kesulitan mencetak gol sebelum Fernando Torres dimasukkan pada menit ke-106. Ini membuat pertahanan Belanda kelimpungan dan membiarkan Iniesta menjebol gawang mereka.

Lalu apa pentingnya striker tradisional dalam sebuah tim?

Arsene Wenger pernah menjelaskan pada 2014 lalu, betapa krusialnya peran striker tradisional dan mengkritisi akademi yang agak kesulitan memproduksi striker tradisional ini.

“Pada era 60 atau 70-an, bahkan ketika kedatangan saya di Arsenal pada 1996, setiap klub di Inggris masih memiliki penyerang yang benar-benar tajam, mampu memafaatkan umpan silang dengan baik, jago di duel-duel udara. Kini semua mengandalkan kecepatan, bahkan Jerman masih mengandalkan Klose yang sudah berusia 36 tahun!” ujar Wenger di ESPN.

Kehadiran Giroud di lini depan Prancis tidak hanya berfungsi sebagai juru gedor. Giroud memberikan dimensi serangan lain di timnas Prancis. Dalam turnamen seperti Piala Dunia dengan sistem gugur, efektivitas mencetak gol ditambah dengan kekuatan bertahan menjadi kunci.

Dengan disiplinnya pertahanan Prancis yang digalang Varane dan Umititi, PR Prancis ada di lini serang. Di pertandingan pertama menghadapi Australia membuktikan absennya Giroud membuat serangan Prancis sangat mono-dimensional. Deschamps memainkan trio Dembele-Griezmann-Mbappe. Prancis mendominasi namun kesulitan memecah kebuntuan karena permainan bola-bola bawah yang terbaca hingga sulitnya Prancis memenangi duel udara di kotak penalti Australia.

Prancis kemudian mencetak gol di awal babak kedua sebelum disamakan Mile Jedinak. Deschamps yang melihat kebuntuan tersebut, memasukkan Giroud menggantikan Griezmann pada menit ke-70. Kebuntuan langsung cair, dimensi serangan lewat umpan silang berhasil dilakukan dengan adanya Giroud di lapangan terbantu dengan tinggi 193 cm, Giroud benar-benar memberi tekanan kepada pemain belakang Australia, Prancis menambah satu gol lewat bunuh diri Aziz Behich pada menit ke-81.

Setelahnya Giroud rutin mengisi starting line-up. Statistik menunjukkan bagaimana Giroud membantu Prancis dalam duel-duel yang krusial. Giroud mencatatkan 6,3 duel per pertandingan dengan 3,4 di antaranya suskes. Giroud hanya kalah oleh Raphael Varane yang mencatatkan 3,9 duel sukses per pertandingan selama Piala Dunia 2018 ini.

Giroud juga tidak lupa membantu pertahanan. Ia memang tidak memiliki stamina untuk berlari untuk mengejar bola, namun tidak segan memberi ruang bagi rekan setimnya melakukan transisi untuk bertahan lewat tekel ataupun duel ketika Prancis kehilangan bola.

Sebanyak 1,3 tekel, 2 intercept, 2 pelanggaran, dan 1,4 sapuan per pertandingan, membuktikan peran Giroud dalam membantu pertahanan. Giroud sangat membantu Prancis untuk memberikan waktu kepada Pogba, Pavard, dan Lucas Hernandez, untuk turun setelah mencoba menusuk ke jantung pertahanan lawan.

Bukan Soal Individu

Giroud pun memahami perannya. Ia lebih memilih membahas pencapaian tim disbanding performa individunya.

“Ketika Anda seorang striker seperti saya, Anda selalu bermain untuk rekan satu tim,” kata Giroud. “Jelas saya lebih suka memiliki peluang dan mencetak gol tetapi, jika saya bisa memberi ruang bagi yang lain, saya selalu mencoba untuk memilih opsi terbaik untuk tim.

“Itu yang utama. Ketika Prancis juara dunia pada 1998 saya pikir [Christophe] Dugarry mencetak satu gol dan [Stéphane] Guivarc’h tidak sama sekali. Jika kami adalah juara dunia tanpa menilai baik saya, saya tidak keberatan. Artinya, jika saya di lapangan, Manajer berpikir saya dapat membantu tim. Saya memiliki cara saya untuk bermain. ” ungkap Giroud di The Guardian.

Tanggapan ini muncul setelah Giroud dicerca karena tidak melakukan satupun shoots on target di Piala Dunia kali ini.

Deschamps pun mengamini apa yang diutarakan Giroud, “Memang benar dia tidak mencetak gol. Tetapi dia penting di tim kami dan untuk gaya permainan kami. Dalam pertandingan (menghadapi Argentina) dia membuat asis untuk Mbappé dan kami membutuhkan permainan pendukung semacam ini.”

“Dia selalu memiliki peran penting bagi kami. Jika dia bisa mencetak gol, itu pasti bagus, karena seorang striker selalu suka mencetak gol. Tapi Olivier Giroud selalu sangat murah hati dan dia tidak mengeluh ketika harus bekerja keras.”

“Dia mungkin tidak memiliki gaya flamboyan seperti pemain lain tetapi tim membutuhkannya di setiap pertandingan. Bahkan jika dia tidak mencetak gol, dia berguna dalam serangan tetapi juga karena permainannya di udara, dan dalam pertahanan (situasi bola mati). Dia melakukan banyak hal agar permainannya seimbang. Ini adalah pemain di sekelilingnya yang mendapat manfaat dari kehadirannya karena dia menarik banyak perhatian dari para pemain bertahan,” ujar Deschamps di ESPN.

Dengan segala kritikan yang hadir, Giroud mampu menjawabnya tidak hanya dalam data statistik namun juga dengan gelar juara dunia. Jadi masihkan meragukan peran Giroud di Piala Dunia kali ini?