OUR NETWORK

Tiga Poin Pertama dan Satu-Satunya

Tendangan gawang dari Stephen Bywater berbelok arah karena sentuhan rekan setimnya dan jatuh tepat di kaki Kenny Miller yang berada di depan kotak penalti Newcastle United. Tanpa kontrol, pemain asal Skotlandia ini langsung menendang bola yang tidak bisa dijangkau Steve Harper. Sontak, Pride Park langsung bergemuruh dengan gol tersebut.

Sorakan pendukung Derby County semakin kencang ketika gol Miller menjadi satu-satunya gol yang tercipta sehingga Derby berhasil mengakhiri pertandingan dengan membawa pulang tiga poin. Kemenangan pada tanggal 17 September 2007 tersebut terasa spesial bagi anak asuh Billy Davies. Inilah tiga poin pertama The Rams pada ajang Premier League setelah terakhir kali mereka meraihnya pada 16 Maret 2002.

“Kami bangkit dan berlari. Kami bekerja keras untuk mendapatkan tiga poin ini. Mudah-mudahan kami bisa melanjutkannya. Kami berhasil mengendalikan permainan dan peluang yang kami ciptakan adalah peluang-peluang kelas satu. Saya senang dengan para pemain dan mereka bisa mendapatkan banyak sekali rasa percaya diri dari kemenangan ini,” ujar Davies setelah pertandingan.

Davies ingin sekali para pemainnya bisa kembali bangkit dengan tiga poin ini. Hal ini tidak lepas dari empat kekalahan yang mereka alami sebelumnya. Musim 2007/2008 menjadi musim kembalinya Derby ke Premier League setelah penantian selama lima musim. Sayangnya, mereka mengawalinya dengan kurang baik. Bahkan sebelum melawan Newcastle, mereka menerima kekalahan telak dari Tottenham Hotspur (0-4), Birmingham City (1-5), dan Liverpool (0-6).

Yang menarik, kekalahan dari Liverpool saat itu masih disyukuri oleh Craig Fagan. Setidaknya, mereka hanya kalah 0-6 mengingat Liverpool membuat banyak sekali peluang. Andai peluang yang hilang tersebut menghasilkan gol, maka bukan tidak mungkin Derby akan menelan kekalahan 10 atau bahkan 12-0. Namun pada 17 September saat itu mereka mensyukuri hadirnya kemenangan. “Musim kami baru saja dimulai,” kata Ryan Smith.

Alih-alih kepercayaan diri yang bangkit, tiga poin itu ternyata justru membawa Derby semakin dalam ke jurang keterpurukan. Tiga poin melawan Newcastle menjadi satu-satunya kemenangan yang diraih Derby sepanjang musim 2007/2008. Sisanya, Derby selalu berantakan ketika bertemu lawan-lawannya. Dalam 32 pertandingan, Derby hanya mendapat 7 poin, dari 96 poin yang bisa diraih, hasil dari tujuh kali bermain imbang dan 25 kekalahan. 29 Maret 2008 menjadi akhir perjalanan Derby karena saat itu mereka dipastikan untuk kembali turun ke divisi Championship.

Selama satu musim, Derby hanya mendapat 11 poin dan finis pada urutan terakhir. Enam laga terakhir sejak dipastikan terdegradasi, mereka juga menderita kekalahan. Alih-alih membawa kebanggaan, mereka justru pulang dengan segala rekor buruk seperti kemenangan tersedikit (1), kemenangan kandang tersedikit (1), tidak pernah meraih kemenangan tandang, rekor tanpa kemenangan terpanjang (32 pertandingan), rekor mencetak gol paling sedikit (20 gol), kebobolan terbanyak satu musim (89), kebobolan terbanyak di kandang (43), mencetak gol paling sedikit di laga tandang (8), dan jumlah poin paling sedikit (11). Sebuah catatan yang membawa mereka mendapat predikat sebagai tim terburuk yang pernah ada di Premier League.

Musim 2007/2008 memang menjadi salah satu musim yang ingin dilupakan oleh penggemar Derby. Masalah yang mereka alami tidak hanya sebatas penampilan di lapangan. Di luar lapangan, kondisi Derby juga tidak terlalu baik. Mereka memiliki masalah keuangan sehingga tidak bisa membeli pemain dengan efektif. Bahkan ada perbedaan bonus yang didapat ketika promosi sehingga timbul kecemburuan satu sama lain. Mereka juga mengalami pergantian pemilik di tengah-tengah kompetisi yang diikuti dengan pergantian manajer. Namun, tetap saja hal itu tidak membawa perubahan.

“Sebuah langkah terburuk yang pernah saya lakukan. Ketika saya dikaitkan dengan pekerjaan tersebut, manajer Everton (David Moyes) berkata kepada saya untuk jangan mengambilnya. Lalu, mereka mengalahkan Derby dengan skor 2-0 dan sejak saat itu saya melihat kalau itu adalah tim terburuk yang pernah saya lihat,” kata Paul Jewell yang menggantikan Davies pada bulan November.

Sejak saat itu, Derby belum pernah lagi promosi ke Premier League. Padahal, mereka memiliki empat kesempatan setelah sukses finis di zona play off. Pada 2014, mereka kalah 1-0 dari QPR pada laga final. Dua musim kemudian, giliran Hull yang menyingkirkan mereka pada babak semifinal. Fulham kemudian mengalahkan mereka pada fase yang sama pada 2018. Terakhir, giliran Aston Villa yang mengalahkan mereka pada final play-off 2019 atau ketika Derby dilatih oleh legenda Chelsea, Frank Lampard.

Loading...